Category Archives: Informatika

Smart City, Munginkah Ada di Indonesia?


Jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan akan terus mengalami peningkatan dalam 25 tahun ke depan. Akibatnya bisa kita bayangkan, jumlah orang semakin banyak, sementara jumlah sumberdaya seperti ketersediaan lahan, hasil alam, fasilitas umum malah cenderung berkurang, kalau dihitung secara kasar maka setiap individu di Indonesia ini semakin lama akan mendapat “jatah” sumberdaya yang semakin sedikit. Masalah tersebut sebenarnya dialami oleh negara manapun di dunia terutama yang angka pertumbuhan penduduknya positif.

okkypratama-smart-city-1Ketika sumber daya yang sifatnya material semakin terbatas, justru ini lah saatnya membuktikan pernyataan “aset paling berharga dari sebuah organisasi, perusahaan, atau negara adalah sumber daya manusianya”. Saatnya bagi kita, dengan segala upaya dengan kecerdasan, kreativitas, kerja keras, dan kerja sama untuk mengelola sumber daya yang ada sehingga keterbatasan itu bukan menjadi masalah. Dengan solusi yang tepat, dalam keterbatasan pun kehidupan kita masih bisa lebih baik daripada sebelumnya. Usaha yang mulai berkembang saat ini adalah konsep yang disebut dengan smart city. Mengapa kota? tentu saja karena kota merupakan pusat kehidupan di suatu negara, selain itu permasalahan masyarakat pun banyak berpusat di kota.

Smart city dapat diidentifikasi dari enam aspek, yaitu:

  • smart economy
  • smart mobility
  • smart environment
  • smart people
  • smart living
  • smart governance

Salah satu contoh konkret mengenai smart city adalah konsep yang diteliti dan dikembangkan oleh sebuah tim di MIT yang dipimpin oleh Kent Larson. Konsep tersebut dapat dilihat di video berikut.  

Informasi yang lebih lengkap mengenai contoh-contoh kota yang memiliki konsep smart city dapat dilihat di situs http://www.smart-cities.eu/.

Smart city, mungkinkah ada di Indonesia?

Tulisan ini memang tidak menjawab pertanyaan tersebut, justru ini menjadi tantangan bagi kita. Pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab dengan kata-kata, cukup lah dijawab dengan aksi yang membuktikan kemana anak muda yang menjadi generasi penerus ini membawa Indonesia di masa depan.

gambar diambil dari: http://www.dailydealmedia.com/

Gaya Penggunaan Twitter


okkypratama-twitter

Sudah sekian lama sejak media sosial mulai booming di Indonesia, terutama sejak munculnya situs yang bernama Facebook yang dilanjutkan dengan Twitter yang mungkin lebih in sekarang. Saya yakin kamu baca ini juga termasuk satu diantara yang mengikuti tren ini.

Mengenai pergeseran tren dari Facebook ke Twitter ini pasti ada yang pro dan kontra, ya walaupun bukan isu sensitif yang menimbulkan konflik. Beberapa dari kita pasti pernah tahu ada teman yang nge-tweet atau menulis status di Facebook-nya yang kira-kira berarti “Facebook udah ga asik ni, pindah Twitter aja” atau pendapat berlawanan seperti “ga mau pake Twitter ah, banyak nyampahnya”. Dari kedua pernyataan baik yang pro maupun kontra dengan mulai berkembangnya Twitter tersebut sebenarnya bisa disimpulkan bahwa penggunaan media sosial khususnya di Indonesia sendiri adalah persoalan gaya hidup, soal suka dan tidak suka, bukan soal fungsional atau kegunaan. Padahal jika diperhatikan, baik Facebook maupun Twitter memiliki fungsionalitas yang membentuk karakternya masing-masing.

okkypratama-timeline

Saya pernah melihat (lupa kapan tepatnya) sebuah program di Metro TV yang membahas tentang Twitter. Narasumber saat itu menyatakan sebuah pernyataan yang ‘menempel’ di kepala dan saya pun setuju dengan pernyataannya, yaitu “Twitter adalah media sosial yang berbasis informasi, bukan pertemanan”. Sejak awal saya mengenalnya, Twitter ini memang menarik karena punya karakter yang unik, yang ternyata titik awal keunikannya baru saya sadari ketika mendengar pernyataan tadi. Dari hasil pengamatan di akun saya sendiri, berikut adalah daftar beberapa fenomena unik yang terjadi di Twitter menurut pandangan saya, ada yang baik ada juga yang aneh.

  1. Menggunakan mekanisme yang disebut ‘follow’ sifatnya satu arah. Kalau kita ingin memperoleh informasi dari seseorang atau organisasi cukup follow saja maka akan langsung kita dapatkan informasinya, ya kecuali yang akunnya protected. Kalau suatu saat kita merasa informasinya sudah tidak kita butuhkan atau sukai, tinggal unfollow saja.
  2. Pengguna cenderung seenaknya mengatakan apapun. Namanya juga tweet yang dapat diartikan setara dengan celetukan atau sekedar cuap, sampai-sampai hampir setiap aktivitasnya di-tweet-kan. Mungkin ini lah salah satu penyebab adanya orang yang menganggap Twitter banyak ‘sampah’-nya.
  3. Perkembangan informasi di Twitter begitu cepat. Dengan banyaknya pengguna yang men-tweet-kan apapun, maka timeline kita akan diserbu banyak sekali informasi yang terus ter-update tiap saatnya, entah informasi tersebut penting atau tidak. Terkait hal ini saya juga pernah mendengar ada yang berkomentar bahwa dia tidak terlalu suka menggunakan Twitter karena sulit mengikuti perkembangan informasinya. Tapi memang begitu adanya, namanya juga ocehan, setiap orang berhak, tetapi kita sebagai pendengar juga berhak untuk memutuskan mendengar ocehan tersebut atau tidak.
  4. Ada pengguna yang lebih banyak mem-follow akun brand atau organisasi daripada akun individual. Mungkin hal ini disebabkan karena banyaknya informasi yang tidak penting dari akun individual.
  5. Adanya fenomena meminta follow back(folback). Ini fenomena yang menurut saya kurang tepat, karena memang Twitter ini basisnya informasi, sederhananya kalau ingin mendapat informasinya, maka follow, kalau tidak ingin mendapat lagi, tinggal unfollow. Bukan berarti kalau tidak mem-follow berarti bukan teman, kalau meng-unfollow juga tidak berarti ingin berhenti berteman.

Daftar di atas mungkin saja bertambah, atau kalau ada teman-teman yang ingin menambahkan, silakan komentar saja disini.

[CEO Series] 3. Irfan Setiaputra (CEO PT Titan Mining Indonesia)


okkypratama-irfan setiaputra

Pak Irfan Setiaputra bisa dibilang sudah banyak makan asam garam di dunia industri Indonesia, mengawali karir di Departemen IT Bank Niaga, pernah menjabat sebagai Country Managing Cisco Indonesia dan Direktur Utama PT INTI. Dengan alasan gaji yang dirasa kurang mencukupi, Pak Irfan mundur dari posisinya di PT INTI kemudian menerima tawaran sebagai Direktur PT Titan Mining, perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batubara. Meskipun baru beberapa bulan menjalani, beliau mengaku mendapat banyak pelajaran dari pengalaman barunya di industri pertambangan, salah satunya beliau berkesempatan melihat realita Indonesia di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Banyak sekali kasus terganggunya pekerjaan perusahaan karena sengaja dihambat oleh pemerintah maupun penduduk setempat. Kondisi yang demikian menggugah beliau untuk mulai berpikir memajukan masyarakat di daerah dengan memberi mereka kesempatan mengenyam pendidikan yang baik.

Khusus untuk bidang Informatika, Pak Irfan mengungkapkan bahwa ke depan akan banyak sekali peluang. Fakta-fakta seperti jumlah pengguna smartphone  yang terus meningkat, jumlah pengguna Facebook dan Twitter yang termasuk salah satu yang terbanyak di dunia mengindikasikan bahwa bisnis di bidang teknologi informasi akan terus berkembang di masa depan. Kemudian beliau mengingatkan kepada kami para mahasiswa Teknik Informatika, bahwa untuk survive di dunia bisnis, kita harus terus berinovasi, seperti yang ditunjukkan oleh Google, Facebook, dan Apple. Mereka bukan yang pertama membuat produk di bidangnya masing-masing, tapi sentuhan inovasinya memberi nilai tambah yang membedakan dengan produk lain.

tulisan ini merupakan resume kuliah umum bertajuk “Informatika Mengajar” dengan pematerinya adalah Pak Irfan Setiaputra, alumni Teknik Informatika angkatan 1982. Informatika Mengajar sendiri diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Teknik Informatika ITB.

*gambar diambil dari: http://swa.co.id

Mengukur Efektivitas/Kualitas Sistem Informasi


Sistem Informasi seringkali salah dipersepsikan sebagai hanya sebuah software, padahal sebenarnya kedua hal tersebut tidak sepenuhnya sama. Sistem informasi dapat berupa software, sedangkan software belum tentu merupakan sistem informasi. Hal tersebut mengakibatkan adanya perbedaan dalam penentuan kualitas pada software dan sistem informasi. Kualitas sebuah software biasanya diukur dari beberapa parameter teknis seperti availability, reliability, safety, response time, dll. Berbeda dengan software, kualitas sebuah sistem informasi tidak hanya dilihat dari hal-hal teknis. Pengukuran kualitas atau efektivitas (effectiveness) pada sebuah sistem informasi dapat digolongkan menjadi goal-centered view dan system-resource view. 

Pada 1992, W. DeLone dan E. McLean membuat sebuah model untuk mengukur kualitas sistem informasi yang disebut “DeLone and McLean IS Success Model” atau biasa disebut D&M model. Menurut D&M, terdapat 6 poin yang menentukan kualitas sistem informasi, yaitu:

  1. System Quality
  2. Information Quality
  3. Use
  4. User Satisfaction
  5. Individual Impact
  6. Organizational Impact

D&M1992Setelah mempertimbangkan masukan-masukan yang ada, pada tahun 2003, W. DeLone dan McLean memperbarui modelnya dengan menambahkan poin service quality dan menggantikan poin individual impact dan organizational impact dengan net benefits.

D&M2003

Selain D&M model, ada juga teknik yang diajukan oleh Jerry Cha-Jan Chang dan William R. King untuk melakukan pengukuran kualitas sistem informasi. Teknik tersebut menggunakan tools yang disebut functional scorecard. Chang dan King mendefinisikan poin-poin yang menjadi penilaian kualitas sistem informasi pada tabel dibawah ini.

chang&king

sumber:

v(Duo PGN)v : Prolog Bandung-Jakarta


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

sebelumnya mari kita mulai post ini dengan salam, edisi menjelang Ramadhan, hehehe

Perkenalkan kami berdua yang dipertemukan oleh takdir sampai akhirnya sekarang bisa bersama se-KP di PGN (Perusahaan Gas Negara) dan sekamar di kosan di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Ada saya Okky(kiri), dan sebelah saya Maspri(kanan)

Sesuai judulnya, Prolog, jangan harap cerita ini tentang KP kami, sebelum masuk ke intinya kita mulai dulu dari cerita bagaimana kami berdua hari ini masih bisa dateng ke kantor dengan kondisi ala kadarnya. Sebenarnya KP kami sudah mulai sejak tanggal 25 Mei lalu, tapi cerita ini masih fresh karena baru terjadi hari ini(4 Juni) dan kemarin.

kemarin…

Berawal dari keinginan kami berdua untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan tinggal di Jakarta selama dua bulan ke depan, ada target kami berdua harus bisa hafal atau minimal kenal jalan-jalan di Jakarta dalam waktu dua bulan ke depan. Entah apa tujuannya, mungkin biar bisa cerita ke anak cucu kali ya, soalnya saya(Okky) tidak ada niat tinggal di Jakarta nantinya. Dari situ, muncul ide random dari kami berdua untuk membawa motor ke Jakarta. Kalau dipikir-pikir ngapain gitu ya? Orang tua kami juga berpikiran sama sebenarnya, jadi lah kami beliau berempat tidak merestui niat suci kami.

Tapi ya namanya anak muda, tidak aneh dong rebel dikit, hehe. Jadi lah akhirnya kami tetap berangkat ke Jakarta dengan motor saya tercinta, sebut saja namanya Juwita(gambar menyusul). Kami berdua meluncur dari gerbang depan kampus sekitar jam 2 siang. Perlu diketahui sebelumnya, tidak satupun diantara kami berdua yang tahu jalan, tapi ya sudahlah, nyasar juga masih di Pulau Jawa. Menunggangi Juwita tercinta, Cimahi, Padalarang, Cianjur, Puncak, muter-muter di Bogor, Cibinong, semua kami libas sampai akhirnya Alhamdulillah masih bisa sampai di kosan sekitar jam 9 malam.

Dasar Maspri, baru sampai di kosan sudah ada lagi masalah baru, ternyata kunci kamar kosan ketinggalan di Bandung! dan ibu pemegang kunci duplikatnya baru datang besok! Ampun deh, untung penjaga kosannya baik jadi kami diungsikan ke kamar lain yang masih kosong, udah gitu kamarnya lebih bagus dari kamar kami berdua, fufufu.

hari ini…

Ketinggalan kunci kamar ternyata tidak cuma memunculkan masalah di mana kami tidur. Persoalan makin pelik karena alat mandi dan sepatu kerja kami berdua ada di dalam kamar, padahal kami harus ke kantor hari ini! Gimana jadinya? ya gimana lagi, paginya kami mandi cuma berbekal air dan handuk, agak lucu sih rasanya, lebih baik sedikit daripada tidak sama sekali. Bagaimana dengan sepatu? Alhamdulillah cobaan tidak akan diberikan di luar batas kemampuan. Kami pun berhasil menemukan solusinya sampai akhirnya kami berdua bisa ke kantor dengan bersepatu. Ini nih penampakannya

Bukan bermaksud pamer sepatu ya, ga ada yang bisa dipamerin juga. Nah, jadi yang sebelah kanan itu Maspri dengan sepatu futsal putihnya yang kebetulan baru dibawa dari Bandung, yang sebelah kanan itu saya dengan sepatu colongan(minjem ga bilang2) ke tetangga kamar sebelah yang katanya lagi keluar dan baru kembali hari Selasa(5 Juni).

Alhamdulillah, sekian dulu post pertama dari Duo PGN.

Semoga bermanfaat, walaupun susah ditemukan sebelah mana manfaatnya, hehe

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

*original post : http://kpinfantri09.wordpress.com/2012/06/04/vduo-pgnv-prolog-bandung-jakarta/

Data Flow Diagram


Data Flow Diagram atau biasa disingkat dengan DFD adalah salah satu cara untuk memodelkan proses dalam analisis dan perancangan perangkat lunak, khususnya dengan pendekatan terstruktur.

DFD memiliki tiga komponen di dalamnya, yaitu:

1. External Entity

Merupakan entitas luar yang berinteraksi langsung dengan sistem, bisa dalam bentuk memberikan data ke dalam sistem, menerima data dari sistem, atau keduanya.

2. Proses

Merepresentasikan proses yang terjadi di dalam sistem, biasanya digambarkan dalam bentuk lingkaran(bubble).

3. Data store

Merepresentasikan tempat penyimpan data dalam sistem.

4. Aliran data

Merepresentasikan data yang mengalir dari sumber data ke tujuan, bisa dari proses ke proses lain, dari external entity ke proses, atau dari proses ke external entity.

Satu hal penting yang menjadi concern utama dalam pembuatan DFD adalah konsistensi. Berikut beberapa aturan untuk menjaga konsistensi DFD:

1. Proses

  • menggunakan label berupa kata kerja (missal: memroses gambar)
  • minimal memiliki satu masukan dan satu keluaran

2. Data store

  • data tidak dapat dipindahkan secara langsung dari data store satu ke data store yang lain
  • data tidak dapat dipindahkan langsung dari external entity ke data store, dan sebaliknya dari data store ke external entity
  • menggunakan label berupa kata benda (missal: gambar)

3. Aliran data

  • hanya memiliki satu arah
  • data tidak dapat kembali secara langsung ke proses yang sama
  • aliran data ke data store berarti melakukan pengubahan data(hapus atau ubah)
  • aliran data dari data store berarti mengambil data
  • menggunakan label berupa kata benda

Dalam melakukan pemodelan proses, dibutuhkan beberapa level DFD agar proses yang dimodelkan tersebut sesuai dengan sistem yang diinginkan.  Semakin tinggi level DFD menunjukkan pemodelan yang semakin rinci.

1. DFD Level 0 (Diagram Konteks)

DFD level 0 atau bisa juga disebut diagram konteks merupakan gambaran bagaimana sistem berinteraksi dengan external entity.

2. DFD Level 1

gambar diambil dari: buku Roger S. Pressman, Software Engineering 6th Edition

Level 1 menunjukkan proses-proses utama yang terjadi di dalam sistem yang sedang dibangun.

3. DFD Level 2 dst.

gambar diambil dari: buku Roger S. Pressman, Software Engineering 6th Edition

DFD Level 2 merupakan penjabaran lebih rinci dari DFD level 1. Setiap bubble proses pada DFD level 1 dapat dimodelkan secara lebih terperinci menjadi sebuah DFD lagi. Apabila diperlukan setiap bubble proses pada DFD level 2 juga dapat diperinci menjadi DFD level 3, begitu seterusnya. Perincian DFD berhenti sampai proses yang ada bersifat atomik (sudah cukup mendetail dan tidak dapat diperinci).

Referensi : slide kuliah Sistem Informasi Teknik Informatika ITB, oleh: Pak Mary Handoko

Semoga bermanfaat 🙂

Pers HMIF : Kunci Internal yang Dinamis


Tulisan ini mengenai salah satu program kerja saya dalam pencalonan sebagai calon ketua HMIF ITB, silakan disimak 🙂

Bagaimana pendapat teman-teman mengenai semangat anggota HMIF dalam berkegiatan?

Tampaknya harus diakui memang masih loyo, banyak kegiatan-kegiatan yang berjalan ala kadarnya karena kurang antusiasnya anggota. Tentunya kita sangat mendambakan kondisi internal HMIF yang dinamis kan? Kondisi dimana anggota bersemangat dalam kegiatan-kegiatannya, dimana anggota yang belum mendapat kesempatan untuk berpartisipasi aktif pun bisa ikut merasa memiliki dan mendukung kegiatan-kegiatan di HMIF.

Sekarang mari kita pinggirkan sejenak pikiran soal internal HMIF. Kita beralih ke isu di luar. Tahukah kamu siapa Silvio Berlusconi? Ya, dia adalah mantan perdana menteri Italia yang sempat terlibat banyak skandal tetapi masih bisa terpilih kembali menjadi Perdana Menteri beberapa tahun setelahnya. Bagaimana bisa? Kekuatan media lah jawabannya(fyi, Berlusconi memiliki perusahaan yang membawahi stasiun televise dan surat kabar). Kita lihat contoh di Indonesia, ada Pak Dahlan Iskan yang banyak mendapat simpati karena tindakannya yang melakukan sidak rute KRL dengan naik KRL ekonomi dan kebetulan diliput media, ada juga Pak Jokowi yang dengan bantuan media berhasil mempopulerkan mobil Esemka-nya. Terbukti sekali bahwa media massa jika dikelola dengan baik dapat menjadi “penggerak” massa yang efektif.

Kembali ke internal HMIF, terobosan progker baru yaitu Pers HMIF dapat menjadi alternatif solusi untuk membentuk massa HMIF yang dinamis. Kita mengetahui kondisi masyarakat dari pemberitaan media, dan secara tidak sadar media lah yang menggerakkan opini masyarakat. Sebagaimana yang terjadi di masyarakat, kita pun dapat menerapkannya di HMIF dengan memanfaatkan pers untuk melakukan penyuasanaan dan membentuk opini anggota HMIF pada kegiatan atau isu-isu terbaru di himpunan. Praktiknya, Pers akan dikoordinasikan oleh Divisi Kominfo HMIF. Pers bertugas “menjemput bola” dalam mencari informasi-informasi terbaru, misalnya dengan mewawancarai ketua panitia sebuah kegiatan untuk mengetahui progressnya, atau wawancara pada kapten tim bola HMIF untuk mengetahui kesiapannya menghadapi kejuaraan tertentu. Setelah mendapatkan informasi, pers akan mengemas informasi tersebut dalam bentuk yang menarik, kemudian baru disebarkan melalui media informasi buletin, milis, grup fb, youtube, portal, atau media lain. Pemilihan media ini tentunya harus dilakukan secara kreatif sesuai dengan informasi yang ingin disampaikan, kecuali milis yang wajib tentunya, untuk memastikan keberterimaan massa HMIF pada informasi yang diberikan. Dengan adanya pers ini, harapannya seluruh anggota lebih aware pada kejadian-kejadian aktual himpunan yang kemudian dapat berlanjut pada rasa memiliki dari anggota pada kegiatan tersebut.

Karena sesungguhnya kekuatan informasi begitu besar, dia lah yang membentuk opini dan menggerakkan kita.

Asal Usul Visi #satuHMIF


Tulisan ini berisi tentang latar belakang dan penjelasan mengenai visi yang saya bawa sebagai calon ketua HMIF ITB. Silakan disimak…

Himpunan Mahasiswa Informatika ITB, dengan usianya yang relatif muda bisa dibilang masih dalam tahapan berkembang menemukan bentuk terbaiknya. Dari cerita beberapa teman, senior, “sesepuh” himpunan, dan pengalaman saya sendiri di HMIF sejak sekitar satu setengah tahun yang lalu cukup tergambar bahwa HMIF mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Khususnya dalam dua tahun terakhir, Filman Ferdian sebagai ketua himpunan periode 2010-2011 cukup mampu membangun fondasi yang kokoh bagi bangunan HMIF dengan melakukan perombakan struktur dan budaya yang ada di HMIF. Lyco Adhy Purwoko sebagai ketua berikutnya dengan visi progresifnya telah membawa warna baru dalam bidang keprofesian, sebuah budaya baru yang mengembalikan jati diri HMIF sebagai Himpunan Mahasiswa Informatika yang berasaskan keprofesian. Dapat diibaratkan bahwa kepengurusan Lyco menambahkan sebuah pilar diatas fondasi yang sudah dibangun sebelumnya, pilar tersebut adalah keprofesian.

Mundur sedikit ke belakang jika kita coba mempertanyakan untuk apa sebenarnya HMIF atau himpunan lain di ITB ini didirikan? Tidak lain adalah sebagai wadah aktualisasi diri bagi anggotanya untuk memenuhi amanah yang tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Himpunan sebagai salah satu wadah bagi mahasiswa ITB, khususnya prodi Teknik Informatika dan Sistem dan Teknologi Informasi, untuk mengembangkan diri sehingga ketika lulus nanti mampu menjadi lulusan yang memenuhi ketiga poin Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut atau biasa disebut sebagai sarjana seutuhnya. Jika dibandingkan dengan perkembangan kondisi HMIF sampai sekarang, dengan fondasi yang sudah terbangun, dengan pilar pendidikan yang semakin berkembang dari tahun ke tahun, dan pilar keprofesian yang mulai berdiri, masih ada satu pilar lagi yang harus dibangun yaitu pilar pengabdian masyarakat. Poin ketiga dari Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut memang kurang mendapat perhatian dalam perkembangan HMIF akhir-akhir ini sehingga berangkat dari hal tersebut kami membawa harapan HMIF yang mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat dan anggota-anggotanya yang mampu memberi manfaat bagi masyarakat, keluarga, atau bahkan teman-teman terdekat dalam satu himpunan yang dirangkum dalam satu kata kontributif.

Sebuah fenomena unik terjadi ketika mahasiswa Teknik Informatika dan Sistem dan Teknologi Informasi ITB bingung ketika ditanya kontribusi apa yang bisa diberikan oleh seorang mahasiswa informatika? Salah satu jawaban yang paling nyata tentu saja karya. “With great power comes great responsibility”. Sebagai mahasiswa informatika dari institut terbaik bangsa, wajar jika karya kita sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Untuk menjawab harapan tersebut tentunya diperlukan karya-karya mahasiswa informatika ITB yang tidak hanya inovatif tetapi juga memberi manfaat untuk orang lain, atau dengan kata lain dibutuhkan karakter kreatif dalam HMIF baik secara individu anggotanya maupun himpunan secara keseluruhan. Dalam proses menuju kreasi untuk kontribusi tersebut, tentu saja harus diawali dengan pembentukan karakter yang saling membangun, tidak hanya melalui kaderisasi secara formal dari HMIF untuk anggotanya, tetapi juga kaderisasi secara informal ketika antaranggota dapat saling berbagi ide, ilmu, dan pembelajaran lainnya yang dapat diwakili oleh sebuah kata konstruktif. Didapatlah sebuah tujuan yaitu HMIF yang konstruktif, kreatif, dan kontributif.

Tujuan tersebut ternyata belum cukup menjawab kondisi HMIF sekarang yang arah geraknya cenderung terbagi ke beberapa bagian dan terpisah ke banyak arah. Struktur yang ada semisal divisi, angkatan, atau lembaga seolah memunculkan batas antaranggota divisi satu dengan divisi yang lain, angkatan satu dengan lainnya, dan sebagainya. Hal tersebut berakibat pada kurang terselurkannya minat dan kerja keras anggota HMIF untuk berkontribusi bagi himpunannya karena kontribusi yang diberikan mungkin cukup memajukan divisinya, angkatannya, atau lembaganya tetapi belum memajukan HMIF secara keseluruhan. Akar dari permasalahan tersebut adalah kurang adanya perasaan satu tujuan untuk HMIF atau mungkin kurang adanya penekanan pada hal tersebut. Untuk menjawab permasalahan tersebut dimasukkan lah kata ‘Satu’ yang mewakili cara untuk menjalani proses mencapai tujuan yaitu dengan bergerak secara satu HMIF walaupun dengan perannya masing-masing, singkatnya “think globally act locally”. Kata Satu ini akhirnya melengkapi visi yang kami bawa menjadi “Satu HMIF yang konstruktif, kreatif, dan kontributif.”

SATU pembelajaran, SATU kreasi, SATU kontribusi

#satuHMIF

 

Yudha Okky Pratama

13509005

 

Prelude #satuHMIF


Halo teman-teman semua, sudah sebulan lebih sejak tulisan terakhir saya, akhirnya Okky kembali dengan cerita baru yang cukup menyita waktu dan pikiran akhir-akhir ini, mungkin ini juga sebabnya jadi kekurangan waktu untuk menulis disini. Ini sengaja saya tulis, terlepas dari bagaimanapun jadinya nanti, pasti akan jadi satu memori penting dalam hidup saya. Mari kita simak sebentar…

Jadi langsung saya sampaikan saja inti ceritanya adalah tentang saya yang Insya Allah sekarang sedang menjadi Calon Ketua Himpunan Mahasiswa Informatika (HMIF) ITB untuk periode 2012-2013. Bagi teman-teman yang belum tahu, HMIF ITB adalah organisasi mahasiswa yang anggotanya terdiri mahasiswa program studi Sistem dan Teknologi Informasi dan Teknik Informatika di ITB. Fakta menarik bahwa sebenarnya kami, anggotanya, lebih memandang HMIF sebagai sebuah keluarga daripada sebuah organisasi. Singkatnya, HMIF ini menjadi wadah bagi anggotanya untuk belajar berorganisasi (atau berkeluarga.hehe) dan berkegiatan kemahasiswaan seperti pengabdian masyarakat, pendidikan karakter, dan keprofesian yang melatih softskill dan penerapan keilmuan yang tidak sekedar teoretis sebagai pelengkap ilmu yang didapat di bangku perkuliahan.

Sekitar satu setengah tahun sudah saya menjalani manis pahit kehidupan di ITB termasuk salah satunya di HMIF ITB, dimana saya paling banyak menghabiskan waktu disana. Selama menjalani momen demi momen di HMIF, ada yang hanya sebagai penonton, peserta, atau eksekutor langsung, saya yang Alhamdulillah diberi petunjuk berupa pemikiran kritis (walaupun kadang ini bisa jadi kekurangan), keinginan untuk memberikan sesuatu yang tidak biasa, dan ide yang banyak selama keberjalanan menghasilkan cukup banyak evaluasi dari saya sendiri. Evaluasi tersebut kadang saya utarakan langsung dalam sebuah forum, atau didiskusikan bersama teman-teman terdekat, atau bahkan mungkin saya pikirkan sendiri, seringkali jadi bergumam dalam hati, “wah ini bakal lebih keren kalo begini…, ini bisa lebih luar biasa hasilnya kalo dibegitukan…, kalo bikin itu bagus kali ya…” dan masih banyak lainnya. Dari ide-ide random itu lama kelamaan semacam tersusun sendiri di kepala menjadi harapan-harapan tentang keluarga HMIF yang tidak sekedar lebih baik, tapi yang awesome dan bisa dibanggakan tentunya.

Perlu teman-teman tahu bahwa sebenarnya saya memiliki keinginan atau cita-cita yang tidak lazim dimiliki seorang mahasiswa informatika pada umumnya, apalagi dari ITB yang seharusnya kata orang cukup membawa nama kampus saja peluang kerja sudah terbuka lebar dan kehidupan yang sejahtera sudah menanti. Ya, beberapa teman dekat saya mungkin sudah tahu kalau sebenarnya saya bercita-cita menjadi seorang pengusaha, saya telah memilih jalan itu dan saya ingin memulainya sebelum saya lulus dari kampus Ganesha tercinta ini, perlu saya tegaskan bahwa saya sangat serius dengan hal ini. Sesekali saya sempat berfikir soal benar atau tidaknya cita-cita saya ini karena pada umumnya bukan ini yang seharusnya saya cita-citakan, karena itulah saya bertekad untuk segera melakukan pembuktian, bukan pada orang lain, tapi pada diri saya sendiri bahwa keputusan saya tepat, saya bisa menjalaninya.

Kembali ke kehidupan HMIF. Selama saya berkegiatan di HMIF, pada saat-saat tertentu beberapa kali ada celetukan-celetukan dari beberapa teman yang meminta saya untuk maju menjadi kahim (ketua himpunan) yang tidak terlalu saya pikirkan. Kemudian sampai lah saat-saat menjelang akhir kepengurusan periode 2011-2012, suasana di HMIF sudah mulai ada gejolak-gejolak untuk pergantian kepengurusan. Ketua panitia pemilu terpilih, jajaran panitia terbentuk, makin banyak juga teman-teman yang meminta saya, ada yang berkata “Jadi kahim sana”, ada juga yang bilang “Gue dukung lo ntar, gampang lah”. Beberapa terlihat bercanda, tapi ada juga yang serius. Walaupun begitu, saya jawab “Tidak, no, enggak,….” Karena dengan satu paragraf alasan saya di atas membuat saya tidak terfikirkan sedikitpun untuk mengambil tanggung jawab sebagai ketua HMIF. Seiring berjalannya waktu, mulai ada perasaan galau mendekati dibukanya pendaftaran Bakal Calon Ketua Himpunan. Beberapa teman mulai terlihat serius meminta saya untuk maju, jadilah akhirnya saya mulai berpikir soal ini dan semakin dipikir semakin galau, hehehe.

Setiap ada waktu luang sedikit secara otomatis pikiran saya langsung mengarah kesana, tapi ya begitulah namanya galau, tidak ada solusi yang didapatkan. Kemudian sayapun mencoba mencari solusinya dengan berdoa mohon petunjuk dan coba berkonsultasi ke beberapa orang, teman-teman dekat, orang-orang yang lebih senior dan berpengalaman, dan tentu saja pastinya orang tua. Saya coba menyampaikan kondisi yang sedang saya alami waktu itu, adanya teman-teman yang berharap saya maju, ada modal visi walaupun masih random, saya sampaikan juga berbagai constraint yang dihadapi. Saran yang masuk pun bermacam-macam, ada yang bilang “ini masih tahap pembelajaran, jangan dipikir terlalu berat”, “kalo aku jadi kamu pasti udah maju”, “ikutin aja kata hatimu”. Yah, dengan berbagai saran yang masuk, walaupun sebagian besar condong mendukung saya untuk memutuskan maju, saya masih belum mantap saat itu, sampai akhirnya saya memutuskan kalau saran paling bijaksana untuk saat ini, sama seperti saat-saat sulit lainnya yang pernah saya hadapi, adalah saran orang tua. Lagipula memang Ridha Allah tergantung Ridha orang tua :). Akhirnya saya pun coba menelepon orang tua untuk mengutarakan soal ini, dan ternyata keputusan saya bertanya itu benar, jawaban yang diberikan pun tidak mengecewakan. Orang tua tidak secara langsung bilang “kamu maju saja” atau “kamu jangan maju” tapi “pilih jalan yang paling banyak manfaatnya”. Tanpa berpikir keras saya langsung tahu mana yang paling bermanfaat untuk saat ini, untuk diri sendiri, dan terutama untuk teman-teman saya di HMIF. Dengan mantap saya pun langsung ambil keputusan…

Bismillah… Okky ikhlas dan siap maju menjadi Ketua HMIF periode 2012-2013…

Mohon doanya dari teman-teman semua 🙂

Transformasi Framework untuk Model Driven Architecture



Framework yang digunakan dalam MDA terdiri dari Computational Independent Model (CIM), Platform Independent Model (PIM), dan Platform Specific Model (PSM). Pertama, diawali dengan CIM, sebuah model yang menggambarkan proses bisnis dari sistem tanpa detil implementasi, ditransformasikan menjadi PIM, sebuah model high level yang berkaitan dengan konsep komputasional tetapi tidak mencakup platform implementasi. Berikutnya, dari PIM ditransformasikan menjadi PSM, sebuah model dengan platform implementasi tertentu,  kemudian ditranslasikan menjadi kode program.

Gambar diatas menunjukkan rincian proses yang terjadi dalam transformasi dari setiap model dalam framework Model Driven Architecture. Transformasi dari PIM menjadi PSM dapat dilakukan dengan perangkat lunak untuk transformation definition. Misalkan language 1 adalah UML (Unified Modeling Language) dan language 2 adalah Java, berarti kelas-kelas yang dibuat dalam UML dapat dipetakan menjadi Java classes, UML attributes menjadi Java attributes, dan UML operations menjadi Java method. Untuk setiap language dan trasformation definition language terdapat metalanguage yang mendeskripsikan bagaimana transformasi tersebut dijalankan, secara umum disebut metamodel. Model dideskripsikan oleh metamodel, metamodel dideskripsikan oleh tingkatan yang lebih tinggi lagi yaitu metametamodel. Beberapa metametamodel standar antara lain Meta Object Facility Language (MOF) dan Ecore.

sumber : http://modeldrivenarchitecture.wordpress.com/