Monthly Archives: April 2012

[Bhawikarsu 09] Persembahan untuk Guru


Buat temen-temen Bhawikarsu 09, semoga mengingatkan pada guru-guru yang sudah membimbing kita dulu 🙂

Advertisements

[Kecerdasan Emosi] 2. Kenapa Bukan Logika?


Berikut ini adalah tulisan kedua dari seri [Kecerdasan Emosi] di House of Idea, ikut terus ya, silakan langsung kamu tulis komentar kalau kurang setuju atau ingin diskusi lebih lanjut 😀


Kita lihat isu yang sedang agak panas (atau mungkin selalu panas) di Indonesia, yaitu soal kebobrokan pemerintah, ada kasus korupsi, suap, penggelapan pajak, dan banyak lainnya. Kalau dipikir-pikir, memangnya sebodoh itu ya orang-orang yang bisa-bisanya melakukan hal-hal tercela (kata buku PPKn,hehe) seperti itu? Jawabannya pasti tidak, para elit politik itu pastinya adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi, banyak juga yang lulusan luar negeri. Lalu kenapa orang yang “pintar” itu masih melakukan perbuatan yang jelas-jelas sangat bodoh?

Saya jadi teringat ucapan seorang senior saya di ITB, bahwa sebenarnya kita tahu mana yang benar hanya saja seringkali kita tidak melakukannya. Para koruptor, pelaku suap, atau penggelap pajak yang akalnya masih sehat pasti secara logika mereka tahu bahwa hal tersebut tidak baik, tapi masih saja dilakukan. Pasti kita tahu bohong itu dosa, menggujingkan orang lain itu tidak baik, bolos kuliah itu salah, tapi banyak juga diantara kita yang masih sering melakukannya atau hal-hal lain yang sudah jelas-jelas salah. Ya begitu lah, saya akui hal itu sering terjadi juga pada saya, bagaimana dengan kamu? Renungkan saja dalam hati,hehe.

Oke, cukup dengan hal-hal yang tidak baiknya, sekarang coba kita ingat kembali ketika kita berbuat baik (pasti pernah dong), apa sih alasannya? Ketika kita memberi sedekah, ketika kita mendengarkan curhatan teman, atau minimal ketika kita meminta maaf dengan tulus, dilakukan bukan karena logika kita tahu bahwa hal tersebut baik, tapi karena perasaan dan sisi emosional kita lah yang mengatakan hal tersebut baik dan mendorong kita untuk melakukannya, dan seringkali secara spontan seolah-olah tanpa alasan. Karena itu juga lah kasus-kasus buruk yang dibahas diawal masih sering terjadi. Orang-orang tersebut tahu mana yang salah secara logika, tapi karena belum ada keterikatan secara emosional dan perasaannya tidak berkata bahwa yang ia lakukan itu salah, jadi yaa masih saja dilakukan.

Coba kita lihat satu contoh kasus tentang seorang anak, yang kebetulan anak ini seorang muslim, sebut saja namanya Alexander. Alexander merupakan anak semata wayang dalam keluarganya, yang kebetulan keluarga muslim. Sejak kecil Alexander tidak pernah diajarkan dan dibiasakan untuk shalat, orang tuanya pun tidak pernah memberi contoh yang baik soal ini. Ketika menginjak bangku Sekolah Dasar, di sekolah Alexander mendapat pelajaran agama Islam dan disana ia mulai tahu mengenai kewajiban shalat bagi seorang muslim, ia belajar tata cara shalat sampai hafal. Bagaimana hasilnya? Ternyata walaupun yang ia tahu dari pelajaran sekolah shalat itu wajib dan ia pun sebenarnya sudah hafal tata caranya tapi masih saja tidak dilakukan, apalagi memang orang tuanya di rumah kurang memberi teladan yang baik.

Coba kita bandingkan dengan seorang anak yang lain, sebut saja namanya Fransesco, yang juga seorang muslim. Sejak kecil Fransesco sudah dibiasakan untuk shalat lima waktu, selalu diajak ketika orang tuanya shalat di masjid. Kedua orang tua Fransesco benar-benar tegas kepadanya mengenai kewajiban shalat, bahkan ketika Fransesco susah dibangunkan ketika sudah masuk waktu shalat subuh, wajahnya diciprati air oleh ayahnya sampai ia bangun. Ketika tumbuh dewasa, Fransesco mendapat beasiswa untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Baru saja sampai di negeri asing tersebut, Fransesco langsung terkejut karena ternyata disana sangat sedikit sekali pemeluk Islam, sehingga sangat jarang ada yang shalat, termasuk teman-teman kuliahnya. Tapi toh ternyata, Fransesco tidak terlalu terpengaruh dengan hal tersebut dan masih rajin shalat bahkan lebih baik lagi dari sebelumnya.

Dua contoh tersebut menunjukkan bahwa adanya keterikatan secara emosional pada hal-hal yang dianggap baik, apalagi jika ditekankan sejak kecil, sangat berpengaruh pada perilaku kita. Walaupun logika kita tahu bahwa sutau perbuatan itu baik, tetapi perasaan kita belum berkata bahwa perbuatan tersebut baik, maka kemungkinan besar tidak akan dilakukan. Satu lagi bukti bahwa kecerdasan emosi lebih penting dari kecerdasan logika.


“Perbuatan baik yang tulus digerakkan oleh hati, bukan oleh pikiran. Bahkan ketika hati sudah tergerak, berbuat baik bukanlah suatu keharusan, tapi menjadi suatu keinginan.” 🙂

*maaf bahasanya agak kacau, dibikin sambil ngantuk,hehe