Monthly Archives: December 2010

Smanti Informasi Pendidikan (SIP)


Smanti Informasi Pendidikan????

nama yang agak aneh memang kedengarannya (harusnya Informasi Pendidikan Smanti bukan sih???), yah tapi apa lah arti sebuah nama, yang penting makna yang terkandung didalamnya.

Jadi apakah gerangan SIP itu?

SIP adalah sebuah acara yang diselenggarakan di SMAN 3 Malang yang berupa pengenalan universitas-universitas kepada adik-adik terutama yang duduk dikelas XII untuk memberi sedikit “pencerahan” soal kemana mereka akan melanjutkan “hidup” nya setelah lulus dari SMAN 3 Malang tercinta. Acara ini diselenggarakan pertama kali sekitar tiga tahun yang lalu atas inisiatif dari mas Syafiq (EL ITB 07).

Pada cara tersebut, pihak sekolah tidak secara langsung mengundang pihak universitas untuk datang dan memberikan informasi mengenai universitasnya masing-masing, tetapi lebih mengandalkan alumni-alumninya yang dibanggakan dan sudah tersebar di penjuru Indonesia bahkan dunia.

Saya dan teman-teman IKASMARIAGITMA (Ikatan Alumni SMA Negeri “AGIT” Malang) Bandung cabang ITB juga tidak mau ketinggalan untuk ikut berpartisipasi mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara ini. Untuk tahun ini, cukuplah mengambil peran sebagai pembimbing bagi adik-adik angkatan 2010 yang memang mendapat “jatah” untuk mempersiapkan presentasi dari ITB. Saya menyaksikan sendiri bagaimana kerasnya usaha teman-teman dan adik-adik saya dalam mengumpulkan informasi, membuat presentasi, rapat berkali-kali dsb.

Untuk tahun ini, kami alumni Smanti di ITB membawa slogan “Jangan Takut Memeluk Gajah”.


Bagi teman-teman yang sudah lama mengalami, atau belum setahun yang lalu mengalami, atau bahkan mungkin yang sekarang masih mengalaminya pasti tahu bagaimana perasaan sebagai siswa kelas 3 SMA, bisa dibilang sejuta rasanya lah. Pertama, kita akan menghadapi pertaruhan hidup mati dalam UAN, UN, atau apa lah namanya yang mau tidak mau membuat makhluk jenis apapun, dari yang suka membolos sampai yang menangis ketika terpaksa tidak masuk sekolah, menjadi lebih rajin belajar untuk lulus. Kedua, kita dihadapkan pada posisi dimana kita harus menetapkan pilihan mau dikemanakan arah hidup kita setelah nantinya Insya Allah lulus SMA.

Mari kita fokus ke perihal kedua, akan coba saya gambarkan bagaimana kondisi seorang siswa kelas 3 SMA dalam posisi tersebut (silakan bagi yang ingin menambahkan karena merasa yang dialaminya lebih tragis lagi, tuliskan di bagian komentar). Diawali dari menetapkan pilihan, masalah pertama, seorang anak SMA yang sudah harus memilih “jalan” yang menuntun arah hidup mereka nantinya bisa dibilang kebanyakan masih dalam masa labil-labilnya (maaf ya buat yang masih SMA, no offense, saya juga pernah mengalami masa-masa seperti itu). Dalam kondisi tersebut banyak faktor yang menjadi pertimbangan dalam memilih, yang pertama tentu saja minat. Muncul lah masalah kedua, semasa SMA kita terbiasa mengerjakan berbagai bidang sekaligus, syukur-syukur jika diantara banyak bidang tersebut kita berhasil menemukan minat kita dimana, tapi ada juga yang mungkin menyukai banyak bidang, atau mungkin malah tidak menyukai semua bidang yang berujung pada susahnya menentukan pilihan. Masalah berikutnya, dalam kondisi harus menentukan pilihan, teman bisa menjadi masalah dalam kondisi seperti ini, walau mungkin mereka tidak melakukan satu hal jahat pun pada kita. Dalam kondisi mental yang kalut, ketika teman-teman yang lain sudah menentukan pilihan yang mereka bangga-banggakan tanpa sadar muncul perasaan untuk tidak mau kalah dengan mereka sehingga tidak sedikit yang akhirnya memilih karena ikut-ikutan atau memilih karena gengsi pada teman-temannya. Masalah besar lagi tentu saja soal restu orang tua, yang kemudian bisa merembet ke masalah biaya. Banyak kasus juga ketika seorang anak mempunyai pilihan ingin melanjutkan pendidikannya ke universitas atau jurusan tertentu terkendala karena tidak adanya ijin dari orang tua. Banyak alasan yang mendasari “ketakutan” para orang tua itu ketika tidak mengijinkan anaknya mengambil pilihan tertentu, misalnya universitas yang dipilih anaknya terlalu jauh atau jurusan yang dipilih anaknya terlihat kurang populer sehingga dianggap tidak berprospek, atau bisa jadi sampai ke masalah biaya sehingga anaknya terpaksa tidak bisa melanjutkan ke universitas atau jurusan yang diinginkannya atau bahkan bisa jadi tidak bisa melanjutkan ke bangku kuliah sama sekali.

Tapi tentunya walaupun ada sekian banyak masalah, yang saya yakin masih banyak lagi masalah yang belum disebutkan, kita harus yakin bahwa Allah SWT menciptakan masalah untuk kita mencari solusinya. Soal pilihan ini memang urusan yang sangat berat, tetapi bagi saya, ketika harus memutuskan atau menjatuhkan pilihan yang nantinya akan menentukan jalan hidup kita, sebagai manusia yang mulai dewasa harus mampu menentukan pilihan sendiri, memang sangat perlu ada saran dan nasihat dari orang tua, teman-teman, saudara, atau pihak-pihak lain, tapi tetap saja kita sendiri lah yang harus mengambil keputusan atas arah hidup kita. Coba bayangkan ketika pilihan yang kita jatuhkan didasari ikut-ikutan teman, apakah ketika kita gagal mereka yang akan bertanggung jawab? Tentu tidak, karena itulah kita harus mampu menentukan pilihan-pilihan sendiri dalam hidup dan tentunya bertanggung jawab atas pilihan yang diambil. Ketika misalnya apa yang kita inginkan itu tampak susah dicapai, ingatlah bahwa impian memang harus setinggi langit, dan langit itu yang tinggi itu bisa dicapai. Ketika kita sudah menetapkan sebuah tujuan yang tinggi, kita harus bertanggung jawab atas pilihan tersebut dengan rela jatuh bangun dan dengan ikhlas berjuang lebih keras dari orang lain. Mari mencoba untuk live our life dengan impian dan harapan-harapan yang tinggi dalam hidup kita. Jauh??Biaya?? Sudah banyak pihak-pihak yang menyediakan beasiswa disana-sini, mau dari pihak kampus ataupun pihak swasta yang saya tahu itu cukup melimpah, tapi tetap berlaku yang berusaha yang menuai hasilnya, jika kita mau sedikit saja menyempatkan waktu mencari informasi, banyak beasiswa yang bahkan setahu saya sampai banyak yang masih sisa dari yang dialokasikan diawal.

Seringkali memang kita harus mengambil sebuah pilihan yang “berani” dalam hidup kita demi sesuatu yang lebih baik tentunya, demi impian dan visi hidup kita. Untuk adik-adikku SMAN 3 Malng, sesuai dengan slogan kami pada gambar di atas “Jangan Takut Memeluk Gajah”, memilih lah dengan hati, mau setinggi apapun impian itu, mau ITB atau universitas manapun yang sesuai impian kalian masing-masing, perjuangkan sampai titik darah penghabisan. Impian itu terlalu berharga untuk dikorbankan.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk teman-teman, feel free to leave a comment, saya tidak keberatan jika memang ada kritik dan saran dari teman-teman semua.


Advertisements

Road to Creativity (Bag. I)


Halo teman-teman.

Bersama tulisan ini saya ingin menyampaikan sebuah kabar gembira, dua hari lagi (jadi hari Senin 27 Desember 2010 karena kehabisan tiket T.T) saya akan pulang kampung ke kota Malang tercinta.

Menghadapi liburan kali ini saya sudah menyiapkan rencana-rencana untuk mengisi liburan agar lebih bermanfaat dan tidak hanya sekedar ‘nyampah’ dengan menghabiskan waktu nge-game atau tidur seharian.

Salah satu program yang ingin saya lakukan selama liburan ini adalah program mengasah kreativitas, jadi saya tidak mengatakan bahwa yang saya tulis disini adalah tips dan trik untuk membuat orang menjadi kreatif, tetapi adalah tips dan trik yang masih ingin saya buktikan kebenarannya, silakan kalo teman-teman ingin mencobanya juga, semoga kita berhasil.

1. Yakinlah bahwa kita adalah orang yang kreatif

Hal pertama yang harus dilakukan setiap kita akan menjalani atau melakukan sesuatu, yakin pada diri sendiri. Kita bisa melakukan apapun selama kita percaya kita bisa.

2. Rajin jalan-jalan ke tempat baru

Ini adalah salah satu trik menjadi kreatif yang sangat saya suka, coba habiskan waktu liburan dengan berjalan-jalan ke tempat baru, karena jika kita hanya bermalas-malasan dan berdiam diri di rumah, yang sedang kita lakukan bukan Creativity Gain yang ada malah Weight Gain.hehehe

3. Membaca buku dan belajar hal-hal baru

Beberapa buku sudah saya siapkan untuk dibaca selama liburan, diantaranya buku tentang Leadership, Creativity, dan beberapa buku tentang Web Design. Selain itu, saya juga ingin belajar beberapa masakan baru dari mama tercinta.(maklum anak perantauan harus bisa masak)

Untuk sementara tiga poin itu dulu untuk liburan kali ini, semoga kita bisa mengisi liburan kali ini dengan hal-hal yang bermanfaat dan setelah liburan selesai kita menjadi orang yang lebih baik dan produktif.

Sekian dulu tips dan trik yang ingin saya lakukan, nantikan bagian selanjutnya.

🙂

Millenium Development Goals,Sasaran atau Sekedar Wacana?


Halo teman-temanku yang baik hatinya,

pernahkah kalian mendengar istilah Millenium Development Goals atau biasanya disingkat MDGs ?

Saya ceritakan dulu kronologisnya secara singkat.

Pada September 2000, perwakilan dari sekitar 190 negara di dunia, termasuk Indonesia, berkumpul untuk menghadiri Millenium Summit. Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah United Nations Millenium Declaration yang diadopsi oleh 189 negara dan ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara. Deklarasi tersebut berisi komitmen yang dituangkan dalam delapan poin yang kemudian disebut Millenium Development Goals.

Berikut delapan sasaran yang merupakan MDGs :

Goal 1 : Eradicate Extreme Poverty and Hungers (Mengentaskan Kemiskinan dan Kelaparan yang Ekstrem)

Goal 2 : Achieve Universal Primary Education (Pemerataan Pendidikan Dasar)

Goal 3 : Promote Gender Equality and Empower Woman (Mendukung Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan)

Goal 4 : Reduce Child Mortality Rate (Mengurangi Angka Kematian Anak)

Goal 5 : Improve Maternal Health (Meningkatkan Kesehatan Ibu)

Goal 6 : Combat HIV/AIDS, Malaria, and Other Diseases (Melawan HIV/AIDS, Malaria, dan Penyakit Lain)

Goal 7 : Ensure Environmental Sustainability (Menjamin Keberlangsungan Lingkungan Hidup)

Goal 8 : Develop A Global Partnership for Development (Mengembangkan Kemitraan Global untuk Pembangunan)

Mungkin saya tidak akan membahas satu persatu mengenai setiap goal dalam MDGs tersebut, tetapi yang ingin saya bahas adalah sudah sejauh mana Indonesia, yang juga termasuk salah satu negara yang ikut membuat komitmen tersebut, sudah menjalankan sasaran bersama ini.

Kembali ke pertanyaan saya yang paling awal, mungkin tidak sedikit juga teman-teman yang belum tahu benar apa itu MDGs, atau mungkin belum pernah mendengar sama sekali bahkan. Jawaban yang sama juga banyak saya peroleh ketika saya menanyakan ke beberapa teman soal ini. Kalau dipikir-pikir, MDGs adalah sebuah tujuan besar yang juga diadopsi oleh negara kita tercinta yang seharusnya sudah tercapai lima tahun lagi, tetapi mengapa banyak yang belum tahu soal isu ini, bahkan dari kalangan mahasiswa saja yang seharusnya cukup up to date dengan isu-isu terbaru juga banyak yang tidak tahu soal ini. Menurut saya ini bukan sepenuhnya salah mereka yang wawasannya kurang atau bagaimana, akan tetapi juga disebabkan kurangnya sosialisasi mengenai program ini, sehingga mungkin hanya kalangan tertentu saja yang mengetahui isu ini. Bukan tanpa usaha memang, tapi usaha yang dilakukan kurang melibatkan masyarakat secara umum sebagai subjeknya. Hal-hal tersebut membuat pemerintah Indonesia terkesan tidak sungguh-sungguh menjalankannya sehingga banyak pihak yang meragukan ketercapaiannya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa MDGs ini adalah sebuah tujuan besar yang sudah diadopsi hampir semua negara dunia yang tentunya menuntut kesungguhan dari semua pihak, termasuk pemerintah Indonesia. Untuk mencapai delapan tujuan tersebut menurut saya mutlak diperlukan kontribusi dari seluruh elemen masyarakat Indonesia, bukan hanya kalangan tertentu di pemerintahan. Belum terlambat menurut saya jika mulai sekarang kita mulai menanggapi hal ini dengan sungguh-sungguh, harapan saya pemerintah mulai mensosialisasikan hal ini dengan lebih gencar, tidak hanya itu, kita sebagai generasi muda, calon-calon pemimpin bangsa dimasa depan, juga harus mulai berusaha mendukung tercapainya tujuan-tujuan mulia yang tertuang dalam MDGs ini, demi generasi muda yang lebih baik, untuk bangsa Indonesia yang lebih baik.