Keseimbangan Berpikir dan BERTINDAK


gambar diambil dari : http://evolutionvtg.blogspot.com

Pecinta pengembangan karakter pasti tahu nih, motivator-motivator seperti Pak Mario Teguh dan sejenisnya(hehe, maaf bercanda pak) atau di buku-buku pengembangan diri banyak menyebutkan kalau kita ingin melakukan sesuatu tidak usah banyak dipikir. Hal itu sudah disampaikan dalam berbagai redaksi kata-kata yang kreatif dan menarik seperti “think less, do more”,  “bagaimana caranya memulai sesuatu? ya mulai saja! tidak usah terlalu banyak dipikir”, dan sebangsanya.

Bagaimana menurut kamu? Setuju kah?

eits, tunggu dulu.. Prinsip itu kan versinya para motivator dan buku. Kalau kita coba ingat-ingat lagi, prinsip lama versi tua atau sebut saja itu dengan kebijaksanaan justru menekankan kita untuk berpikir. “berpikirlah dulu sebelum bertindak”, “pikir dulu, baru bicara”, dan kawan-kawan sebangsanya.

Lho, jadi gimana dong? mana yang bener nih?

Saya sendiri pun tidak tahu mana yang benar, mana yang salah, wong saya juga cuma manusia yang masih anak bawang, mana berhak bilang benar salah buat orang lain. Tapi kalau preferensi jelas saya punya. Sebagai anak muda tentu saja saya memilih prinsip yang pertama. Buat saya, terlalu banyak berpikir malah membuat kita kurang action, akibatnya kita yang me-review ilmu kita untuk membuat pertimbangan dengan setepat-tepatnya malah sering melewatkan kesempatan yang belum tentu akan datang lagi. Kalau saja kita tidak terlalu banyak berpikir dan lebih banyak bertindak, akan lebih banyak pengalaman yang kita dapat, baik itu keberhasilan maupun kegagalan. Apa? Kegagalan? tidak apa-apa, toh sampai kapanpun tampaknya pengalaman, termasuk pengalaman gagal, masih akan jadi guru terbaik. Lagipula tugas kita sebagai manusia cuma berusaha, sisanya biarkan Allah yang memutuskan.

Oke, itu pilihan saya. Lalu apakah prinsip yang kedua itu menurut saya salah?

Nggak, bro!! saya cuma belum membahasnya saja.

Kita lihat lagi ya redaksinya, “berpikirlah dulu sebelum bertindak”. Dalam prinsip itu kita dianjurkan untuk berpikir SEBELUM bertindak, yang jelas sekali berarti jangan banyak berpikir kalau sudah waktunya bertindak.

Pasti banyak banget kesempatan yang sebenarnya bisa kita gunakan untuk berpikir, bisa berpikir soal rencana, solusi masalah, ide-ide baru, dll. Waktu-waktu tidak produktif dimana kita memang tidak bisa action bisa dimanfaatkan untuk berpikir, seperti waktu menunggu seseorang, waktu menunggu makanan datang, waktu di perjalanan(tapi jangan pas nyetir ya,hehe), dan banyak lainnya sesuai kesibukan masing-masing. Kalau waktu-waktu itu bisa di optimalkan, kita tidak perlu lagi berpikir tidak pada waktunya.

Percaya lah kamu bisa lebih menikmati proses action ketika tidak banyak berpikir.

“Suatu saat kita akan lebih menyesali hal-hal yang tidak kita lakukan daripada hal-hal yang sudah kita lakukan”.

 

Sekian dulu, sisanya renungkan sendiri 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s