Monthly Archives: February 2013

Review: Artikel “How to Enhance Creativity in School Children”


okkypratama-creati

gambar diambil dari: http://lifehacker.com/

Artikel ini membahas mengenai bagaimana mengajarkan kreativitas pada anak-anak.

Banyak yang salah kaprah mengartikan kreativitas sebagai seni, padahal sebenernya pengertian kreativitas lebih luas dari itu. Kreativitas berhubungan dengan kemampuan dalam memecahkan masalah dengan cara yang inovatif dan menghasilkan ide-ide baru. Meskipun kreativitas berarti positif, namun hal ini belum banyak ditekankan dalam pendidikan formal, termasuk juga di Indonesia. Padahal riset membuktikan kreativitas berperan positif dalam perkembangan seorang anak. Berikut adalah beberapa cara yang dapat digunakan untuk melatih anak menjadi kreatif.

  1. Word Games. Melatih anak untuk mencari dan menemukan hubungan dari berbagai kata yang berbeda.
  2. Visual Thinking Games. Melatih anak dalam hal berpikir visual, abstraksi gambar, dan banyak menggunakan imajinasinya.
  3. Drawing Games. Melatih anak untuk memahami konsep maupun pengetahuan yang sudah ada.

Selain dengan beberapa permainan diatas, seorang guru atau pengajar dapat melatih kreativitas muridnya melalui cara-cara yang digunakan dalam proses belajar-mengajar, contohnya mempersilakan murid untuk memilih sendiri topik yang akan dipresentasikan.

Cara-cara tersebut tentu saja dapat juga diterapkan oleh para guru di Indonesia mengingat masih rendahnya kreativitas anak-anak dan pemuda Indonesia, apalagi jika mempertimbangkan beberapa prediksi yang mengatakan bahwa di masa depan kreativitas akan lebih berpengaruh dibanding kecerdasan/kepintaran

Advertisements

Review: Creative Generalist


okkypratama-crege2

creativegeneralist.com adalah sebuah situs yang bertemakan kreativitas dengan konten yang bermacam-macam bentuk dan kategorinya. Sesuai namanya, soul yang dibawa dalam situs ini yaitu kreativitas yang bersumber dari perbedaan, pemikiran yang luas, dan mencakup berbagai bidang. Awalnya situs ini berupa sebuah blog yang berisi ide-ide, berita, dan sudut pandang bagi para generalist yang memiliki ketertarikan pada banyak bidang. Namun seiring berjalannya waktu, situs ini mulai berkembang menjadi sebuah forum.

Ketika mengakses situs ini, pertama kita akan dihadapkan pada tampilan seperti gambar berikut.

okkypratama-creative generalist

Tampilan yang disajikan kurang menggambarkan identitas dari situs tersebut, mungkin saja banyak pengunjung situs tidak langsung “mengenali” sebenarnya situs seperti apakah creativegeneralist.com itu.

Situs Creative Generalist memiliki enam menu utama, yaitu:

  1. Home
  2. Overview
  3. Inspiration
  4. Blog
  5. People
  6. About

Mari kita lihat setiap menu tersebut lebih lanjut

Home

Merupakan halaman default ketika pertama kali situs dibuka. Pada menu ini terdapat ringkasan dan tautan(link) pada beberapa halaman atau artikel yang penting dalam situs ini.

Overview

Ketika memasuki menu overview, kita sebagai pengunjung akan dihadapkan pada tulisan yang dibuat oleh Steve Hardy, founder dari situs ini, yang berjudul “The Creative Generalist: How Broad Thinking Leads to Big Ideas”. Secara umum tulisan tersebut berisi nilai-nilai yang dianut oleh para creative generalist antara lain finding possibility, presenting information, generating ideas, connecting people, understanding worldview.

Inspiration

Menu Inspiration terbagi menjadi beberapa submenu yaitu News yang berisi artikel-artikel yang memicu inspirasi, Vacation yang berisi daftar konferensi yang inspiratif, Curations berisi daftar entitas-entitas lain yang juga membawa semangat kreativitas, dan Bookshelf yang berisi daftar buku yang mendukung para creative generalist.

Blog

Menu Blog terbagi lagi menjadi beberapa submenu yaitu Perspectives yang berisi artikel-artikel yang membawa sudut pandang para creative generalist, Interviews yang berisi hasil wawancara dengan tokoh-tokoh yang tergolong creative generalist, dan kemudian Miscellany yang berisi beragam inspirasi lain berupa tulisan maupun video.

People

Menu People juga terbagi menjadi beberapa submenu yaitu Society yang ketika dibuka kita diarahkan ke situs creativegeneralist.org yang merupakan forum bagi para creative generalist, CG sessions yang memfasilitasi untuk membuat grup diskusi dari para creative generalist, dan Faves & Friends yang berisi daftar dan link ke pihak-pihak yang berhubungan dengan situs ini.

About

Berisi keterangan mengenai situs ini termasuk cerita bagaimana awal situs ini dibuat.

Menurut saya manajemen konten dalam situs ini tidak terlalu baik karena terdapat banyak menu dan submenu yang justru menyulitkan pengunjung situs dalam memperoleh informasi yang diinginkan. Padahal beberapa menu tersebut ada yang tidak perlu dan mungkin ada juga beberapa submenu yang mirip. Meskipun demikian, bagi saya konten situs ini sangat menarik karena mengangkat sesuatu yang tidak populer, yaitu mengangkat nilai kamu generalist ketika di masa sekarang yang lebih dihargai adalah para specialist.

“Go some distance away because then the work appears smaller and more of it can be taken in at a glance and a lack of harmony and proportion is more readily seen.” — Leonardo Da Vinci

Level Belajar


okkypratama-learngambar diambil dari: http://www.bbhc.org/

“Manusia itu harus terus belajar sejak nafas pertamanya dan baru berhenti pada nafas terakhir”

“Stay foolish, stay hungry” – Steve Jobs

Ada sekian banyak quotes atau perintah yang menganjurkan bahkan mengharuskan kita untuk belajar. Tetapi mengapa kita harus belajar? Apa sebenarnya yang dimaksud dengan belajar? Bagaimana cara belajar? Saya sendiri belum bisa menjawab semua pertanyaan itu dan sampai sekarang masih belajar untuk menemukan jawabannya.

Belajar bisa tentang apapun dan dimanapun, belajar matematika di sekolah, belajar memasak di tempat kursus, belajar menendang bola di lapangan, dst. Terlepas dari tentang apa dan dimana, belajar sendiri memiliki beberapa tingkatan berdasarkan kedalamannya (pendapat pribadi).

  • okkypratama-studyLevel 1. Belajar yang dalam Bahasa Inggris disebut study, yang secara umum berarti mendedikasikan waktu untuk usaha memperoleh ilmu atau pengetahuan. Belajar jenis ini lah yang sering kita lakukan semasa di bangku sekolah dengan cara membaca buku dan latihan soal.
  • Level 2. Belajar yang disebut juga dengan istilah learn yang maknanya proses memperoleh ilmu pengetahuan, bisa dilakukan melalui banyak cara, belajar (study), praktek, melihat, dll. Berbeda dengan level 1 yang menekankan pada proses, level 2 ini berfokus pada hasil yang didapatkan, yaitu berupa ilmu pengetahuan. Kalau study adalah mengenai dedikasi waktu, learn adalah soal memperoleh ilmu pengetahuan. Contoh kalimat berikut mungkin sedikit menggambarkan perbedaannya: “I’ve been studying all day but I don’t think I’ve learned anything”.
  • Level 3. Belajar yang mengubah sikap. Menurut saya ini level tertinggi dari pencapaian belajar, dimana seseorang tidak hanya sekedar mengetahui tetapi juga bisa menentukan sikap atas pengetahuannya yang baru. Contohnya, orang yang mengetahui bahwa olahraga penting untuk kesehatan memutuskan untuk berolahraga secara rutin tiap minggu. Tentu saja ketika mendapatkan ilmu baru tidak semua harus kita setujui, dipikirkan terlebih dahulu kebenaran dan manfaat dari ilmu tersebut. Contohnya, jika ada yang bilang bahwa untuk menjadi orang yang sukses, biasakan membuat jadwal yang rinci setiap harinya, kita mungkin mengetahui hal tersebut tetapi boleh saja jika mengambil sikap untuk tidak melakukannya karena tidak sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut.

Perenungan mengenai level belajar ini terinspirasi dari obrolan saya dengan teman se-rumah kontrakan ketika menonton sekilas kongres partai Nasdem. Pada acara tersebut Pak Surya Paloh sebagai ketua umum sedang menyampaikan pidatonya yang bertemakan kebangsaan.

O: Wah, Surya Paloh ini jago juga ya pidatonya, setidaknya lebih bagus dari Pak SBY

F: Iya

O: Gimana ya latihannya sebelum pidato?

F: Kalo itu udah karakter, bukan cuma hasil latihan.

Dari obrolan itu, saya baru menyadari bahwa sebenarnya tingkatan tertinggi seseorang yang berilmu adalah ketika ilmunya tergambar dari sikap dan perilakunya. Pada kasus Pak Surya Paloh, ilmu dan pemahaman beliau mengenai kebangsaan benar-benar sudah mendarah daging karena itu lah beliau dapat berpidato dengan lancar dan berapi-api (perlu dicatat, saya bukan fans beliau, hehe). Mungkin itu juga yang berlaku pada Pak Soekarno dulu yang dijuluki orator ulung. Sebenarnya bukan semata-mata karena beliau pandai berbicara, tetapi juga karena memang apa yang beliau bicarakan benar-benar dijiwai.

Kalau tingkatan tertinggi orang yang belajar adalah perubahan sikap, maka berbahagia lah jika ada yang bilang, “kamu berubah, sudah bukan kamu yang dulu”. Jawab saja, “iya lah, aku kan belajar” ;p

 *referensi : http://english.stackexchange.com/questions/19533/is-there-any-subtle-difference-between-to-study-and-to-learn

Resume Artikel “30 Big Ideas, Trends and Predictions for 2012”


okkypratama-tren2012Menurut artikel yang di-post pada bulan Januari 2012 ini, tren yang akan berkembang pada tahun tersebut secara umum berhubungan dengan 3 bidang yaitu teknologi/IT, Bisnis, dan Jejaring Sosial. Berikut rincian tren yang akan berkembang pada tahun 2012. (tidak sampai 30 karena beberapa ide yang serupa dirangkum dalam satu poin)

Teknologi/IT

  1.  Gesture-recognition. Merupakan pengembangan dari voice recognition, salah satu implementasinya yaitu Xbox Kinect.
  2. Local and mobile search. Pencarian terutama untuk belanja yang dilakukan secara mobile dan mengkhususkan pada pasar lokal, sekitar 10 sampai 20 mil dari rumah atau tempat kerja.
  3. Fungsi IT di-outsource. Hal ini merupakan salah satu usaha penghematan biaya.
  4. Perangkat lunak bisnis yang terpersonalisasi. Merupakan generasi baru dari perangkat lunak yang lebih berfokus pada value generation.
  5. Pengelolaan pengeluaran untuk aplikasi mobile, cloud computing, dan SaaS (Software as a Service)
  6. Mobile learning. Kta dapat belajar dimanapun tanpa terbatas tempat menggunakan perangkat mobile seperti tablet PC.
  7. Meningkatnya pengembangan customized enterprise application stores.
  8. Sumber informasi dan dokumen yang cloud-based.
  9. Pelaku usaha kecil dapat membuat website dengan lebih mudah.

Bisnis

  1. Penjualan yang universal melalui online shopping.
  2. Akuisisi pada usaha kecil dan menengah oleh usaha yang lebih besar.
  3. Munculnya layanan strategic technology consulting. Layanan ini semakin berkembang seiring dengan bertambahnya kebutuhan terhadap teknologi untuk menciptakan value dalam berbisnis.
  4. Jumlah usaha franchise meningkat karena lebih mudah dilakukan dan biaya yang dibutuhkan untuk memulai usaha tersebut rendah.
  5. Berkembangnya review reputasi pada layanan bisnis.
  6. Banyak perusahaan China yang berkembang menjadi perusahaan global.
  7. Pengukuran pada iklan dan pemasaran untuk meningkatkan efektivitas pemasaran perusahaan.
  8. Pelanggan akan mendapatkan fasilitas digital coupon books.

Jejaring Sosial

  1. Jejaring sosial proximity-based (berbasis kedekatan). Jejaring sosial jenis ini memungkinkan kita untuk mengidentifikasi orang-orang disekitar kita.
  2. Perekrutan karyawan melalui media sosial seperti LinkedIn.
  3. Understanding chatter. Merupakan usaha untuk memahami hal-hal atau tren yang banyak dibicarakan dengan menganalisis sejumlah besar data yang tersedia secara online pada website dan jejaring sosial.
  4. Jejaring sosial dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk berhubungan dengan pelanggan.

Perlukah Kampanye “100% Produk Indonesia”?


Sebuah usaha yang bagus ketika para marketer dan entrepreneur mulai menggalakkan semangat 100% produk Indonesia. Dengan semangat tersebut diharapkan pengusaha-pengusaha Indonesia terus berinovasi untuk menghasilkan produk-produk lokal terbaik yang mampu bersaing bahkan di pasar global. Saat ini sudah ada beberapa produk buatan Indonesia yang menembus pasar sampai ke luar negeri, diantaranya:

  1. J-Co donuts                                                                                        okkypratama-jco
  2. Polygon                                                                                  okkypratama-polygon
  3. Eiger                                                                                          okkypratama-eiger

Jika diperhatikan dengan seksama, walaupun produk-produk diatas asli Indonesia tetapi ketiganya bisa dibilang bergaya “Internasional” dan tidak menggembor-gemborkan bahwa produk tersebut buatan Indonesia. Pembentukan brand memang menjadi pilihan masing-masing disesuaikan dengan target pasar yang akan dituju. Positioning, Differentiation, dan Branding yang dilakukan memang harus memiliki karakter yang sejalan dengan calon customer. Karena saya memang bukan ahli ataupun praktisi marketing, kesimpulan singkat dari pemikiran sempit saya adalah kalau ingin tembus pasar Internasional jadilah “Internasional”, yang “lokal” cukup lah untuk lokal saja.

Kritik dan saran dari ahli marketing sangat diharapkan. Terima kasih

Sistem Pendidikan FInlandia Nomor Satu di Dunia


okkypratama-finland-educationgambar diambil dari: http://edudemic.com/

Banyak pihak mengganggap belum mampunya Indonesia menjadi salah satu negara yang menjadi leader di dunia global dikarenakan masih buruknya sistem pendidikan di negeri ini. Kalau memang sistem pendidikan di Indonesia buruk, lalu seperti apa yang dianggap baik?

Kita bisa mengambil contoh dari negara Finlandia yang mendapat predikat Best Education In The World menurut global report dari Pearson, sebuah education firm ternama di dunia. Berikut fakta-fakta sistem pendidikan di Finlandia yang menjadikannya nomor satu se-dunia:

  1. Anak-anak belum boleh sekolah sebelum berumur 7 tahun. Hal ini dikarenakan sebelum usia tersebut masih waktunya anak-anak bermain dan mengasah kreativitas. Selain itu, hal tersebut juga untuk memastikan bahwa anak-anak sudah siap menerima pengajaran.
  2. Anak-anak tidak diberikan penilaian atau diukur pada 6 tahun awal pendidikannya.
  3. Hanya ada satu ujian standarisasi yang diambil pada usia 16 tahun.
  4. Tidak ada pemisahan antara kelas unggulan dan bukan unggulan.
  5. 66 persen siswa berhasil melanjutkan ke jenjang perkuliahan.
  6. 93 persen orang Finlandia minimal lulusan high school (setara SMA).
  7. Guru di Finlandia minimal bergelar Master.
  8. Guru hanya dipilih dari 10 persen lulusan tertinggi.
  9. Guru merupakan pekerjaan terhormat (setara dokter dan lawyer).
  10. Guru merancang sendiri kurikulum yang akan diajarkan
  11. Tidak membebani siswa dengan jam sekolah yang tinggi dan pekerjaan rumah yang banyak.
  12. Satu kelas berisi maksimal 20 sisswa yang dilayani 3 orang guru.
  13. Pendidikan gratis 100 persen, termasuk di sekolah swasta.

Bagaimana dengan Indonesia? Silakan lihat sendiri di lingkungan sekitar 🙂

Sumber:

http://www.businessinsider.com/finlands-education-system-best-in-world-2012-11?op=1

http://www.huffingtonpost.com/2012/11/27/best-education-in-the-wor_n_2199795.html

http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/04/16/149252/Finlandia-Punya-Cara-Bikin-Siswa-Cerdas/7