Category Archives: Sosial

Perang Saudara Terus, Gimana Mau Maju?


okkypratama-indonesiaSiapa sih diantara kita orang Indonesia yang tidak pernah mengkritik atau mengeluhkan kondisi negerinya sendiri? Tingkat korupsi tinggi, kemiskinan dimana-mana, pendidikan kurang maju, dll. Jadi sebenarnya sudah jelas apa yang kita semua inginkan. Kita ingin Indonesia menjadi negara terpandang di mata Internasional dengan segala kelebihan dan prestasi yang kita miliki. Tapi coba perhatikan dulu beberapa quotes yang menurut saya menarik:

  • Gimana Indonesia mau maju, di dalam negeri sendiri saja sudah saling sikut. – lupa siapa
  • Satu lagi yang bikin gemeez, #Kita (orang Indonesia) rada ga suka dengan perbedaan pendapat. Helloo..beda pendapat biasa aja kali.. jangan jadi musuhan! – Handry Satriago
  • Negara kita ini lagi berkembang lho, kita jangan terkotak-kotak, mana karya yg lebih bagus ato gimana, kita masih berkembang, kita harus saling support – Herjunot Ali

Sampai sini saja, lanjutannya sudah saatnya kita pikirkan masing-masing…

*gambar diambil dari: http://www.patchdepot.co.uk/

Advertisements

Sistem Pendidikan FInlandia Nomor Satu di Dunia


okkypratama-finland-educationgambar diambil dari: http://edudemic.com/

Banyak pihak mengganggap belum mampunya Indonesia menjadi salah satu negara yang menjadi leader di dunia global dikarenakan masih buruknya sistem pendidikan di negeri ini. Kalau memang sistem pendidikan di Indonesia buruk, lalu seperti apa yang dianggap baik?

Kita bisa mengambil contoh dari negara Finlandia yang mendapat predikat Best Education In The World menurut global report dari Pearson, sebuah education firm ternama di dunia. Berikut fakta-fakta sistem pendidikan di Finlandia yang menjadikannya nomor satu se-dunia:

  1. Anak-anak belum boleh sekolah sebelum berumur 7 tahun. Hal ini dikarenakan sebelum usia tersebut masih waktunya anak-anak bermain dan mengasah kreativitas. Selain itu, hal tersebut juga untuk memastikan bahwa anak-anak sudah siap menerima pengajaran.
  2. Anak-anak tidak diberikan penilaian atau diukur pada 6 tahun awal pendidikannya.
  3. Hanya ada satu ujian standarisasi yang diambil pada usia 16 tahun.
  4. Tidak ada pemisahan antara kelas unggulan dan bukan unggulan.
  5. 66 persen siswa berhasil melanjutkan ke jenjang perkuliahan.
  6. 93 persen orang Finlandia minimal lulusan high school (setara SMA).
  7. Guru di Finlandia minimal bergelar Master.
  8. Guru hanya dipilih dari 10 persen lulusan tertinggi.
  9. Guru merupakan pekerjaan terhormat (setara dokter dan lawyer).
  10. Guru merancang sendiri kurikulum yang akan diajarkan
  11. Tidak membebani siswa dengan jam sekolah yang tinggi dan pekerjaan rumah yang banyak.
  12. Satu kelas berisi maksimal 20 sisswa yang dilayani 3 orang guru.
  13. Pendidikan gratis 100 persen, termasuk di sekolah swasta.

Bagaimana dengan Indonesia? Silakan lihat sendiri di lingkungan sekitar 🙂

Sumber:

http://www.businessinsider.com/finlands-education-system-best-in-world-2012-11?op=1

http://www.huffingtonpost.com/2012/11/27/best-education-in-the-wor_n_2199795.html

http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/04/16/149252/Finlandia-Punya-Cara-Bikin-Siswa-Cerdas/7

Surat Terbuka untuk Calon Walikota Malang


Yang terhormat Bapak/Ibu yang nantinya menjadi calon walikota Malang 2013.

Assalamualaikum Wr. Wb.

Mohon maaf sebelumnya apabila yang saya tulis ternyata kurang relevan atau kurang berbobot. Dengan latar belakang saya yang hanya warga Malang biasa yang sekarang sedang menuntut ilmu di salah satu universitas di Bandung, saya akui saya tidak terlalu paham soal politik ataupun kebijakan pengelolaan kota. Hanya saja saya harap kalau ada yang membaca tulisan ini, mohon dengan sangat untuk dipertimbangkan.

Bapak/Ibu, saya banyak mendengar komentar-komentar miring kalau kota Malang kurang mengalami kemajuan dalam lima tahun terakhir, bahkan cenderung mengalami kemunduran. Sayangnya saya pun setuju dengan komentar-komentar tersebut. Walaupun dalam tiga tahun terakhir saya ke Malang hanya dua-tiga kali tiap tahunnya, memang saya amati tidak ada perkembangan berarti pada kota kita tercinta ini. Positifnya, suasana nostalgia yang kuat selalu terasa ketika saya turun dari kereta Malabar di stasiun Kota Baru Malang, karena hampir segalanya tampak sama seperti empat bulan sebelumnya ketika terakhir saya pulang kesana, bahkan masih sama juga seperti lima tahun yang lalu ketika saya masih di bangku SMA. Singkatnya, tidak ada kemajuan.

Apakah benar separah itu sampai tidak ada perubahan atau pembangunan sama sekali? Baiklah, saya memang berlebihan kalau bilang tidak ada perubahan sama sekali. Khusus untuk pembangunan, ada pembangunan satu mall baru yang lumayan besar, ada apartemen di pinggir jurang, ada juga pembangunan ruko-ruko mewah. Untuk perubahan? ada sedikit perubahan dari semakin macetnya jalan, semakin banyaknya kasus-kasus di bidang pendidikan (termasuk di SMA saya), dan mulai terjadi banjir (padahal Malang termasuk daerah yang tinggi, tanya kenapa?).

Dengan kondisi yang demikian, apa rencana Bapak/Ibu ke depan? Kalau yang Bapak/Ibu rencanakan adalah menjadikan Malang sebagai kota metropolitan, sebaiknya urungkan niat untuk menjadi calon walikota. Kalau dalam pandangan Bapak/Ibu yang disebut pembangunan adalah semakin banyaknya gedung bertingkat, yang berakibat pada semakin kurangnya kawasan hijau, semakin macetnya jalan, semakin banyaknya polusi, dan semakin seringnya banjir, jelas bukan itu yang kami inginkan.

Jadi apakah kota Malang tidak butuh pembangunan? Pasti perlu, tapi tentunya bukan pembangunan seperti tersebut diatas yang kami inginkan. Pembangunan yang kami inginkan sederhana saja, pendidikan yang berkualitas dan bebas politisasi(katanya kota pendidikan?), pelayanan dan  fasilitas umum yang lebih baik, serta kebersihan dan keamanan yang terjaga. Yang kami inginkan adalah kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil dan menengah karena mereka lah yang butuh perlindungan untuk kehidupan yang aman dan nyaman. Secara pribadi saya berharap kota Malang tetap menjadi kampung halaman yang selalu bisa dirindukan, tetap menjadi Malang yang aman, nyaman, sejuk, indah, bebas banjir dan macet, dan menjadi tempat pulang yang nyaman bagi kami-kami yang merantau.

Sekian surat dari saya, terima kasih kalau ada Bapak/Ibu calon walikota yang membaca, semoga Anda selalu ingat kalau jabatan adalah amanah yang nantinya harus dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun akhirat. Mohon maaf kalau ada kata-kata yang menyinggung.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Best regards,

Yudha Okky Pratama

Hati-Hati Pemaksaan Ideologi


gambar diambil dari : http://nspt4kids.com/

Wah, baca judulnya saja sudah berat ya? haha.

Tenang saja, disini saya tidak akan mengajak berpikir terlalu berat, karena sebenarnya hal ini bukan untuk dipikirkan dengan kepala kita yang gampang pusing ini, hehe. Cukup lah direnungi dan dirasakan dengan hati nurani.

Siapa pernah jadi panitia OS (Orientasi Studi)? Pasti banyak kan ya?

Dalam OS, kita yang panitia berusaha sekuat mungkin agar peserta OS melakukan apa yang kita rancang agar mereka menjadi seperti yang kita mau. Jadinya, kalau ada yang salah-salah langsung dimarahi dengan dalih ini demi kebaikan mereka, tapi bagaimana kalau sampai ada peserta yang dibenci, dimusuhi, dll karena tidak sesuai dengan kemauan panitia? Oke, tidak semua seperti itu, tapi harus diakui ada yang seperti itu.

Yakinkah kamu kalau apa yang kamu sampaikan/perintahkan itu benar? Bro, sadarlah kita ini manusia yang banyak salahnya! Lalu kenapa memaksa, sementara agama saja tidak memaksa? Silahkan disimpan dalam hati saja jawabannya.

IMHO, tidak salah kalau kita punya keyakinan kuat atas prinsip kita, it’s okay kalau kita mau menyampaikan keyakinan kita ke banyak orang, tapi saya rasa jelas bukan ide yang bagus untuk memaksakannya ke orang lain.

Kalau yang kita paksakan ternyata salah, lalu orang lain ikut salah, kita juga yang kena dosanya kan?

Saya pun tidak memaksakan soal ini (biar menjiwai tulisannya,hehe), toh kita bertanggung jawab atas diri masing-masing, saya hanya berpendapat 🙂

[Kecerdasan Emosi] 2. Kenapa Bukan Logika?


Berikut ini adalah tulisan kedua dari seri [Kecerdasan Emosi] di House of Idea, ikut terus ya, silakan langsung kamu tulis komentar kalau kurang setuju atau ingin diskusi lebih lanjut 😀


Kita lihat isu yang sedang agak panas (atau mungkin selalu panas) di Indonesia, yaitu soal kebobrokan pemerintah, ada kasus korupsi, suap, penggelapan pajak, dan banyak lainnya. Kalau dipikir-pikir, memangnya sebodoh itu ya orang-orang yang bisa-bisanya melakukan hal-hal tercela (kata buku PPKn,hehe) seperti itu? Jawabannya pasti tidak, para elit politik itu pastinya adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi, banyak juga yang lulusan luar negeri. Lalu kenapa orang yang “pintar” itu masih melakukan perbuatan yang jelas-jelas sangat bodoh?

Saya jadi teringat ucapan seorang senior saya di ITB, bahwa sebenarnya kita tahu mana yang benar hanya saja seringkali kita tidak melakukannya. Para koruptor, pelaku suap, atau penggelap pajak yang akalnya masih sehat pasti secara logika mereka tahu bahwa hal tersebut tidak baik, tapi masih saja dilakukan. Pasti kita tahu bohong itu dosa, menggujingkan orang lain itu tidak baik, bolos kuliah itu salah, tapi banyak juga diantara kita yang masih sering melakukannya atau hal-hal lain yang sudah jelas-jelas salah. Ya begitu lah, saya akui hal itu sering terjadi juga pada saya, bagaimana dengan kamu? Renungkan saja dalam hati,hehe.

Oke, cukup dengan hal-hal yang tidak baiknya, sekarang coba kita ingat kembali ketika kita berbuat baik (pasti pernah dong), apa sih alasannya? Ketika kita memberi sedekah, ketika kita mendengarkan curhatan teman, atau minimal ketika kita meminta maaf dengan tulus, dilakukan bukan karena logika kita tahu bahwa hal tersebut baik, tapi karena perasaan dan sisi emosional kita lah yang mengatakan hal tersebut baik dan mendorong kita untuk melakukannya, dan seringkali secara spontan seolah-olah tanpa alasan. Karena itu juga lah kasus-kasus buruk yang dibahas diawal masih sering terjadi. Orang-orang tersebut tahu mana yang salah secara logika, tapi karena belum ada keterikatan secara emosional dan perasaannya tidak berkata bahwa yang ia lakukan itu salah, jadi yaa masih saja dilakukan.

Coba kita lihat satu contoh kasus tentang seorang anak, yang kebetulan anak ini seorang muslim, sebut saja namanya Alexander. Alexander merupakan anak semata wayang dalam keluarganya, yang kebetulan keluarga muslim. Sejak kecil Alexander tidak pernah diajarkan dan dibiasakan untuk shalat, orang tuanya pun tidak pernah memberi contoh yang baik soal ini. Ketika menginjak bangku Sekolah Dasar, di sekolah Alexander mendapat pelajaran agama Islam dan disana ia mulai tahu mengenai kewajiban shalat bagi seorang muslim, ia belajar tata cara shalat sampai hafal. Bagaimana hasilnya? Ternyata walaupun yang ia tahu dari pelajaran sekolah shalat itu wajib dan ia pun sebenarnya sudah hafal tata caranya tapi masih saja tidak dilakukan, apalagi memang orang tuanya di rumah kurang memberi teladan yang baik.

Coba kita bandingkan dengan seorang anak yang lain, sebut saja namanya Fransesco, yang juga seorang muslim. Sejak kecil Fransesco sudah dibiasakan untuk shalat lima waktu, selalu diajak ketika orang tuanya shalat di masjid. Kedua orang tua Fransesco benar-benar tegas kepadanya mengenai kewajiban shalat, bahkan ketika Fransesco susah dibangunkan ketika sudah masuk waktu shalat subuh, wajahnya diciprati air oleh ayahnya sampai ia bangun. Ketika tumbuh dewasa, Fransesco mendapat beasiswa untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Baru saja sampai di negeri asing tersebut, Fransesco langsung terkejut karena ternyata disana sangat sedikit sekali pemeluk Islam, sehingga sangat jarang ada yang shalat, termasuk teman-teman kuliahnya. Tapi toh ternyata, Fransesco tidak terlalu terpengaruh dengan hal tersebut dan masih rajin shalat bahkan lebih baik lagi dari sebelumnya.

Dua contoh tersebut menunjukkan bahwa adanya keterikatan secara emosional pada hal-hal yang dianggap baik, apalagi jika ditekankan sejak kecil, sangat berpengaruh pada perilaku kita. Walaupun logika kita tahu bahwa sutau perbuatan itu baik, tetapi perasaan kita belum berkata bahwa perbuatan tersebut baik, maka kemungkinan besar tidak akan dilakukan. Satu lagi bukti bahwa kecerdasan emosi lebih penting dari kecerdasan logika.


“Perbuatan baik yang tulus digerakkan oleh hati, bukan oleh pikiran. Bahkan ketika hati sudah tergerak, berbuat baik bukanlah suatu keharusan, tapi menjadi suatu keinginan.” 🙂

*maaf bahasanya agak kacau, dibikin sambil ngantuk,hehe