Monthly Archives: December 2011

Asal Usul Visi #satuHMIF


Tulisan ini berisi tentang latar belakang dan penjelasan mengenai visi yang saya bawa sebagai calon ketua HMIF ITB. Silakan disimak…

Himpunan Mahasiswa Informatika ITB, dengan usianya yang relatif muda bisa dibilang masih dalam tahapan berkembang menemukan bentuk terbaiknya. Dari cerita beberapa teman, senior, “sesepuh” himpunan, dan pengalaman saya sendiri di HMIF sejak sekitar satu setengah tahun yang lalu cukup tergambar bahwa HMIF mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Khususnya dalam dua tahun terakhir, Filman Ferdian sebagai ketua himpunan periode 2010-2011 cukup mampu membangun fondasi yang kokoh bagi bangunan HMIF dengan melakukan perombakan struktur dan budaya yang ada di HMIF. Lyco Adhy Purwoko sebagai ketua berikutnya dengan visi progresifnya telah membawa warna baru dalam bidang keprofesian, sebuah budaya baru yang mengembalikan jati diri HMIF sebagai Himpunan Mahasiswa Informatika yang berasaskan keprofesian. Dapat diibaratkan bahwa kepengurusan Lyco menambahkan sebuah pilar diatas fondasi yang sudah dibangun sebelumnya, pilar tersebut adalah keprofesian.

Mundur sedikit ke belakang jika kita coba mempertanyakan untuk apa sebenarnya HMIF atau himpunan lain di ITB ini didirikan? Tidak lain adalah sebagai wadah aktualisasi diri bagi anggotanya untuk memenuhi amanah yang tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Himpunan sebagai salah satu wadah bagi mahasiswa ITB, khususnya prodi Teknik Informatika dan Sistem dan Teknologi Informasi, untuk mengembangkan diri sehingga ketika lulus nanti mampu menjadi lulusan yang memenuhi ketiga poin Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut atau biasa disebut sebagai sarjana seutuhnya. Jika dibandingkan dengan perkembangan kondisi HMIF sampai sekarang, dengan fondasi yang sudah terbangun, dengan pilar pendidikan yang semakin berkembang dari tahun ke tahun, dan pilar keprofesian yang mulai berdiri, masih ada satu pilar lagi yang harus dibangun yaitu pilar pengabdian masyarakat. Poin ketiga dari Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut memang kurang mendapat perhatian dalam perkembangan HMIF akhir-akhir ini sehingga berangkat dari hal tersebut kami membawa harapan HMIF yang mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat dan anggota-anggotanya yang mampu memberi manfaat bagi masyarakat, keluarga, atau bahkan teman-teman terdekat dalam satu himpunan yang dirangkum dalam satu kata kontributif.

Sebuah fenomena unik terjadi ketika mahasiswa Teknik Informatika dan Sistem dan Teknologi Informasi ITB bingung ketika ditanya kontribusi apa yang bisa diberikan oleh seorang mahasiswa informatika? Salah satu jawaban yang paling nyata tentu saja karya. “With great power comes great responsibility”. Sebagai mahasiswa informatika dari institut terbaik bangsa, wajar jika karya kita sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Untuk menjawab harapan tersebut tentunya diperlukan karya-karya mahasiswa informatika ITB yang tidak hanya inovatif tetapi juga memberi manfaat untuk orang lain, atau dengan kata lain dibutuhkan karakter kreatif dalam HMIF baik secara individu anggotanya maupun himpunan secara keseluruhan. Dalam proses menuju kreasi untuk kontribusi tersebut, tentu saja harus diawali dengan pembentukan karakter yang saling membangun, tidak hanya melalui kaderisasi secara formal dari HMIF untuk anggotanya, tetapi juga kaderisasi secara informal ketika antaranggota dapat saling berbagi ide, ilmu, dan pembelajaran lainnya yang dapat diwakili oleh sebuah kata konstruktif. Didapatlah sebuah tujuan yaitu HMIF yang konstruktif, kreatif, dan kontributif.

Tujuan tersebut ternyata belum cukup menjawab kondisi HMIF sekarang yang arah geraknya cenderung terbagi ke beberapa bagian dan terpisah ke banyak arah. Struktur yang ada semisal divisi, angkatan, atau lembaga seolah memunculkan batas antaranggota divisi satu dengan divisi yang lain, angkatan satu dengan lainnya, dan sebagainya. Hal tersebut berakibat pada kurang terselurkannya minat dan kerja keras anggota HMIF untuk berkontribusi bagi himpunannya karena kontribusi yang diberikan mungkin cukup memajukan divisinya, angkatannya, atau lembaganya tetapi belum memajukan HMIF secara keseluruhan. Akar dari permasalahan tersebut adalah kurang adanya perasaan satu tujuan untuk HMIF atau mungkin kurang adanya penekanan pada hal tersebut. Untuk menjawab permasalahan tersebut dimasukkan lah kata ‘Satu’ yang mewakili cara untuk menjalani proses mencapai tujuan yaitu dengan bergerak secara satu HMIF walaupun dengan perannya masing-masing, singkatnya “think globally act locally”. Kata Satu ini akhirnya melengkapi visi yang kami bawa menjadi “Satu HMIF yang konstruktif, kreatif, dan kontributif.”

SATU pembelajaran, SATU kreasi, SATU kontribusi

#satuHMIF

 

Yudha Okky Pratama

13509005

 

Prelude #satuHMIF


Halo teman-teman semua, sudah sebulan lebih sejak tulisan terakhir saya, akhirnya Okky kembali dengan cerita baru yang cukup menyita waktu dan pikiran akhir-akhir ini, mungkin ini juga sebabnya jadi kekurangan waktu untuk menulis disini. Ini sengaja saya tulis, terlepas dari bagaimanapun jadinya nanti, pasti akan jadi satu memori penting dalam hidup saya. Mari kita simak sebentar…

Jadi langsung saya sampaikan saja inti ceritanya adalah tentang saya yang Insya Allah sekarang sedang menjadi Calon Ketua Himpunan Mahasiswa Informatika (HMIF) ITB untuk periode 2012-2013. Bagi teman-teman yang belum tahu, HMIF ITB adalah organisasi mahasiswa yang anggotanya terdiri mahasiswa program studi Sistem dan Teknologi Informasi dan Teknik Informatika di ITB. Fakta menarik bahwa sebenarnya kami, anggotanya, lebih memandang HMIF sebagai sebuah keluarga daripada sebuah organisasi. Singkatnya, HMIF ini menjadi wadah bagi anggotanya untuk belajar berorganisasi (atau berkeluarga.hehe) dan berkegiatan kemahasiswaan seperti pengabdian masyarakat, pendidikan karakter, dan keprofesian yang melatih softskill dan penerapan keilmuan yang tidak sekedar teoretis sebagai pelengkap ilmu yang didapat di bangku perkuliahan.

Sekitar satu setengah tahun sudah saya menjalani manis pahit kehidupan di ITB termasuk salah satunya di HMIF ITB, dimana saya paling banyak menghabiskan waktu disana. Selama menjalani momen demi momen di HMIF, ada yang hanya sebagai penonton, peserta, atau eksekutor langsung, saya yang Alhamdulillah diberi petunjuk berupa pemikiran kritis (walaupun kadang ini bisa jadi kekurangan), keinginan untuk memberikan sesuatu yang tidak biasa, dan ide yang banyak selama keberjalanan menghasilkan cukup banyak evaluasi dari saya sendiri. Evaluasi tersebut kadang saya utarakan langsung dalam sebuah forum, atau didiskusikan bersama teman-teman terdekat, atau bahkan mungkin saya pikirkan sendiri, seringkali jadi bergumam dalam hati, “wah ini bakal lebih keren kalo begini…, ini bisa lebih luar biasa hasilnya kalo dibegitukan…, kalo bikin itu bagus kali ya…” dan masih banyak lainnya. Dari ide-ide random itu lama kelamaan semacam tersusun sendiri di kepala menjadi harapan-harapan tentang keluarga HMIF yang tidak sekedar lebih baik, tapi yang awesome dan bisa dibanggakan tentunya.

Perlu teman-teman tahu bahwa sebenarnya saya memiliki keinginan atau cita-cita yang tidak lazim dimiliki seorang mahasiswa informatika pada umumnya, apalagi dari ITB yang seharusnya kata orang cukup membawa nama kampus saja peluang kerja sudah terbuka lebar dan kehidupan yang sejahtera sudah menanti. Ya, beberapa teman dekat saya mungkin sudah tahu kalau sebenarnya saya bercita-cita menjadi seorang pengusaha, saya telah memilih jalan itu dan saya ingin memulainya sebelum saya lulus dari kampus Ganesha tercinta ini, perlu saya tegaskan bahwa saya sangat serius dengan hal ini. Sesekali saya sempat berfikir soal benar atau tidaknya cita-cita saya ini karena pada umumnya bukan ini yang seharusnya saya cita-citakan, karena itulah saya bertekad untuk segera melakukan pembuktian, bukan pada orang lain, tapi pada diri saya sendiri bahwa keputusan saya tepat, saya bisa menjalaninya.

Kembali ke kehidupan HMIF. Selama saya berkegiatan di HMIF, pada saat-saat tertentu beberapa kali ada celetukan-celetukan dari beberapa teman yang meminta saya untuk maju menjadi kahim (ketua himpunan) yang tidak terlalu saya pikirkan. Kemudian sampai lah saat-saat menjelang akhir kepengurusan periode 2011-2012, suasana di HMIF sudah mulai ada gejolak-gejolak untuk pergantian kepengurusan. Ketua panitia pemilu terpilih, jajaran panitia terbentuk, makin banyak juga teman-teman yang meminta saya, ada yang berkata “Jadi kahim sana”, ada juga yang bilang “Gue dukung lo ntar, gampang lah”. Beberapa terlihat bercanda, tapi ada juga yang serius. Walaupun begitu, saya jawab “Tidak, no, enggak,….” Karena dengan satu paragraf alasan saya di atas membuat saya tidak terfikirkan sedikitpun untuk mengambil tanggung jawab sebagai ketua HMIF. Seiring berjalannya waktu, mulai ada perasaan galau mendekati dibukanya pendaftaran Bakal Calon Ketua Himpunan. Beberapa teman mulai terlihat serius meminta saya untuk maju, jadilah akhirnya saya mulai berpikir soal ini dan semakin dipikir semakin galau, hehehe.

Setiap ada waktu luang sedikit secara otomatis pikiran saya langsung mengarah kesana, tapi ya begitulah namanya galau, tidak ada solusi yang didapatkan. Kemudian sayapun mencoba mencari solusinya dengan berdoa mohon petunjuk dan coba berkonsultasi ke beberapa orang, teman-teman dekat, orang-orang yang lebih senior dan berpengalaman, dan tentu saja pastinya orang tua. Saya coba menyampaikan kondisi yang sedang saya alami waktu itu, adanya teman-teman yang berharap saya maju, ada modal visi walaupun masih random, saya sampaikan juga berbagai constraint yang dihadapi. Saran yang masuk pun bermacam-macam, ada yang bilang “ini masih tahap pembelajaran, jangan dipikir terlalu berat”, “kalo aku jadi kamu pasti udah maju”, “ikutin aja kata hatimu”. Yah, dengan berbagai saran yang masuk, walaupun sebagian besar condong mendukung saya untuk memutuskan maju, saya masih belum mantap saat itu, sampai akhirnya saya memutuskan kalau saran paling bijaksana untuk saat ini, sama seperti saat-saat sulit lainnya yang pernah saya hadapi, adalah saran orang tua. Lagipula memang Ridha Allah tergantung Ridha orang tua :). Akhirnya saya pun coba menelepon orang tua untuk mengutarakan soal ini, dan ternyata keputusan saya bertanya itu benar, jawaban yang diberikan pun tidak mengecewakan. Orang tua tidak secara langsung bilang “kamu maju saja” atau “kamu jangan maju” tapi “pilih jalan yang paling banyak manfaatnya”. Tanpa berpikir keras saya langsung tahu mana yang paling bermanfaat untuk saat ini, untuk diri sendiri, dan terutama untuk teman-teman saya di HMIF. Dengan mantap saya pun langsung ambil keputusan…

Bismillah… Okky ikhlas dan siap maju menjadi Ketua HMIF periode 2012-2013…

Mohon doanya dari teman-teman semua 🙂