Siapa yang Sebenarnya Cupu?


Cupu, kependekan dari culun punya, merupakan sebuah bahasa gaul yang entah kapan petama kali saya dengar karena seingat saya tidak ada kata semacam itu ketika saya masih kecil.

Tapi apa yang disebut cupu itu sebenarnya?

Apakah yang seperti ini?

atau yang seperti ini?

Pada awalnya cupu merupakan sebutan untuk orang-orang yang berpenampilan “konservatif” atau jadul alias lawas dsb. Misalnya ketika sesorang memakai kacamata tebal, berkawat gigi, tidak ahli berdandan akan otomatis menjadi bahan olokan bagi teman-temannya yang lain. Lama kelamaan kata cupu mulai “berkembang” dalam artian mulai banyak definisi-definisi lain yang menuju pada kata tersebut. Saya cukup sering mendengar istilah itu dimana-mana, terkadang saya risih juga mendengarnya.

Beberapa contoh antara lain, dalam dunia gamers, orang yang belum mahir disebut cupu, di dunia kemahasiswaan, orang-orang yang pandai berorasi dan aktif di kampus dianggap hebat, sementara mereka yang kebanyakan berkutat dengan buku atau komputer dianggap cupu, dan di dunia orang-orang hedonis, mereka yang masih memegang teguh prinsipnya dianggap cupu. Dari dua contoh terakhir bisa kita lihat bahwa orang-orang yang memiliki cara pandang seperti itu hanyalah orang-orang yang merasa dirinya hebat dan merendahkan orang yang tidak memiliki kebiasaan sama dengannya. Padahal dibalik semua anggapan itu, justru kebanyakan dari mereka sebenarnya tidak lebih baik dari orang yang sering mereka olok-olok.

Tidakkah kita malu mengata-ngatai seorang mahasiswa yang kelihatannya kebanyakan waktunya dihabiskan bersama buku pelajaran atau komputer ketika akhirnya kita mengetahui bahwa mereka bisa menghasilkan banyak hal dengan aktifitasnya itu, ketika seorang “kutu buku” bisa menghasilkan penemuan-penemuan baru yang berguna untuk masyarakat, atau ketika si “computer freak” itu banyak menciptakan teknologi-teknologi yang memberi banyak manfaat untuk kehidupan banyak orang. Bukankah seharusnya kita mengolok-olok diri sendiri ketika kita tahu bahwa orang yang kita kata-katai itu jauh lebih baik dari kita.

Karena itu kawan-kawan, tidak seharusnya kita menganggap remeh apalagi merendahkan orang-orang yang mungkin sedikit berbeda dengan kita. Tidak sepantasnya kita mengolok-olok orang lain karena penampilan fisik, atau sikap dan perbuatannya yang tidak seperti kebanyakan orang, karena kebaikan seseorang tidak dinilai dari sifat-sifat semacam itu, tetapi dilihat dari seberapa besar dia mampu membawa manfaat untuk lingkungan sekitarnya.

Advertisements

2 thoughts on “Siapa yang Sebenarnya Cupu?

  1. elandi

    seorang dosen favoritku pernah bilang gini di kelas, “sekarang sudah ga jaman penampilan itu menggambarkan keahlian seseorang. anak berkacamata tebal dan suka membaca buku bukan berarti dia tidak handal bermain sepak bola atau berenang. seorang yg aktif di keorganisasian tidak berarti dia lemah di bangku kuliah. sekarang semuanya bisa berjalan berimbang. organisasi oke. kuliah oke.”
    kamu mesti ketemu sama dosenku yg satu ini ky! he’s a great lecturer!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s