Category Archives: Informatika

Smart City, Munginkah Ada di Indonesia?


Jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan akan terus mengalami peningkatan dalam 25 tahun ke depan. Akibatnya bisa kita bayangkan, jumlah orang semakin banyak, sementara jumlah sumberdaya seperti ketersediaan lahan, hasil alam, fasilitas umum malah cenderung berkurang, kalau dihitung secara kasar maka setiap individu di Indonesia ini semakin lama akan mendapat “jatah” sumberdaya yang semakin sedikit. Masalah tersebut sebenarnya dialami oleh negara manapun di dunia terutama yang angka pertumbuhan penduduknya positif.

okkypratama-smart-city-1Ketika sumber daya yang sifatnya material semakin terbatas, justru ini lah saatnya membuktikan pernyataan “aset paling berharga dari sebuah organisasi, perusahaan, atau negara adalah sumber daya manusianya”. Saatnya bagi kita, dengan segala upaya dengan kecerdasan, kreativitas, kerja keras, dan kerja sama untuk mengelola sumber daya yang ada sehingga keterbatasan itu bukan menjadi masalah. Dengan solusi yang tepat, dalam keterbatasan pun kehidupan kita masih bisa lebih baik daripada sebelumnya. Usaha yang mulai berkembang saat ini adalah konsep yang disebut dengan smart city. Mengapa kota? tentu saja karena kota merupakan pusat kehidupan di suatu negara, selain itu permasalahan masyarakat pun banyak berpusat di kota.

Smart city dapat diidentifikasi dari enam aspek, yaitu:

  • smart economy
  • smart mobility
  • smart environment
  • smart people
  • smart living
  • smart governance

Salah satu contoh konkret mengenai smart city adalah konsep yang diteliti dan dikembangkan oleh sebuah tim di MIT yang dipimpin oleh Kent Larson. Konsep tersebut dapat dilihat di video berikut.  

Informasi yang lebih lengkap mengenai contoh-contoh kota yang memiliki konsep smart city dapat dilihat di situs http://www.smart-cities.eu/.

Smart city, mungkinkah ada di Indonesia?

Tulisan ini memang tidak menjawab pertanyaan tersebut, justru ini menjadi tantangan bagi kita. Pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab dengan kata-kata, cukup lah dijawab dengan aksi yang membuktikan kemana anak muda yang menjadi generasi penerus ini membawa Indonesia di masa depan.

gambar diambil dari: http://www.dailydealmedia.com/

Gaya Penggunaan Twitter


okkypratama-twitter

Sudah sekian lama sejak media sosial mulai booming di Indonesia, terutama sejak munculnya situs yang bernama Facebook yang dilanjutkan dengan Twitter yang mungkin lebih in sekarang. Saya yakin kamu baca ini juga termasuk satu diantara yang mengikuti tren ini.

Mengenai pergeseran tren dari Facebook ke Twitter ini pasti ada yang pro dan kontra, ya walaupun bukan isu sensitif yang menimbulkan konflik. Beberapa dari kita pasti pernah tahu ada teman yang nge-tweet atau menulis status di Facebook-nya yang kira-kira berarti “Facebook udah ga asik ni, pindah Twitter aja” atau pendapat berlawanan seperti “ga mau pake Twitter ah, banyak nyampahnya”. Dari kedua pernyataan baik yang pro maupun kontra dengan mulai berkembangnya Twitter tersebut sebenarnya bisa disimpulkan bahwa penggunaan media sosial khususnya di Indonesia sendiri adalah persoalan gaya hidup, soal suka dan tidak suka, bukan soal fungsional atau kegunaan. Padahal jika diperhatikan, baik Facebook maupun Twitter memiliki fungsionalitas yang membentuk karakternya masing-masing.

okkypratama-timeline

Saya pernah melihat (lupa kapan tepatnya) sebuah program di Metro TV yang membahas tentang Twitter. Narasumber saat itu menyatakan sebuah pernyataan yang ‘menempel’ di kepala dan saya pun setuju dengan pernyataannya, yaitu “Twitter adalah media sosial yang berbasis informasi, bukan pertemanan”. Sejak awal saya mengenalnya, Twitter ini memang menarik karena punya karakter yang unik, yang ternyata titik awal keunikannya baru saya sadari ketika mendengar pernyataan tadi. Dari hasil pengamatan di akun saya sendiri, berikut adalah daftar beberapa fenomena unik yang terjadi di Twitter menurut pandangan saya, ada yang baik ada juga yang aneh.

  1. Menggunakan mekanisme yang disebut ‘follow’ sifatnya satu arah. Kalau kita ingin memperoleh informasi dari seseorang atau organisasi cukup follow saja maka akan langsung kita dapatkan informasinya, ya kecuali yang akunnya protected. Kalau suatu saat kita merasa informasinya sudah tidak kita butuhkan atau sukai, tinggal unfollow saja.
  2. Pengguna cenderung seenaknya mengatakan apapun. Namanya juga tweet yang dapat diartikan setara dengan celetukan atau sekedar cuap, sampai-sampai hampir setiap aktivitasnya di-tweet-kan. Mungkin ini lah salah satu penyebab adanya orang yang menganggap Twitter banyak ‘sampah’-nya.
  3. Perkembangan informasi di Twitter begitu cepat. Dengan banyaknya pengguna yang men-tweet-kan apapun, maka timeline kita akan diserbu banyak sekali informasi yang terus ter-update tiap saatnya, entah informasi tersebut penting atau tidak. Terkait hal ini saya juga pernah mendengar ada yang berkomentar bahwa dia tidak terlalu suka menggunakan Twitter karena sulit mengikuti perkembangan informasinya. Tapi memang begitu adanya, namanya juga ocehan, setiap orang berhak, tetapi kita sebagai pendengar juga berhak untuk memutuskan mendengar ocehan tersebut atau tidak.
  4. Ada pengguna yang lebih banyak mem-follow akun brand atau organisasi daripada akun individual. Mungkin hal ini disebabkan karena banyaknya informasi yang tidak penting dari akun individual.
  5. Adanya fenomena meminta follow back(folback). Ini fenomena yang menurut saya kurang tepat, karena memang Twitter ini basisnya informasi, sederhananya kalau ingin mendapat informasinya, maka follow, kalau tidak ingin mendapat lagi, tinggal unfollow. Bukan berarti kalau tidak mem-follow berarti bukan teman, kalau meng-unfollow juga tidak berarti ingin berhenti berteman.

Daftar di atas mungkin saja bertambah, atau kalau ada teman-teman yang ingin menambahkan, silakan komentar saja disini.

[CEO Series] 3. Irfan Setiaputra (CEO PT Titan Mining Indonesia)


okkypratama-irfan setiaputra

Pak Irfan Setiaputra bisa dibilang sudah banyak makan asam garam di dunia industri Indonesia, mengawali karir di Departemen IT Bank Niaga, pernah menjabat sebagai Country Managing Cisco Indonesia dan Direktur Utama PT INTI. Dengan alasan gaji yang dirasa kurang mencukupi, Pak Irfan mundur dari posisinya di PT INTI kemudian menerima tawaran sebagai Direktur PT Titan Mining, perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batubara. Meskipun baru beberapa bulan menjalani, beliau mengaku mendapat banyak pelajaran dari pengalaman barunya di industri pertambangan, salah satunya beliau berkesempatan melihat realita Indonesia di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Banyak sekali kasus terganggunya pekerjaan perusahaan karena sengaja dihambat oleh pemerintah maupun penduduk setempat. Kondisi yang demikian menggugah beliau untuk mulai berpikir memajukan masyarakat di daerah dengan memberi mereka kesempatan mengenyam pendidikan yang baik.

Khusus untuk bidang Informatika, Pak Irfan mengungkapkan bahwa ke depan akan banyak sekali peluang. Fakta-fakta seperti jumlah pengguna smartphone  yang terus meningkat, jumlah pengguna Facebook dan Twitter yang termasuk salah satu yang terbanyak di dunia mengindikasikan bahwa bisnis di bidang teknologi informasi akan terus berkembang di masa depan. Kemudian beliau mengingatkan kepada kami para mahasiswa Teknik Informatika, bahwa untuk survive di dunia bisnis, kita harus terus berinovasi, seperti yang ditunjukkan oleh Google, Facebook, dan Apple. Mereka bukan yang pertama membuat produk di bidangnya masing-masing, tapi sentuhan inovasinya memberi nilai tambah yang membedakan dengan produk lain.

tulisan ini merupakan resume kuliah umum bertajuk “Informatika Mengajar” dengan pematerinya adalah Pak Irfan Setiaputra, alumni Teknik Informatika angkatan 1982. Informatika Mengajar sendiri diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Teknik Informatika ITB.

*gambar diambil dari: http://swa.co.id

Mengukur Efektivitas/Kualitas Sistem Informasi


Sistem Informasi seringkali salah dipersepsikan sebagai hanya sebuah software, padahal sebenarnya kedua hal tersebut tidak sepenuhnya sama. Sistem informasi dapat berupa software, sedangkan software belum tentu merupakan sistem informasi. Hal tersebut mengakibatkan adanya perbedaan dalam penentuan kualitas pada software dan sistem informasi. Kualitas sebuah software biasanya diukur dari beberapa parameter teknis seperti availability, reliability, safety, response time, dll. Berbeda dengan software, kualitas sebuah sistem informasi tidak hanya dilihat dari hal-hal teknis. Pengukuran kualitas atau efektivitas (effectiveness) pada sebuah sistem informasi dapat digolongkan menjadi goal-centered view dan system-resource view. 

Pada 1992, W. DeLone dan E. McLean membuat sebuah model untuk mengukur kualitas sistem informasi yang disebut “DeLone and McLean IS Success Model” atau biasa disebut D&M model. Menurut D&M, terdapat 6 poin yang menentukan kualitas sistem informasi, yaitu:

  1. System Quality
  2. Information Quality
  3. Use
  4. User Satisfaction
  5. Individual Impact
  6. Organizational Impact

D&M1992Setelah mempertimbangkan masukan-masukan yang ada, pada tahun 2003, W. DeLone dan McLean memperbarui modelnya dengan menambahkan poin service quality dan menggantikan poin individual impact dan organizational impact dengan net benefits.

D&M2003

Selain D&M model, ada juga teknik yang diajukan oleh Jerry Cha-Jan Chang dan William R. King untuk melakukan pengukuran kualitas sistem informasi. Teknik tersebut menggunakan tools yang disebut functional scorecard. Chang dan King mendefinisikan poin-poin yang menjadi penilaian kualitas sistem informasi pada tabel dibawah ini.

chang&king

sumber:

v(Duo PGN)v : Prolog Bandung-Jakarta


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

sebelumnya mari kita mulai post ini dengan salam, edisi menjelang Ramadhan, hehehe

Perkenalkan kami berdua yang dipertemukan oleh takdir sampai akhirnya sekarang bisa bersama se-KP di PGN (Perusahaan Gas Negara) dan sekamar di kosan di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Ada saya Okky(kiri), dan sebelah saya Maspri(kanan)

Sesuai judulnya, Prolog, jangan harap cerita ini tentang KP kami, sebelum masuk ke intinya kita mulai dulu dari cerita bagaimana kami berdua hari ini masih bisa dateng ke kantor dengan kondisi ala kadarnya. Sebenarnya KP kami sudah mulai sejak tanggal 25 Mei lalu, tapi cerita ini masih fresh karena baru terjadi hari ini(4 Juni) dan kemarin.

kemarin…

Berawal dari keinginan kami berdua untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan tinggal di Jakarta selama dua bulan ke depan, ada target kami berdua harus bisa hafal atau minimal kenal jalan-jalan di Jakarta dalam waktu dua bulan ke depan. Entah apa tujuannya, mungkin biar bisa cerita ke anak cucu kali ya, soalnya saya(Okky) tidak ada niat tinggal di Jakarta nantinya. Dari situ, muncul ide random dari kami berdua untuk membawa motor ke Jakarta. Kalau dipikir-pikir ngapain gitu ya? Orang tua kami juga berpikiran sama sebenarnya, jadi lah kami beliau berempat tidak merestui niat suci kami.

Tapi ya namanya anak muda, tidak aneh dong rebel dikit, hehe. Jadi lah akhirnya kami tetap berangkat ke Jakarta dengan motor saya tercinta, sebut saja namanya Juwita(gambar menyusul). Kami berdua meluncur dari gerbang depan kampus sekitar jam 2 siang. Perlu diketahui sebelumnya, tidak satupun diantara kami berdua yang tahu jalan, tapi ya sudahlah, nyasar juga masih di Pulau Jawa. Menunggangi Juwita tercinta, Cimahi, Padalarang, Cianjur, Puncak, muter-muter di Bogor, Cibinong, semua kami libas sampai akhirnya Alhamdulillah masih bisa sampai di kosan sekitar jam 9 malam.

Dasar Maspri, baru sampai di kosan sudah ada lagi masalah baru, ternyata kunci kamar kosan ketinggalan di Bandung! dan ibu pemegang kunci duplikatnya baru datang besok! Ampun deh, untung penjaga kosannya baik jadi kami diungsikan ke kamar lain yang masih kosong, udah gitu kamarnya lebih bagus dari kamar kami berdua, fufufu.

hari ini…

Ketinggalan kunci kamar ternyata tidak cuma memunculkan masalah di mana kami tidur. Persoalan makin pelik karena alat mandi dan sepatu kerja kami berdua ada di dalam kamar, padahal kami harus ke kantor hari ini! Gimana jadinya? ya gimana lagi, paginya kami mandi cuma berbekal air dan handuk, agak lucu sih rasanya, lebih baik sedikit daripada tidak sama sekali. Bagaimana dengan sepatu? Alhamdulillah cobaan tidak akan diberikan di luar batas kemampuan. Kami pun berhasil menemukan solusinya sampai akhirnya kami berdua bisa ke kantor dengan bersepatu. Ini nih penampakannya

Bukan bermaksud pamer sepatu ya, ga ada yang bisa dipamerin juga. Nah, jadi yang sebelah kanan itu Maspri dengan sepatu futsal putihnya yang kebetulan baru dibawa dari Bandung, yang sebelah kanan itu saya dengan sepatu colongan(minjem ga bilang2) ke tetangga kamar sebelah yang katanya lagi keluar dan baru kembali hari Selasa(5 Juni).

Alhamdulillah, sekian dulu post pertama dari Duo PGN.

Semoga bermanfaat, walaupun susah ditemukan sebelah mana manfaatnya, hehe

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

*original post : http://kpinfantri09.wordpress.com/2012/06/04/vduo-pgnv-prolog-bandung-jakarta/

Data Flow Diagram


Data Flow Diagram atau biasa disingkat dengan DFD adalah salah satu cara untuk memodelkan proses dalam analisis dan perancangan perangkat lunak, khususnya dengan pendekatan terstruktur.

DFD memiliki tiga komponen di dalamnya, yaitu:

1. External Entity

Merupakan entitas luar yang berinteraksi langsung dengan sistem, bisa dalam bentuk memberikan data ke dalam sistem, menerima data dari sistem, atau keduanya.

2. Proses

Merepresentasikan proses yang terjadi di dalam sistem, biasanya digambarkan dalam bentuk lingkaran(bubble).

3. Data store

Merepresentasikan tempat penyimpan data dalam sistem.

4. Aliran data

Merepresentasikan data yang mengalir dari sumber data ke tujuan, bisa dari proses ke proses lain, dari external entity ke proses, atau dari proses ke external entity.

Satu hal penting yang menjadi concern utama dalam pembuatan DFD adalah konsistensi. Berikut beberapa aturan untuk menjaga konsistensi DFD:

1. Proses

  • menggunakan label berupa kata kerja (missal: memroses gambar)
  • minimal memiliki satu masukan dan satu keluaran

2. Data store

  • data tidak dapat dipindahkan secara langsung dari data store satu ke data store yang lain
  • data tidak dapat dipindahkan langsung dari external entity ke data store, dan sebaliknya dari data store ke external entity
  • menggunakan label berupa kata benda (missal: gambar)

3. Aliran data

  • hanya memiliki satu arah
  • data tidak dapat kembali secara langsung ke proses yang sama
  • aliran data ke data store berarti melakukan pengubahan data(hapus atau ubah)
  • aliran data dari data store berarti mengambil data
  • menggunakan label berupa kata benda

Dalam melakukan pemodelan proses, dibutuhkan beberapa level DFD agar proses yang dimodelkan tersebut sesuai dengan sistem yang diinginkan.  Semakin tinggi level DFD menunjukkan pemodelan yang semakin rinci.

1. DFD Level 0 (Diagram Konteks)

DFD level 0 atau bisa juga disebut diagram konteks merupakan gambaran bagaimana sistem berinteraksi dengan external entity.

2. DFD Level 1

gambar diambil dari: buku Roger S. Pressman, Software Engineering 6th Edition

Level 1 menunjukkan proses-proses utama yang terjadi di dalam sistem yang sedang dibangun.

3. DFD Level 2 dst.

gambar diambil dari: buku Roger S. Pressman, Software Engineering 6th Edition

DFD Level 2 merupakan penjabaran lebih rinci dari DFD level 1. Setiap bubble proses pada DFD level 1 dapat dimodelkan secara lebih terperinci menjadi sebuah DFD lagi. Apabila diperlukan setiap bubble proses pada DFD level 2 juga dapat diperinci menjadi DFD level 3, begitu seterusnya. Perincian DFD berhenti sampai proses yang ada bersifat atomik (sudah cukup mendetail dan tidak dapat diperinci).

Referensi : slide kuliah Sistem Informasi Teknik Informatika ITB, oleh: Pak Mary Handoko

Semoga bermanfaat 🙂

Pers HMIF : Kunci Internal yang Dinamis


Tulisan ini mengenai salah satu program kerja saya dalam pencalonan sebagai calon ketua HMIF ITB, silakan disimak 🙂

Bagaimana pendapat teman-teman mengenai semangat anggota HMIF dalam berkegiatan?

Tampaknya harus diakui memang masih loyo, banyak kegiatan-kegiatan yang berjalan ala kadarnya karena kurang antusiasnya anggota. Tentunya kita sangat mendambakan kondisi internal HMIF yang dinamis kan? Kondisi dimana anggota bersemangat dalam kegiatan-kegiatannya, dimana anggota yang belum mendapat kesempatan untuk berpartisipasi aktif pun bisa ikut merasa memiliki dan mendukung kegiatan-kegiatan di HMIF.

Sekarang mari kita pinggirkan sejenak pikiran soal internal HMIF. Kita beralih ke isu di luar. Tahukah kamu siapa Silvio Berlusconi? Ya, dia adalah mantan perdana menteri Italia yang sempat terlibat banyak skandal tetapi masih bisa terpilih kembali menjadi Perdana Menteri beberapa tahun setelahnya. Bagaimana bisa? Kekuatan media lah jawabannya(fyi, Berlusconi memiliki perusahaan yang membawahi stasiun televise dan surat kabar). Kita lihat contoh di Indonesia, ada Pak Dahlan Iskan yang banyak mendapat simpati karena tindakannya yang melakukan sidak rute KRL dengan naik KRL ekonomi dan kebetulan diliput media, ada juga Pak Jokowi yang dengan bantuan media berhasil mempopulerkan mobil Esemka-nya. Terbukti sekali bahwa media massa jika dikelola dengan baik dapat menjadi “penggerak” massa yang efektif.

Kembali ke internal HMIF, terobosan progker baru yaitu Pers HMIF dapat menjadi alternatif solusi untuk membentuk massa HMIF yang dinamis. Kita mengetahui kondisi masyarakat dari pemberitaan media, dan secara tidak sadar media lah yang menggerakkan opini masyarakat. Sebagaimana yang terjadi di masyarakat, kita pun dapat menerapkannya di HMIF dengan memanfaatkan pers untuk melakukan penyuasanaan dan membentuk opini anggota HMIF pada kegiatan atau isu-isu terbaru di himpunan. Praktiknya, Pers akan dikoordinasikan oleh Divisi Kominfo HMIF. Pers bertugas “menjemput bola” dalam mencari informasi-informasi terbaru, misalnya dengan mewawancarai ketua panitia sebuah kegiatan untuk mengetahui progressnya, atau wawancara pada kapten tim bola HMIF untuk mengetahui kesiapannya menghadapi kejuaraan tertentu. Setelah mendapatkan informasi, pers akan mengemas informasi tersebut dalam bentuk yang menarik, kemudian baru disebarkan melalui media informasi buletin, milis, grup fb, youtube, portal, atau media lain. Pemilihan media ini tentunya harus dilakukan secara kreatif sesuai dengan informasi yang ingin disampaikan, kecuali milis yang wajib tentunya, untuk memastikan keberterimaan massa HMIF pada informasi yang diberikan. Dengan adanya pers ini, harapannya seluruh anggota lebih aware pada kejadian-kejadian aktual himpunan yang kemudian dapat berlanjut pada rasa memiliki dari anggota pada kegiatan tersebut.

Karena sesungguhnya kekuatan informasi begitu besar, dia lah yang membentuk opini dan menggerakkan kita.