Monthly Archives: May 2012

Data Flow Diagram


Data Flow Diagram atau biasa disingkat dengan DFD adalah salah satu cara untuk memodelkan proses dalam analisis dan perancangan perangkat lunak, khususnya dengan pendekatan terstruktur.

DFD memiliki tiga komponen di dalamnya, yaitu:

1. External Entity

Merupakan entitas luar yang berinteraksi langsung dengan sistem, bisa dalam bentuk memberikan data ke dalam sistem, menerima data dari sistem, atau keduanya.

2. Proses

Merepresentasikan proses yang terjadi di dalam sistem, biasanya digambarkan dalam bentuk lingkaran(bubble).

3. Data store

Merepresentasikan tempat penyimpan data dalam sistem.

4. Aliran data

Merepresentasikan data yang mengalir dari sumber data ke tujuan, bisa dari proses ke proses lain, dari external entity ke proses, atau dari proses ke external entity.

Satu hal penting yang menjadi concern utama dalam pembuatan DFD adalah konsistensi. Berikut beberapa aturan untuk menjaga konsistensi DFD:

1. Proses

  • menggunakan label berupa kata kerja (missal: memroses gambar)
  • minimal memiliki satu masukan dan satu keluaran

2. Data store

  • data tidak dapat dipindahkan secara langsung dari data store satu ke data store yang lain
  • data tidak dapat dipindahkan langsung dari external entity ke data store, dan sebaliknya dari data store ke external entity
  • menggunakan label berupa kata benda (missal: gambar)

3. Aliran data

  • hanya memiliki satu arah
  • data tidak dapat kembali secara langsung ke proses yang sama
  • aliran data ke data store berarti melakukan pengubahan data(hapus atau ubah)
  • aliran data dari data store berarti mengambil data
  • menggunakan label berupa kata benda

Dalam melakukan pemodelan proses, dibutuhkan beberapa level DFD agar proses yang dimodelkan tersebut sesuai dengan sistem yang diinginkan.  Semakin tinggi level DFD menunjukkan pemodelan yang semakin rinci.

1. DFD Level 0 (Diagram Konteks)

DFD level 0 atau bisa juga disebut diagram konteks merupakan gambaran bagaimana sistem berinteraksi dengan external entity.

2. DFD Level 1

gambar diambil dari: buku Roger S. Pressman, Software Engineering 6th Edition

Level 1 menunjukkan proses-proses utama yang terjadi di dalam sistem yang sedang dibangun.

3. DFD Level 2 dst.

gambar diambil dari: buku Roger S. Pressman, Software Engineering 6th Edition

DFD Level 2 merupakan penjabaran lebih rinci dari DFD level 1. Setiap bubble proses pada DFD level 1 dapat dimodelkan secara lebih terperinci menjadi sebuah DFD lagi. Apabila diperlukan setiap bubble proses pada DFD level 2 juga dapat diperinci menjadi DFD level 3, begitu seterusnya. Perincian DFD berhenti sampai proses yang ada bersifat atomik (sudah cukup mendetail dan tidak dapat diperinci).

Referensi : slide kuliah Sistem Informasi Teknik Informatika ITB, oleh: Pak Mary Handoko

Semoga bermanfaat 🙂

Advertisements

Tugu Jogja vs Tugu Malang


Ini ceritanya berawal dari kunjungan main-main saya ke Jogja kira-kira 1-2 bulan yang lalu. Kebetulan sekali saya punya beberapa teman disana yang otomatis menjadi tour guide gratisan buat saya melihat-lihat Jogja. Cerita lengkapnya mungkin lain waktu saja, langsung saja ke malam terakhir saya disana, saya diajak untuk berfoto di salah satu landmark Jogja, yaitu sang Tugu Jogja. Ada beberapa pikiran aneh waktu saya melihat tugu ini, maklum pertama kali, atau mungkin dulu pernah tapi lupa karena sudah lama sekali sejak saya terakhir ke Jogja. Anehnya adalah tugu ini terletak tepat di tengah-tengah persimpangan perempatan jalan, yang berarti traffic disana ramai sekali, dan herannya lagi ternyata banyak juga orang-orang yang berkumpul di tugu ini untuk sekedar berfoto, apalagi waktu malam hari, dan mereka tidak merasa aneh dengan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di sekitarnya.

 

Tapi walaupun aneh, setelah dipikir-pikir lagi justru itu kelebihannya. Tugu yang diletakkan di tempat yang mudah diakses publik justru menunjukkan karakter keterbukaan dan merakyat, yang seakan-akan mengatakan “Jogja untuk semua”, mau itu orang Jogja asli ataupun bukan (sebenarnya kata-kata itu bikin-bikinan saya sendiri,hehe).

Dasar saya yang fanatik pada daerah asal saya, Malang, yang terlintas langsung membandingkan dengan apa yang ada di Malang, niatnya mencari-cari kelebihannya, bahwa Malang tidak kalah dengan Jogja sekalipun. Tapi ternyata harus saya akui, khusus untuk urusan tugu ini, Jogja masih lebih baik.

Secara bentuk dan estetika, yaa Tugu Malang ini sebenarnya juga tidak kalah, tapi jika dibandingkan dengan keterbukaan dari Tugu Jogja jelas bertolak belakang. Tugu Jogja yang letaknya terbuka, siapapun seperti diundang untuk “nongkrong” disana, sementara Tugu Malang malah dikelilingi kolam dan pagar, sudah semacam benteng-benteng di Inggris saja. Jadi sedikit terpikirkan, kalau saya yang jadi walikota Malang, akan saya hilangkan itu pagar dan kolamnya. Sayangnya, saya tidak ingin jadi walikota Malang,hehehe

Keterbatasan


Pak Sukawi, dulunya adalah seorang buruh di sebuah perusahaan garmen, namun sekitar tiga tahun lalu beliau di PHK karena perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan. Dengan statusnya sebagai kepala keluarga yang harus menafkahi keluarganya, apa yang beliau lakukan? Bermodal mesin jahit bekas, beliau memulai usaha jahitnya. Beliau juga mengajak teman-temannya yang menjadi korban PHK untuk ikut membangun usaha jahit tersebut. Sekarang usaha jahit Pak Sukawi sudah berjalan cukup lancar, dengan omzet sekitar 30 juta per bulan, usaha jahitnya bisa menjadi sumber nafkah bagi keluarganya, juga bagi keluarga 45 orang karyawannya. (sumber : http://berita.liputan6.com)

Dari cerita singkat diatas, apa yang kamu rasakan ketika seorang yang sedang jatuh, mampu bangkit dan bahkan menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya? Terinspirasi, pasti banyak yang merasakan. Tapi apa yang kamu rasakan ketika seorang buruh yang bertanggung jawab menafkahi keluarganya tiba-tiba dipecat? Merasa kasihan? Natural bagi yang masih berperasaan. Tapi tidakkah kita merasa bahwa kita lah yang sebenarnya perlu dikasihani?

Sudah banyak sekali kisah sukses yang terkenal dimulai dari kondisi yang sebenarnya pantas dikasihani. Steve Jobs yang tidak lulus kuliah? Iwan Setyawan (penulis buku 9 Summers 10 Autumn) yang berasal dari keluarga miskin? Masih banyak cerita-cerita inspiratif lain yang menunjukkan kisah heroik seseorang yang kekurangan berubah menjadi seorang yang luar biasa. Jika kita amati lebih seksama, bukankah kekurangan atau keterbatasan itu justru kelebihan mereka? Melalui keterbatasan itu lah Tuhan memberikan jalan bagi mereka untuk mengusahakan sesuatu yang lebih baik. Dari keterbatasan itu lah muncul kreativitas, dari kekurangan itu lah timbul rasa syukur, dan pengalaman di bawah lah yang membuat kita mampu menghargai orang lain. Sebegitu besarnya kekuatan keterbatasan sampai seorang Bob Sadino bahkan sengaja “memiskinkan diri” sebelum dia menjadi seorang pengusaha sukses seperti sekarang.

Kalau kamu termasuk orang yang pintar, dengan fisik yang lengkap, tinggal di rumah megah, kemana-mana dengan kendaraan mewah, selalu makan makanan enak, dan segala yang kamu inginkan terpenuhi, maka sesungguhnya kamu lah orang yang seharusnya dikasihani, apalagi kalau sampai kamu lupa bersyukur. Kasihan pada diri sendiri karena berarti kamu tidak mendapat kesempatan berharga itu. Darimana kamu bisa mengasah kreativitas? Darimana kamu mau belajar menghargai orang lain? Darimana kamu belajar kerendahan hati? Darimana kamu belajar semangat untuk berjuang? Silakan dijawab masing-masing. Semoga kita selalu ingat untuk bersyukur, pada kelebihan maupun kekurangan.

Ungkapan Syukur Alm. Bu Menteri


Ibu Endang Rahayu Sedianingsih, mantan Menteri Kesehatan RI yang sekarang sudah almarhumah disebut-sebut sebagai salah satu srikandi terbaik yang dimiliki oleh negeri kita. Sebenarnya saya tidak terlalu tahu bagaimana sosok, kepribadian, keseharian, atau prestasi apa yang pernah beliau raih, sejujurnya nama beliau pun belum terlalu familiar bagi saya. Tetapi saya tidak bisa menahan kekaguman saya pada beliau ketika secara tidak sengaja saya membaca sambutan yang Ibu Endang tulis pada 13 April 2011 untuk buku Berdamai dengan Kanker: Kiat Hidup Sehat para Survivor Kanker yang dimuat pada koran Pikiran Rakyat edisi hari ini. Secuplik sambutan yang mengungkapkan betapa beliau adalah seorang yang sangat memaknai hidup dengan selalu bersyukur.

Saya sendiri belum bisa disebut sebagai survivor (penyintas) kanker. Diagnose kanker paru stadium 4 baru ditegakkan 5 bulan yang lalu. Dan sampai kata sambutan ini saya tulis, saya masih berjuang untuk mengatasinya. Tetapi saya tidak bertanya, “Why me?” Saya menganggap ini adalah salah satu anugerah dari Allah SWT.

Sudah begitu banyak anugerah yang saya terima dalam hidup ini: hidup di negara yang indah, tidak dalam peperangan, diberi keluarga besar yang pandai-pandai, dengan sosial ekonomi lumayan, dianugerahi suami yang sangat sabar dan baik hati, dengan 2 putra dan 1 putri yang Alhamdulillah sehat, cerdas, dan berbakti kepada orang tua.

Hidup saya penuh dengan kebahagiaan. “So… Why not?” Mengapa tidak Tuhan menganugerahi saya kanker paru? Tuhan pasti mempunyai rencana-Nya yang belum saya ketahui, tetapi saya merasa SIAP untuk menjalankannya. Insya Allah. Setidaknya saya menjalani sendiri penderitaan yang dialami pasien kanker sehingga bisa memperjuangkan program pengendalian kanker dengan lebih baik.

Bagi rekan-rekanku sesama penderita kanker dan para survivor, mari kita berbaik sangka kepada Allah. Kita terima semua anugerah-Nya dengan bersyukur. Sungguh, lamanya hidup tidaklah sepenting kualitas hidup itu sendiri. Mari lekukan sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan hari ini. Kita lakukan dengan sepenuh hati. Dan… jangan lupa, nyatakan perasaan kita kepada orang-orang yang kita sayangi. Bersyukurlah, kita masih diberi kesempatan untuk itu.

sumber : Pikiran Rakyat, edisi 3 Mei 2012