Category Archives: Sosial

Perang Saudara Terus, Gimana Mau Maju?


okkypratama-indonesiaSiapa sih diantara kita orang Indonesia yang tidak pernah mengkritik atau mengeluhkan kondisi negerinya sendiri? Tingkat korupsi tinggi, kemiskinan dimana-mana, pendidikan kurang maju, dll. Jadi sebenarnya sudah jelas apa yang kita semua inginkan. Kita ingin Indonesia menjadi negara terpandang di mata Internasional dengan segala kelebihan dan prestasi yang kita miliki. Tapi coba perhatikan dulu beberapa quotes yang menurut saya menarik:

  • Gimana Indonesia mau maju, di dalam negeri sendiri saja sudah saling sikut. – lupa siapa
  • Satu lagi yang bikin gemeez, #Kita (orang Indonesia) rada ga suka dengan perbedaan pendapat. Helloo..beda pendapat biasa aja kali.. jangan jadi musuhan! – Handry Satriago
  • Negara kita ini lagi berkembang lho, kita jangan terkotak-kotak, mana karya yg lebih bagus ato gimana, kita masih berkembang, kita harus saling support – Herjunot Ali

Sampai sini saja, lanjutannya sudah saatnya kita pikirkan masing-masing…

*gambar diambil dari: http://www.patchdepot.co.uk/

Sistem Pendidikan FInlandia Nomor Satu di Dunia


okkypratama-finland-educationgambar diambil dari: http://edudemic.com/

Banyak pihak mengganggap belum mampunya Indonesia menjadi salah satu negara yang menjadi leader di dunia global dikarenakan masih buruknya sistem pendidikan di negeri ini. Kalau memang sistem pendidikan di Indonesia buruk, lalu seperti apa yang dianggap baik?

Kita bisa mengambil contoh dari negara Finlandia yang mendapat predikat Best Education In The World menurut global report dari Pearson, sebuah education firm ternama di dunia. Berikut fakta-fakta sistem pendidikan di Finlandia yang menjadikannya nomor satu se-dunia:

  1. Anak-anak belum boleh sekolah sebelum berumur 7 tahun. Hal ini dikarenakan sebelum usia tersebut masih waktunya anak-anak bermain dan mengasah kreativitas. Selain itu, hal tersebut juga untuk memastikan bahwa anak-anak sudah siap menerima pengajaran.
  2. Anak-anak tidak diberikan penilaian atau diukur pada 6 tahun awal pendidikannya.
  3. Hanya ada satu ujian standarisasi yang diambil pada usia 16 tahun.
  4. Tidak ada pemisahan antara kelas unggulan dan bukan unggulan.
  5. 66 persen siswa berhasil melanjutkan ke jenjang perkuliahan.
  6. 93 persen orang Finlandia minimal lulusan high school (setara SMA).
  7. Guru di Finlandia minimal bergelar Master.
  8. Guru hanya dipilih dari 10 persen lulusan tertinggi.
  9. Guru merupakan pekerjaan terhormat (setara dokter dan lawyer).
  10. Guru merancang sendiri kurikulum yang akan diajarkan
  11. Tidak membebani siswa dengan jam sekolah yang tinggi dan pekerjaan rumah yang banyak.
  12. Satu kelas berisi maksimal 20 sisswa yang dilayani 3 orang guru.
  13. Pendidikan gratis 100 persen, termasuk di sekolah swasta.

Bagaimana dengan Indonesia? Silakan lihat sendiri di lingkungan sekitar 🙂

Sumber:

http://www.businessinsider.com/finlands-education-system-best-in-world-2012-11?op=1

http://www.huffingtonpost.com/2012/11/27/best-education-in-the-wor_n_2199795.html

http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/04/16/149252/Finlandia-Punya-Cara-Bikin-Siswa-Cerdas/7

Surat Terbuka untuk Calon Walikota Malang


Yang terhormat Bapak/Ibu yang nantinya menjadi calon walikota Malang 2013.

Assalamualaikum Wr. Wb.

Mohon maaf sebelumnya apabila yang saya tulis ternyata kurang relevan atau kurang berbobot. Dengan latar belakang saya yang hanya warga Malang biasa yang sekarang sedang menuntut ilmu di salah satu universitas di Bandung, saya akui saya tidak terlalu paham soal politik ataupun kebijakan pengelolaan kota. Hanya saja saya harap kalau ada yang membaca tulisan ini, mohon dengan sangat untuk dipertimbangkan.

Bapak/Ibu, saya banyak mendengar komentar-komentar miring kalau kota Malang kurang mengalami kemajuan dalam lima tahun terakhir, bahkan cenderung mengalami kemunduran. Sayangnya saya pun setuju dengan komentar-komentar tersebut. Walaupun dalam tiga tahun terakhir saya ke Malang hanya dua-tiga kali tiap tahunnya, memang saya amati tidak ada perkembangan berarti pada kota kita tercinta ini. Positifnya, suasana nostalgia yang kuat selalu terasa ketika saya turun dari kereta Malabar di stasiun Kota Baru Malang, karena hampir segalanya tampak sama seperti empat bulan sebelumnya ketika terakhir saya pulang kesana, bahkan masih sama juga seperti lima tahun yang lalu ketika saya masih di bangku SMA. Singkatnya, tidak ada kemajuan.

Apakah benar separah itu sampai tidak ada perubahan atau pembangunan sama sekali? Baiklah, saya memang berlebihan kalau bilang tidak ada perubahan sama sekali. Khusus untuk pembangunan, ada pembangunan satu mall baru yang lumayan besar, ada apartemen di pinggir jurang, ada juga pembangunan ruko-ruko mewah. Untuk perubahan? ada sedikit perubahan dari semakin macetnya jalan, semakin banyaknya kasus-kasus di bidang pendidikan (termasuk di SMA saya), dan mulai terjadi banjir (padahal Malang termasuk daerah yang tinggi, tanya kenapa?).

Dengan kondisi yang demikian, apa rencana Bapak/Ibu ke depan? Kalau yang Bapak/Ibu rencanakan adalah menjadikan Malang sebagai kota metropolitan, sebaiknya urungkan niat untuk menjadi calon walikota. Kalau dalam pandangan Bapak/Ibu yang disebut pembangunan adalah semakin banyaknya gedung bertingkat, yang berakibat pada semakin kurangnya kawasan hijau, semakin macetnya jalan, semakin banyaknya polusi, dan semakin seringnya banjir, jelas bukan itu yang kami inginkan.

Jadi apakah kota Malang tidak butuh pembangunan? Pasti perlu, tapi tentunya bukan pembangunan seperti tersebut diatas yang kami inginkan. Pembangunan yang kami inginkan sederhana saja, pendidikan yang berkualitas dan bebas politisasi(katanya kota pendidikan?), pelayanan dan  fasilitas umum yang lebih baik, serta kebersihan dan keamanan yang terjaga. Yang kami inginkan adalah kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil dan menengah karena mereka lah yang butuh perlindungan untuk kehidupan yang aman dan nyaman. Secara pribadi saya berharap kota Malang tetap menjadi kampung halaman yang selalu bisa dirindukan, tetap menjadi Malang yang aman, nyaman, sejuk, indah, bebas banjir dan macet, dan menjadi tempat pulang yang nyaman bagi kami-kami yang merantau.

Sekian surat dari saya, terima kasih kalau ada Bapak/Ibu calon walikota yang membaca, semoga Anda selalu ingat kalau jabatan adalah amanah yang nantinya harus dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun akhirat. Mohon maaf kalau ada kata-kata yang menyinggung.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Best regards,

Yudha Okky Pratama

Hati-Hati Pemaksaan Ideologi


gambar diambil dari : http://nspt4kids.com/

Wah, baca judulnya saja sudah berat ya? haha.

Tenang saja, disini saya tidak akan mengajak berpikir terlalu berat, karena sebenarnya hal ini bukan untuk dipikirkan dengan kepala kita yang gampang pusing ini, hehe. Cukup lah direnungi dan dirasakan dengan hati nurani.

Siapa pernah jadi panitia OS (Orientasi Studi)? Pasti banyak kan ya?

Dalam OS, kita yang panitia berusaha sekuat mungkin agar peserta OS melakukan apa yang kita rancang agar mereka menjadi seperti yang kita mau. Jadinya, kalau ada yang salah-salah langsung dimarahi dengan dalih ini demi kebaikan mereka, tapi bagaimana kalau sampai ada peserta yang dibenci, dimusuhi, dll karena tidak sesuai dengan kemauan panitia? Oke, tidak semua seperti itu, tapi harus diakui ada yang seperti itu.

Yakinkah kamu kalau apa yang kamu sampaikan/perintahkan itu benar? Bro, sadarlah kita ini manusia yang banyak salahnya! Lalu kenapa memaksa, sementara agama saja tidak memaksa? Silahkan disimpan dalam hati saja jawabannya.

IMHO, tidak salah kalau kita punya keyakinan kuat atas prinsip kita, it’s okay kalau kita mau menyampaikan keyakinan kita ke banyak orang, tapi saya rasa jelas bukan ide yang bagus untuk memaksakannya ke orang lain.

Kalau yang kita paksakan ternyata salah, lalu orang lain ikut salah, kita juga yang kena dosanya kan?

Saya pun tidak memaksakan soal ini (biar menjiwai tulisannya,hehe), toh kita bertanggung jawab atas diri masing-masing, saya hanya berpendapat 🙂

[Kecerdasan Emosi] 2. Kenapa Bukan Logika?


Berikut ini adalah tulisan kedua dari seri [Kecerdasan Emosi] di House of Idea, ikut terus ya, silakan langsung kamu tulis komentar kalau kurang setuju atau ingin diskusi lebih lanjut 😀


Kita lihat isu yang sedang agak panas (atau mungkin selalu panas) di Indonesia, yaitu soal kebobrokan pemerintah, ada kasus korupsi, suap, penggelapan pajak, dan banyak lainnya. Kalau dipikir-pikir, memangnya sebodoh itu ya orang-orang yang bisa-bisanya melakukan hal-hal tercela (kata buku PPKn,hehe) seperti itu? Jawabannya pasti tidak, para elit politik itu pastinya adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi, banyak juga yang lulusan luar negeri. Lalu kenapa orang yang “pintar” itu masih melakukan perbuatan yang jelas-jelas sangat bodoh?

Saya jadi teringat ucapan seorang senior saya di ITB, bahwa sebenarnya kita tahu mana yang benar hanya saja seringkali kita tidak melakukannya. Para koruptor, pelaku suap, atau penggelap pajak yang akalnya masih sehat pasti secara logika mereka tahu bahwa hal tersebut tidak baik, tapi masih saja dilakukan. Pasti kita tahu bohong itu dosa, menggujingkan orang lain itu tidak baik, bolos kuliah itu salah, tapi banyak juga diantara kita yang masih sering melakukannya atau hal-hal lain yang sudah jelas-jelas salah. Ya begitu lah, saya akui hal itu sering terjadi juga pada saya, bagaimana dengan kamu? Renungkan saja dalam hati,hehe.

Oke, cukup dengan hal-hal yang tidak baiknya, sekarang coba kita ingat kembali ketika kita berbuat baik (pasti pernah dong), apa sih alasannya? Ketika kita memberi sedekah, ketika kita mendengarkan curhatan teman, atau minimal ketika kita meminta maaf dengan tulus, dilakukan bukan karena logika kita tahu bahwa hal tersebut baik, tapi karena perasaan dan sisi emosional kita lah yang mengatakan hal tersebut baik dan mendorong kita untuk melakukannya, dan seringkali secara spontan seolah-olah tanpa alasan. Karena itu juga lah kasus-kasus buruk yang dibahas diawal masih sering terjadi. Orang-orang tersebut tahu mana yang salah secara logika, tapi karena belum ada keterikatan secara emosional dan perasaannya tidak berkata bahwa yang ia lakukan itu salah, jadi yaa masih saja dilakukan.

Coba kita lihat satu contoh kasus tentang seorang anak, yang kebetulan anak ini seorang muslim, sebut saja namanya Alexander. Alexander merupakan anak semata wayang dalam keluarganya, yang kebetulan keluarga muslim. Sejak kecil Alexander tidak pernah diajarkan dan dibiasakan untuk shalat, orang tuanya pun tidak pernah memberi contoh yang baik soal ini. Ketika menginjak bangku Sekolah Dasar, di sekolah Alexander mendapat pelajaran agama Islam dan disana ia mulai tahu mengenai kewajiban shalat bagi seorang muslim, ia belajar tata cara shalat sampai hafal. Bagaimana hasilnya? Ternyata walaupun yang ia tahu dari pelajaran sekolah shalat itu wajib dan ia pun sebenarnya sudah hafal tata caranya tapi masih saja tidak dilakukan, apalagi memang orang tuanya di rumah kurang memberi teladan yang baik.

Coba kita bandingkan dengan seorang anak yang lain, sebut saja namanya Fransesco, yang juga seorang muslim. Sejak kecil Fransesco sudah dibiasakan untuk shalat lima waktu, selalu diajak ketika orang tuanya shalat di masjid. Kedua orang tua Fransesco benar-benar tegas kepadanya mengenai kewajiban shalat, bahkan ketika Fransesco susah dibangunkan ketika sudah masuk waktu shalat subuh, wajahnya diciprati air oleh ayahnya sampai ia bangun. Ketika tumbuh dewasa, Fransesco mendapat beasiswa untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Baru saja sampai di negeri asing tersebut, Fransesco langsung terkejut karena ternyata disana sangat sedikit sekali pemeluk Islam, sehingga sangat jarang ada yang shalat, termasuk teman-teman kuliahnya. Tapi toh ternyata, Fransesco tidak terlalu terpengaruh dengan hal tersebut dan masih rajin shalat bahkan lebih baik lagi dari sebelumnya.

Dua contoh tersebut menunjukkan bahwa adanya keterikatan secara emosional pada hal-hal yang dianggap baik, apalagi jika ditekankan sejak kecil, sangat berpengaruh pada perilaku kita. Walaupun logika kita tahu bahwa sutau perbuatan itu baik, tetapi perasaan kita belum berkata bahwa perbuatan tersebut baik, maka kemungkinan besar tidak akan dilakukan. Satu lagi bukti bahwa kecerdasan emosi lebih penting dari kecerdasan logika.


“Perbuatan baik yang tulus digerakkan oleh hati, bukan oleh pikiran. Bahkan ketika hati sudah tergerak, berbuat baik bukanlah suatu keharusan, tapi menjadi suatu keinginan.” 🙂

*maaf bahasanya agak kacau, dibikin sambil ngantuk,hehe

Janji dan Ikrar Mahasiswa ITB


Mengingatkan kepada teman-teman mahasiswa ITB bahwa kita pernah berjanji seperti ini…

Janji Mahasiswa Institut Teknologi Bandung

Kami..
Segenap mahasiswa Insitut Teknologi Bandung
Demi Ibu Pertiwi, berjanji
Akan menuntut ilmu,
Keterampilan dan watak penghayatan
Dengan ketekunan dan kesadaran
Bagi kesejahteraan Bangsa Indonesia
Peri kemanusiaan dan peradaban
Berdasarkan Pancasila

Kami berjanji..
Akan menegakkan dan menjunjung tinggi
Kejujuran dan keluhuran pendidikan
Serta susila mahasiswa

Kami berjanji ..
Akan setia pada almamater
Institut Teknologi Bandung
Serta bangsa dan Negara kami
Republik Indonesia

Demi itu kami mohon, Tuhanku
Rahmat dan tuntunan-Mu

Ikrar Mahasiswa Institut Teknologi Bandung

Kami, mahasiswa Institut Teknologi Bandung
Sadar, bahwa kami hanyalah sebagian kecil dari rakyat Indonesia
Yang berkesempatan untuk menikmati pendidikan atas beban rakyat Indonesia
Sadar, bahwa kami dituntut untuk berperan dalam perbaikan dan pembaharuan masyarakat Indonesia
Sadar, bahwa pada pundak kami ini tertumpu harapan masa depan Indonesia

Karenanya :

  1. Kami tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri, harus mendahulukan kebutuhan masyarakat
  2. Kami tidak akan menunda-nunda tindakan kami untuk berperan dan membuat perubahan mulai dari diri kami sendiri
  3. Kami akan bekerja keras untuk mewujudkan harapan rakyat bangsa, dan Negara Indonesia serta almamater Institut Teknologi Bandung.

Ikrar ini segera kami buktikan,
Dalam tindakan nyata dari kami

Sumber : http://km.itb.ac.id/

Asal Usul Visi #satuHMIF


Tulisan ini berisi tentang latar belakang dan penjelasan mengenai visi yang saya bawa sebagai calon ketua HMIF ITB. Silakan disimak…

Himpunan Mahasiswa Informatika ITB, dengan usianya yang relatif muda bisa dibilang masih dalam tahapan berkembang menemukan bentuk terbaiknya. Dari cerita beberapa teman, senior, “sesepuh” himpunan, dan pengalaman saya sendiri di HMIF sejak sekitar satu setengah tahun yang lalu cukup tergambar bahwa HMIF mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Khususnya dalam dua tahun terakhir, Filman Ferdian sebagai ketua himpunan periode 2010-2011 cukup mampu membangun fondasi yang kokoh bagi bangunan HMIF dengan melakukan perombakan struktur dan budaya yang ada di HMIF. Lyco Adhy Purwoko sebagai ketua berikutnya dengan visi progresifnya telah membawa warna baru dalam bidang keprofesian, sebuah budaya baru yang mengembalikan jati diri HMIF sebagai Himpunan Mahasiswa Informatika yang berasaskan keprofesian. Dapat diibaratkan bahwa kepengurusan Lyco menambahkan sebuah pilar diatas fondasi yang sudah dibangun sebelumnya, pilar tersebut adalah keprofesian.

Mundur sedikit ke belakang jika kita coba mempertanyakan untuk apa sebenarnya HMIF atau himpunan lain di ITB ini didirikan? Tidak lain adalah sebagai wadah aktualisasi diri bagi anggotanya untuk memenuhi amanah yang tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Himpunan sebagai salah satu wadah bagi mahasiswa ITB, khususnya prodi Teknik Informatika dan Sistem dan Teknologi Informasi, untuk mengembangkan diri sehingga ketika lulus nanti mampu menjadi lulusan yang memenuhi ketiga poin Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut atau biasa disebut sebagai sarjana seutuhnya. Jika dibandingkan dengan perkembangan kondisi HMIF sampai sekarang, dengan fondasi yang sudah terbangun, dengan pilar pendidikan yang semakin berkembang dari tahun ke tahun, dan pilar keprofesian yang mulai berdiri, masih ada satu pilar lagi yang harus dibangun yaitu pilar pengabdian masyarakat. Poin ketiga dari Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut memang kurang mendapat perhatian dalam perkembangan HMIF akhir-akhir ini sehingga berangkat dari hal tersebut kami membawa harapan HMIF yang mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat dan anggota-anggotanya yang mampu memberi manfaat bagi masyarakat, keluarga, atau bahkan teman-teman terdekat dalam satu himpunan yang dirangkum dalam satu kata kontributif.

Sebuah fenomena unik terjadi ketika mahasiswa Teknik Informatika dan Sistem dan Teknologi Informasi ITB bingung ketika ditanya kontribusi apa yang bisa diberikan oleh seorang mahasiswa informatika? Salah satu jawaban yang paling nyata tentu saja karya. “With great power comes great responsibility”. Sebagai mahasiswa informatika dari institut terbaik bangsa, wajar jika karya kita sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Untuk menjawab harapan tersebut tentunya diperlukan karya-karya mahasiswa informatika ITB yang tidak hanya inovatif tetapi juga memberi manfaat untuk orang lain, atau dengan kata lain dibutuhkan karakter kreatif dalam HMIF baik secara individu anggotanya maupun himpunan secara keseluruhan. Dalam proses menuju kreasi untuk kontribusi tersebut, tentu saja harus diawali dengan pembentukan karakter yang saling membangun, tidak hanya melalui kaderisasi secara formal dari HMIF untuk anggotanya, tetapi juga kaderisasi secara informal ketika antaranggota dapat saling berbagi ide, ilmu, dan pembelajaran lainnya yang dapat diwakili oleh sebuah kata konstruktif. Didapatlah sebuah tujuan yaitu HMIF yang konstruktif, kreatif, dan kontributif.

Tujuan tersebut ternyata belum cukup menjawab kondisi HMIF sekarang yang arah geraknya cenderung terbagi ke beberapa bagian dan terpisah ke banyak arah. Struktur yang ada semisal divisi, angkatan, atau lembaga seolah memunculkan batas antaranggota divisi satu dengan divisi yang lain, angkatan satu dengan lainnya, dan sebagainya. Hal tersebut berakibat pada kurang terselurkannya minat dan kerja keras anggota HMIF untuk berkontribusi bagi himpunannya karena kontribusi yang diberikan mungkin cukup memajukan divisinya, angkatannya, atau lembaganya tetapi belum memajukan HMIF secara keseluruhan. Akar dari permasalahan tersebut adalah kurang adanya perasaan satu tujuan untuk HMIF atau mungkin kurang adanya penekanan pada hal tersebut. Untuk menjawab permasalahan tersebut dimasukkan lah kata ‘Satu’ yang mewakili cara untuk menjalani proses mencapai tujuan yaitu dengan bergerak secara satu HMIF walaupun dengan perannya masing-masing, singkatnya “think globally act locally”. Kata Satu ini akhirnya melengkapi visi yang kami bawa menjadi “Satu HMIF yang konstruktif, kreatif, dan kontributif.”

SATU pembelajaran, SATU kreasi, SATU kontribusi

#satuHMIF

 

Yudha Okky Pratama

13509005

 

Prelude #satuHMIF


Halo teman-teman semua, sudah sebulan lebih sejak tulisan terakhir saya, akhirnya Okky kembali dengan cerita baru yang cukup menyita waktu dan pikiran akhir-akhir ini, mungkin ini juga sebabnya jadi kekurangan waktu untuk menulis disini. Ini sengaja saya tulis, terlepas dari bagaimanapun jadinya nanti, pasti akan jadi satu memori penting dalam hidup saya. Mari kita simak sebentar…

Jadi langsung saya sampaikan saja inti ceritanya adalah tentang saya yang Insya Allah sekarang sedang menjadi Calon Ketua Himpunan Mahasiswa Informatika (HMIF) ITB untuk periode 2012-2013. Bagi teman-teman yang belum tahu, HMIF ITB adalah organisasi mahasiswa yang anggotanya terdiri mahasiswa program studi Sistem dan Teknologi Informasi dan Teknik Informatika di ITB. Fakta menarik bahwa sebenarnya kami, anggotanya, lebih memandang HMIF sebagai sebuah keluarga daripada sebuah organisasi. Singkatnya, HMIF ini menjadi wadah bagi anggotanya untuk belajar berorganisasi (atau berkeluarga.hehe) dan berkegiatan kemahasiswaan seperti pengabdian masyarakat, pendidikan karakter, dan keprofesian yang melatih softskill dan penerapan keilmuan yang tidak sekedar teoretis sebagai pelengkap ilmu yang didapat di bangku perkuliahan.

Sekitar satu setengah tahun sudah saya menjalani manis pahit kehidupan di ITB termasuk salah satunya di HMIF ITB, dimana saya paling banyak menghabiskan waktu disana. Selama menjalani momen demi momen di HMIF, ada yang hanya sebagai penonton, peserta, atau eksekutor langsung, saya yang Alhamdulillah diberi petunjuk berupa pemikiran kritis (walaupun kadang ini bisa jadi kekurangan), keinginan untuk memberikan sesuatu yang tidak biasa, dan ide yang banyak selama keberjalanan menghasilkan cukup banyak evaluasi dari saya sendiri. Evaluasi tersebut kadang saya utarakan langsung dalam sebuah forum, atau didiskusikan bersama teman-teman terdekat, atau bahkan mungkin saya pikirkan sendiri, seringkali jadi bergumam dalam hati, “wah ini bakal lebih keren kalo begini…, ini bisa lebih luar biasa hasilnya kalo dibegitukan…, kalo bikin itu bagus kali ya…” dan masih banyak lainnya. Dari ide-ide random itu lama kelamaan semacam tersusun sendiri di kepala menjadi harapan-harapan tentang keluarga HMIF yang tidak sekedar lebih baik, tapi yang awesome dan bisa dibanggakan tentunya.

Perlu teman-teman tahu bahwa sebenarnya saya memiliki keinginan atau cita-cita yang tidak lazim dimiliki seorang mahasiswa informatika pada umumnya, apalagi dari ITB yang seharusnya kata orang cukup membawa nama kampus saja peluang kerja sudah terbuka lebar dan kehidupan yang sejahtera sudah menanti. Ya, beberapa teman dekat saya mungkin sudah tahu kalau sebenarnya saya bercita-cita menjadi seorang pengusaha, saya telah memilih jalan itu dan saya ingin memulainya sebelum saya lulus dari kampus Ganesha tercinta ini, perlu saya tegaskan bahwa saya sangat serius dengan hal ini. Sesekali saya sempat berfikir soal benar atau tidaknya cita-cita saya ini karena pada umumnya bukan ini yang seharusnya saya cita-citakan, karena itulah saya bertekad untuk segera melakukan pembuktian, bukan pada orang lain, tapi pada diri saya sendiri bahwa keputusan saya tepat, saya bisa menjalaninya.

Kembali ke kehidupan HMIF. Selama saya berkegiatan di HMIF, pada saat-saat tertentu beberapa kali ada celetukan-celetukan dari beberapa teman yang meminta saya untuk maju menjadi kahim (ketua himpunan) yang tidak terlalu saya pikirkan. Kemudian sampai lah saat-saat menjelang akhir kepengurusan periode 2011-2012, suasana di HMIF sudah mulai ada gejolak-gejolak untuk pergantian kepengurusan. Ketua panitia pemilu terpilih, jajaran panitia terbentuk, makin banyak juga teman-teman yang meminta saya, ada yang berkata “Jadi kahim sana”, ada juga yang bilang “Gue dukung lo ntar, gampang lah”. Beberapa terlihat bercanda, tapi ada juga yang serius. Walaupun begitu, saya jawab “Tidak, no, enggak,….” Karena dengan satu paragraf alasan saya di atas membuat saya tidak terfikirkan sedikitpun untuk mengambil tanggung jawab sebagai ketua HMIF. Seiring berjalannya waktu, mulai ada perasaan galau mendekati dibukanya pendaftaran Bakal Calon Ketua Himpunan. Beberapa teman mulai terlihat serius meminta saya untuk maju, jadilah akhirnya saya mulai berpikir soal ini dan semakin dipikir semakin galau, hehehe.

Setiap ada waktu luang sedikit secara otomatis pikiran saya langsung mengarah kesana, tapi ya begitulah namanya galau, tidak ada solusi yang didapatkan. Kemudian sayapun mencoba mencari solusinya dengan berdoa mohon petunjuk dan coba berkonsultasi ke beberapa orang, teman-teman dekat, orang-orang yang lebih senior dan berpengalaman, dan tentu saja pastinya orang tua. Saya coba menyampaikan kondisi yang sedang saya alami waktu itu, adanya teman-teman yang berharap saya maju, ada modal visi walaupun masih random, saya sampaikan juga berbagai constraint yang dihadapi. Saran yang masuk pun bermacam-macam, ada yang bilang “ini masih tahap pembelajaran, jangan dipikir terlalu berat”, “kalo aku jadi kamu pasti udah maju”, “ikutin aja kata hatimu”. Yah, dengan berbagai saran yang masuk, walaupun sebagian besar condong mendukung saya untuk memutuskan maju, saya masih belum mantap saat itu, sampai akhirnya saya memutuskan kalau saran paling bijaksana untuk saat ini, sama seperti saat-saat sulit lainnya yang pernah saya hadapi, adalah saran orang tua. Lagipula memang Ridha Allah tergantung Ridha orang tua :). Akhirnya saya pun coba menelepon orang tua untuk mengutarakan soal ini, dan ternyata keputusan saya bertanya itu benar, jawaban yang diberikan pun tidak mengecewakan. Orang tua tidak secara langsung bilang “kamu maju saja” atau “kamu jangan maju” tapi “pilih jalan yang paling banyak manfaatnya”. Tanpa berpikir keras saya langsung tahu mana yang paling bermanfaat untuk saat ini, untuk diri sendiri, dan terutama untuk teman-teman saya di HMIF. Dengan mantap saya pun langsung ambil keputusan…

Bismillah… Okky ikhlas dan siap maju menjadi Ketua HMIF periode 2012-2013…

Mohon doanya dari teman-teman semua 🙂

Sweet 21


Oktober, bulan kelahiran saya (nama Okky diambil dari nama bulan ini) tahun 2011 ini berjalan biasa, seperti bulan-bulan sebelumnya, masih sibuk mencari waktu luang untuk bersenang-senang dan belajar banyak hal, di tengah kehidupan perkuliahan dengan tugas yang menumpuk ini.

Tibalah tanggal 16, yang berarti besok ulang tahun! Yak, tapi sebenarnya khusus tahun ini saya tidak terlalu memikirkan soal ulang tahun dan berbagai pernak-perniknya, bahkan saya sering lupa soal ulang tahun sendiri. “I’m too old for this stuff, man! udah 21 gitu”, itulah yang saya pikirkan. Saya dengan sengaja meng-hide hari ulang tahun di profil facebook saya, selain untuk melihat siapa yang benar-benar peduli juga memang tidak tertarik untuk membuatnya berlebihan. Hari ini juga berjalan seperti biasa dan malamnya pun saya tertidur di depan laptop seperti biasa.

Oke, sekarang tanggal 17 dan saya pun bangun seperti biasa, shalat seperti biasa, dan Subhanallah ternyata memang keluarga is the best, ayah, mama, adek adalah orang-orang pertama yang mengirim ucapan selamat hari itu. Memang hanya mereka lah yang sebenarnya paling saya harapkan.  Hari itu beruntung sekali karena kebetulan bertepatan dengan hari pertama UTS saya, yah anggap saja beruntung. Setelah selesai UTS saya langsung pulang untuk mempersiapkan UTS berikutnya. Ditengah hari yang serba biasa ini saya bersyukur ada beberapa teman yang ingat dan mengucapkan selamat walaupun pada masa UTS, dan ada juga sms dari beberapa teman yang bahkan sudah lama tidak bertemu, semoga kebaikan mereka dibalas berlipat ganda.

Sambil belajar sesekali saya buka beberapa thread unik di kaskus untuk refreshing sampai seorang teman sekontrakan saya memanggil “ada yang nunggu di bawah” (begitulah kalo diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, sebenarnya diucapkan dalam Boso Jowo.hehe). Yah, I didn’t expect anything, dengan malas-malasan saya beranjak dari posisi leyeh-leyeh.

Dalam perjalanan keluar kamar, baru sampai pintu saya dikejutkan oleh sekelompok manusia yang menyanyikan Happy Birthday dan ada sebuah kue dengan lilin 21. Sejujurnya saya shock sampai gemetaran, bukan Okky yang biasanya lah pokoknya. Selama “perayaan” kecil-kecilan ini, mulai dari tiup lilin, potong kue, sampai membagikan potongan kue ke teman-teman tercinta itu badan masih gemetaran, speechless, pikiran serasa campur aduk lah. Alhamdulillah ternyata walaupun sudah beranjak dewasa (bukan tua.hehe) saya masih dikaruniai teman-teman yang super dan peduli. Kalian telah membuat satu orang ini sampai shock saking bahagianya, semoga kalian dibalas dengan kebahagiaan yang lebih-lebih lagi :), terima kasih teman-teman super : Arief, Marchy, Sume, Arie, Andika, Adhi, Reynald, Diani, Bobi, Raches, Ari, Emil, Bepe 🙂

 Inilah muka cengok Okky yang lagi shock

Dan inilah hadiah super dari temen-temen yang langsung saya pakai saat itu juga

 

“Five Good Life Ways”


*gambar ini saya ambil di tembok mushola sederhana di salah satu SPBU di daerah Pangalengan, di pinggir jalan dengan lalu lintas yang tidak begitu padat, dan mungkin kurang diperhatikan orang.

Di sela-sela kunjungan saya ke Pangalengan, suatu daerah di Kabupaten Bandung, karena suatu urusan tidak sengaja saya menemukan ini. Saat itu sudah memasuki waktu shalat Dhuhur, jadi saya – bersama seorang teman waktu itu – memutuskan berhenti sejenak di sebuah SPBU untuk beribadah shalat Dhuhur. Seusai wudhu saya langsung masuk ke mushola, sebuah ruangan kecil sederhana yang kira-kira hanya cukup untuk dua shaf saja.

Sembari menunggu teman selesai wudhu, saya “tolah-toleh” atas bawah kiri kanan (kebiasaan aneh ketika berada di tempat yang baru) sampai akhirnya pandangan tertuju pada sebuah kertas dengan beberapa tulisan kecil tertempel di tembok. Saya sedikit mendekat mencoba melihat apa isinya, Subhanallah ternyata  isinya menarik juga. Membaca pesan-pesan tersebut saya hanya bisa bergumam “Oh iya ya, harusnya gitu……bener juga……”

“Mungkin beberapa orang menganggap nasihat-nasihat ini biasa. Tapi yang luar biasa adalah kesediaannya untuk berbagi dalam kesederhanaan.”

Semangat Okky!


Semangat!

Go!

Fighting!

Kata-kata yang semuanya bermaksud memberi semangat itu menurut saya sudah menjadi kata-kata ampuh sakti mandraguna selain tiga kata lainnya yaitu “terima kasih”, “maaf”, dan “cinta”. Kata-kata mutiara tersebut  jika diucapkan dapat memberi energi positif bagi pendengarnya hanya sayangnya banyak yang tidak menyadarinya atau bahkan berat untuk mengucapkannya.

Mayoritas orang yang belum menyadari pentingnya semangat beranggapan bahwa hal tersebut hanyalah sekedar pelengkap dalam menjalani kehidupan sehari-hari, bahkan beberapa celetukan seperti “dia mah cuma modal semangat”, “ga akan bisa kalo pake semangat doang”, atau yang lainnya.

Padahal menurut teori Sok Tahu Okky, untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan atau meraih suatu tujuan tertentu seberat dan sesulit apapun itu bisa dilakukan cukup dengan semangat dan mulai. Bahkan ternyata mantan wakil presiden kita, Bapak Muhammad Jusuf Kalla mendukung teori sok tahu ini, dalam acara Presidential Lecture di ITB yang dilaksanakan pagi ini beliau mengungkapkan untuk menjadi bangsa maju kita membutuhkan rasa percaya diri yang kuat, semangat, dan mulai. Cukup jelas sekali bahwa bukan hal-hal semacam membangun infrastruktur, menggratiskan pendidikan, atau teknis yang lainnya yang selama ini selalu menjadi perdebatan di kalangan orang-orang intelektual(mungkin biar terlihat kritis). Jadi sadarilah kawan-kawanku, walaupun sebenarnya tulisan ini khususnya untuk mengingatkan diri sendiri tapi dengan semangat dan memulai Insya Allah hal-hal lain akan mengikuti, ide-ide taktis dan strategis bisa muncul sewaktu-waktu, tenaga luar biasa seakan tiada habisnya, dan satu hal paling penting : menularnya semangat pada sahabat-sahabat yang dengan ikhlas berjuang bersama mencapai tujuan.

Semangat kawan-kawanku!

Pembunuhan Karakter Model Baru


Kembali lagi dengan saya, super Yudha Okky Pratama!

Kembali saya mencoba sedikit sok tahu dengan mengungkapkan pemikiran, pendapat, dan membuat definisi saya sendiri.

OK, let’s start.

Jadi makhluk macam apakah sebenarnya yang disebut pembunuhan karakter itu?

Menurut Wikipedia, pembunuhan karakter atau character assassination adalah usaha-usaha untuk mencoreng nama seseorang. Tindakan ini dapat meliputi pernyataan yang melebih-lebihkan atau manipulasi fakta untuk memberikan citra yang tidak benar tentang orang yang dituju.

Istilah tersebut mungkin sudah banyak kita dengar di media massa pada kasus-kasus yang melibatkan politisi atau artis terkenal. Seringkali ketika seorang public figure dituduh terlibat dalam suatu kasus yang mencoreng imej yang sudah dibangun selama ini, isu pembunuhan karakter oleh pihak-pihak yang iri pada kesuksesannya menjadi excuse andalan, mungkin benar mungkin tidak. Dampak buruk yang sangat mungkin terjadi tentu saja tercorengnya nama baik, bahkan lebih jauh lagi dapat mengganggu kestabilan mental dan kehidupan sosial korban. Yah, untuk contoh kasus yang ini(kita sebut saja model lama) sudah banyak macamnya(bisa dicari sendiri.hehe).

Oke sudah saatnya kita membahas kasus kedua yang merupakan hasil perasaan dan pikiran saya sendiri. Langsung saja saya berikan contoh kasus yang diilhami dari kisah nyata dan banyak terjadi di sekitar kita. Berikut contohnya:

Tetangga sebelah rumah saya, sebut saja namanya Okky(menggunakan nama sendiri agar tidak menyinggung pihak manapun yang tidak sengaja disebut namanya) adalah seorang pemuda yang baru saja lulus SMA dan Alhamdulillah berhasil diterima di salah satu universitas terbaik di negaranya. Okky adalah anak yang selalu semangat belajar, rasa ingin tahunya tinggi, dan suka mengungkapkan pemikiran-pemikirannya.

Hari pertama masuk kuliah, Okky mengikuti perkuliahan dengan semangatnya yang menggebu-gebu sebagai mahasiswa baru. Selesai menjelaskan materi, seorang dosen melemparkan pertanyaan pada para mahasiswa di kelasnya, tiba-tiba suasana kelas hening, bahkan sebagian mahasiswa menundukkan kepalanya takut ditunjuk untuk diminta menjawab. Ditengah keheningan Okky mengacungkan tangan untuk mencoba menjawab, mahasiswa yang tadinya terdiam sontak menyerukan “uwooo” layaknya paduan suara. Setelah mahasiswa lain diam, barulah Okky mencoba menyampaikan jawabannya, syukurlah walau bermodal pengetahuan pas-pasan jawaban yang ia berikan kebetulan benar dan lagi-lagi terdengar paduan suara dengan lirik “uwooo” atau “widiiihhh” atau yang lainnya. Kejadian tersebut cukup sering terulang ketika ada seseorang yang dengan berani mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan dosen, entah jawabannya benar atau salah, atau untuk sekedar bertanya, entah pertanyaan yang diberikan “ngaco” atau tidak.

Baru sebulan berkuliah di universitas idamannya tersebut, tidak terasa telah terjadi perubahan dalam diri Okky(dalam hal ini kepribadiannya). Okky yang tadinya bersemangat dan berani, menjadi Okky yang pasif pemalu. Okky yang tadinya percaya diri sekarang menjadi sering minder sampai tidak berani mengungkapkan pendapatnya.

Apakah terjadi sesuatu yang salah dalam contoh kasus diatas?

Kalau ada lalu siapa yang salah?

Okky kah karena mentalnya lemah?

atau teman-temannya yang menyoraki dengan “jahat” nya?

Untuk postingan kali ini silakan teman-teman menyimpulkan sendiri, tapi saya berharap semoga kita tidak termasuk orang yang dengan “jahat” melakukan hal-hal kecil yang tampak sepele tapi sebenarnya berdampak buruk bagi orang lain. Mari biasakan mengapresiasi. Semua orang berhak menjadi dirinya sendiri.

notes : tulisan ini dibuat terutama untuk mengingatkan diri saya sendiri selain berbagi pikiran dengan teman-teman semua, semoga bermanfaat 🙂 

Perlu “Gila” untuk Mengubah Dunia


Saya ingin sedikit berbagi dengan teman-teman yang punya mimpi tinggi untuk bermanfaat bagi banyak orang, yang punya visi besar untuk memperbaiki kondisi masyarakat kita yang saya rasa semua tahu (jika cukup peduli). Jika kita lihat dari sejarah, lihat dari sekeliling kita dan dianalisis lebih lanjut, kita menemukan bahwa tokoh-tokoh besar yang sangat berpengaruh dan mampu mengubah dunia adalah orang-orang yang “gila”. Berikut beberapa contohnya

Archimedes


Archimedes fisikawan dan matematikawan Yunani (sekitar 287 SM – 212 SM) melalui teorinya tekanan “gaya apung yang bekerja pada suatu benda di dalam suatu fluida sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda itu” sebagian orang disekelilingnya menganggap dia “gila” apalagi ketika dia kegirangan karena menemukan kesimpulan dari teorinya.

Archimedes yang sudah lama melakukan penelitian dia menemukan kesimpulan dari penelitiannya ketika mandi dibak – seperti biasa orang yang mau mandi: tanpa baju, tanpa celana, tanpa sehelai benangpun alias telanjang atau bugil – Archimedes menyadari kalau air dalam bak mandi yang tadinya tidak penuh kemudian meluber tumpah ketika dia masuk kedalamnya. Saking girangnya Archimedes langsung lari sambil berteriak ”eureka…. eureka… eureka…” (saya menemukan… saya menemukan …), dia baru sadar setelah lama dia berlari bahwa dia telanjang atau bugil, lingkungan sekitarnya jadi semakin yakin Archimedes gila. Anggapan itu ternyata keliru karena hampir semua sekolah sedunia sekarang mempelajarai teorinya. Dia juga seorang matematikawan, astronom, filsuf, fisikawan.

Hal tersebut hanya sebagian kecil perlakuan aneh yang menimpa ilmuwan genius. Berhikmah dari kisah tersebut, kemungkiinan banyak guru, orang tua, lingkungan, yang salah melakukan “assessment” kepada anak didik atau orang disekitarnya.

Guru terutama, seharusnya memiliki kemampuan melakukan ‘assessment’ yang baik tentang perilaku anak, sebab dipastikan dilingkungan sekitar kita terdapat anak-anak yang memiliki perilaku unik sehingga memerlukan pembelajaran dengan layanan khusus agar mereka menguasai pengetahuan atau sains.

sumber : http://uniqpost.com/

Nikola Tesla


Tesla adalah adalah seorang jenius yang menemukan teknologi radio nirkabel dan penemu generator arus bolak-balik. Ilmuwan asal Serbia ini mendemonstrasikan transfer energi nirkabel sejak 1893. Seperti halnya seorang pesulap, Tesa juga suka mempertunjukkan penemuannya secara demonstratif. Ia suka menjadikan tubuhnya sebagai konduktor, atau bahkan mematikan saklar listrik berukuran besar di bawah guyuran hujan percikan api.

sumber : http://www.situsdunia.tk

Freeman Dyson


Tahun 1960, Dyson menelurkan ide bahwa di masa depan manusia harus mendesain cangkang buatan yang dinamakan Dyson Sphere. Cangkang ini akan mengelilingi sistem tata surya dan menggunakan energi matahari secara maksimum. Saat itu ia dianggap sebagai pemimpi fiksi ilmiah. Ia juga yakin adanya kehidupan di planet lain. Menurutnya manusia akan berinteraksi dengan mahluk angkasa luar dalam beberapa dekade mendatang. ia salah satu ilmuwan yang tahu pentingnya agama dan ilmu pengetahuan, berikut kutipan favoritnya tentang agama dan ilmu pengetahuan ” Science and religion are two windows that people look through, trying to understand the big universe outside, trying to understand why we are here. The two windows give different views, but they look out at the same universe. Both views are one-sided, neither is complete. Both leave out essential features of the real world. And both are worthy of respect. Trouble arises when either science or religion claims universal jurisdiction, when either religious or scientific dogma claims to be infallible. Religious creationists and scientific materialists are equally dogmatic and insensitive. By their arrogance they bring both science and religion into disrepute. The media exaggerate their numbers and importance. The media rarely mention the fact that the great majority of religious people belong to moderate denominations that treat science with respect, or the fact that the great majority of scientists treat religion with respect so long as religion does not claim jurisdiction over scientific questions”

“Ide yang pada awalnya tidak kelihatan gila, tidak membawa harapan”

Itulah sedikit contoh yang dari banyak realita yang ada, mari kita renungi masing-masing  🙂