Asal Usul Visi #satuHMIF


Tulisan ini berisi tentang latar belakang dan penjelasan mengenai visi yang saya bawa sebagai calon ketua HMIF ITB. Silakan disimak…

Himpunan Mahasiswa Informatika ITB, dengan usianya yang relatif muda bisa dibilang masih dalam tahapan berkembang menemukan bentuk terbaiknya. Dari cerita beberapa teman, senior, “sesepuh” himpunan, dan pengalaman saya sendiri di HMIF sejak sekitar satu setengah tahun yang lalu cukup tergambar bahwa HMIF mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Khususnya dalam dua tahun terakhir, Filman Ferdian sebagai ketua himpunan periode 2010-2011 cukup mampu membangun fondasi yang kokoh bagi bangunan HMIF dengan melakukan perombakan struktur dan budaya yang ada di HMIF. Lyco Adhy Purwoko sebagai ketua berikutnya dengan visi progresifnya telah membawa warna baru dalam bidang keprofesian, sebuah budaya baru yang mengembalikan jati diri HMIF sebagai Himpunan Mahasiswa Informatika yang berasaskan keprofesian. Dapat diibaratkan bahwa kepengurusan Lyco menambahkan sebuah pilar diatas fondasi yang sudah dibangun sebelumnya, pilar tersebut adalah keprofesian.

Mundur sedikit ke belakang jika kita coba mempertanyakan untuk apa sebenarnya HMIF atau himpunan lain di ITB ini didirikan? Tidak lain adalah sebagai wadah aktualisasi diri bagi anggotanya untuk memenuhi amanah yang tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Himpunan sebagai salah satu wadah bagi mahasiswa ITB, khususnya prodi Teknik Informatika dan Sistem dan Teknologi Informasi, untuk mengembangkan diri sehingga ketika lulus nanti mampu menjadi lulusan yang memenuhi ketiga poin Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut atau biasa disebut sebagai sarjana seutuhnya. Jika dibandingkan dengan perkembangan kondisi HMIF sampai sekarang, dengan fondasi yang sudah terbangun, dengan pilar pendidikan yang semakin berkembang dari tahun ke tahun, dan pilar keprofesian yang mulai berdiri, masih ada satu pilar lagi yang harus dibangun yaitu pilar pengabdian masyarakat. Poin ketiga dari Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut memang kurang mendapat perhatian dalam perkembangan HMIF akhir-akhir ini sehingga berangkat dari hal tersebut kami membawa harapan HMIF yang mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat dan anggota-anggotanya yang mampu memberi manfaat bagi masyarakat, keluarga, atau bahkan teman-teman terdekat dalam satu himpunan yang dirangkum dalam satu kata kontributif.

Sebuah fenomena unik terjadi ketika mahasiswa Teknik Informatika dan Sistem dan Teknologi Informasi ITB bingung ketika ditanya kontribusi apa yang bisa diberikan oleh seorang mahasiswa informatika? Salah satu jawaban yang paling nyata tentu saja karya. “With great power comes great responsibility”. Sebagai mahasiswa informatika dari institut terbaik bangsa, wajar jika karya kita sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Untuk menjawab harapan tersebut tentunya diperlukan karya-karya mahasiswa informatika ITB yang tidak hanya inovatif tetapi juga memberi manfaat untuk orang lain, atau dengan kata lain dibutuhkan karakter kreatif dalam HMIF baik secara individu anggotanya maupun himpunan secara keseluruhan. Dalam proses menuju kreasi untuk kontribusi tersebut, tentu saja harus diawali dengan pembentukan karakter yang saling membangun, tidak hanya melalui kaderisasi secara formal dari HMIF untuk anggotanya, tetapi juga kaderisasi secara informal ketika antaranggota dapat saling berbagi ide, ilmu, dan pembelajaran lainnya yang dapat diwakili oleh sebuah kata konstruktif. Didapatlah sebuah tujuan yaitu HMIF yang konstruktif, kreatif, dan kontributif.

Tujuan tersebut ternyata belum cukup menjawab kondisi HMIF sekarang yang arah geraknya cenderung terbagi ke beberapa bagian dan terpisah ke banyak arah. Struktur yang ada semisal divisi, angkatan, atau lembaga seolah memunculkan batas antaranggota divisi satu dengan divisi yang lain, angkatan satu dengan lainnya, dan sebagainya. Hal tersebut berakibat pada kurang terselurkannya minat dan kerja keras anggota HMIF untuk berkontribusi bagi himpunannya karena kontribusi yang diberikan mungkin cukup memajukan divisinya, angkatannya, atau lembaganya tetapi belum memajukan HMIF secara keseluruhan. Akar dari permasalahan tersebut adalah kurang adanya perasaan satu tujuan untuk HMIF atau mungkin kurang adanya penekanan pada hal tersebut. Untuk menjawab permasalahan tersebut dimasukkan lah kata ‘Satu’ yang mewakili cara untuk menjalani proses mencapai tujuan yaitu dengan bergerak secara satu HMIF walaupun dengan perannya masing-masing, singkatnya “think globally act locally”. Kata Satu ini akhirnya melengkapi visi yang kami bawa menjadi “Satu HMIF yang konstruktif, kreatif, dan kontributif.”

SATU pembelajaran, SATU kreasi, SATU kontribusi

#satuHMIF

 

Yudha Okky Pratama

13509005

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s