Category Archives: Sosial

Ini Realita, Bukan Cerita Film Layar Lebar


Realita hukum Indonesia memang banyak meminta “korban”, termasuk saudara kita yang bernama Alanda Kariza ini. Apa yang bisa kita lakukan kawan-kawanku? Sekedar menjadi penontonkah  kita? Hanya ikut menangis ketika cerita tampak menyedihkan? Atau hanya bisa bertepuk tangan ketika semuanya berhasil terungkap?

Pesan Sahabat


Sejatinya ini adalah SMS dari seorang sahabat saya, tapi karena merasa ini cukup inspiratif saya rasa ada baiknya untuk men-share ke teman-teman semua.(belum ijin sebenarnya, tapi semoga ikhlas mengijinkan, hanya niat berbagi kebaikan)

 

Bukan karena hari ini indah kita bahagia,

tapi karena kita bahagia maka hari ini menjadi indah.

Bukan karena tidak ada rintangan kita menjadi optimis,

tapi karena kita optimis maka rintangan menjadi tak ada.

Bukan karena mudah kita yakin bisa,

tapi karena kita yakin bisa maka semuanya menjadi mudah.

Bukan karena semua baik kita tersenyum,

tapi karena kita tersenyum semua menjadi baik.


Mari kawan-kawanku kita saling berbagi inspirasi 🙂

Bagaimana Menjadi Manusia (Bermanfaat)?


Hai teman-temanku yang baik hatinya!!

Bertemu lagi dengan saya, The Special One Yudha Okky Pratama ditahun yang baru, ya!!2011!!

Saya merasa sebagai orang spesial karena saya mendapat semangat baru di awal tahun 2011 ini. Keberuntungan yang sangat saya syukuri ini diawali kesempatan besar mengikuti Diklat Aktivis Terpusat 2011 (DAT 2011) KM ITB yang disebut-sebut sebagai “kawah candradimuka” oleh banyak orang-orang sukses di kampus.

Dalam postingan ini saya akan sedikit mengulas mengenai salah satu sesi yang ada dalam DAT tersebut dari sudut pandang saya sendiri. Sesi ini merupakan materi kedua pada hari kedua diklat dengan pembicara yang luar biasa, Bang Lendo Novo yang terkenal sebagai founder Sekolah Alam yang cukup fenomenal diawal kehadirannya.

Oke, kita mulai saja.

Kenapa harus bermanfaat sih??(buru-buru bertobat kalo masih ada yang berpikiran kaya gini)

Tentunya kita semua tahu bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat, untuk sesama manusia, lingkungan sekitar, maupun alam tercinta ini.

Bagi teman-teman yang memang sudah ada niat, keinginan, hasrat, atau apapun lah itu namanya, Bang Lendo Novo menyampaikan tips untuk kita.

  • Dimulai dari empati, kemudian mencari solusi, dan berakhir dengan partisipasi. Untuk menjadi bermanfaat tidak cukup bagi kita hanya merasakan empati ketika melihat realita-realita yang memang memprihatinkan tetapi langsung berpikir kritis dalam menemukan solusi yang terbaik dan tentunya tahap akhir adalah gerakan nyata dalam menerapkan solusi tersebut, dan akan jauh lebih baik ketika dalam melakukan semua itu kita bisa mengajak orang lain untuk ikut bermanfaat dan berpartisipasi.(Insya Allah pahalanya akan dilipatgandakan)
  • Rahasia sukses sebuah perubahan sosial terletak pada makna MANDIRI. Seperti diungkapkan pada Q.S. 13:11 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”, bahwa niat baik, kemauan untuk berubah itu harus berawal dari diri sendiri
  • Memiliki tujuan untuk keadilan dan kebajikan. Seperti disebutkan pada Q.S. 16:90 “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, …”. Ikhlas dalam melakukan sesuatu, menghindari tujuan-tujuan yang justru akan menghilangkan pahala dan manfaat dari apa yang kita lakukan, misalnya pengen ngeksis, populer, dipuji orang dsb.

Pada sesi tersebut, ada satu ucapan beliau yang menarik buat saya, mungkin teman-teman bisa merenungkannya masing-masing, kira-kira seperti ini, “Bahwa ilmu sosial itu tidak perlu dicari, setiap hari kita melakukan sosialisasi itu, tinggal bagaimana berpikir untuk memaknainya”.

Smanti Informasi Pendidikan (SIP)


Smanti Informasi Pendidikan????

nama yang agak aneh memang kedengarannya (harusnya Informasi Pendidikan Smanti bukan sih???), yah tapi apa lah arti sebuah nama, yang penting makna yang terkandung didalamnya.

Jadi apakah gerangan SIP itu?

SIP adalah sebuah acara yang diselenggarakan di SMAN 3 Malang yang berupa pengenalan universitas-universitas kepada adik-adik terutama yang duduk dikelas XII untuk memberi sedikit “pencerahan” soal kemana mereka akan melanjutkan “hidup” nya setelah lulus dari SMAN 3 Malang tercinta. Acara ini diselenggarakan pertama kali sekitar tiga tahun yang lalu atas inisiatif dari mas Syafiq (EL ITB 07).

Pada cara tersebut, pihak sekolah tidak secara langsung mengundang pihak universitas untuk datang dan memberikan informasi mengenai universitasnya masing-masing, tetapi lebih mengandalkan alumni-alumninya yang dibanggakan dan sudah tersebar di penjuru Indonesia bahkan dunia.

Saya dan teman-teman IKASMARIAGITMA (Ikatan Alumni SMA Negeri “AGIT” Malang) Bandung cabang ITB juga tidak mau ketinggalan untuk ikut berpartisipasi mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara ini. Untuk tahun ini, cukuplah mengambil peran sebagai pembimbing bagi adik-adik angkatan 2010 yang memang mendapat “jatah” untuk mempersiapkan presentasi dari ITB. Saya menyaksikan sendiri bagaimana kerasnya usaha teman-teman dan adik-adik saya dalam mengumpulkan informasi, membuat presentasi, rapat berkali-kali dsb.

Untuk tahun ini, kami alumni Smanti di ITB membawa slogan “Jangan Takut Memeluk Gajah”.


Bagi teman-teman yang sudah lama mengalami, atau belum setahun yang lalu mengalami, atau bahkan mungkin yang sekarang masih mengalaminya pasti tahu bagaimana perasaan sebagai siswa kelas 3 SMA, bisa dibilang sejuta rasanya lah. Pertama, kita akan menghadapi pertaruhan hidup mati dalam UAN, UN, atau apa lah namanya yang mau tidak mau membuat makhluk jenis apapun, dari yang suka membolos sampai yang menangis ketika terpaksa tidak masuk sekolah, menjadi lebih rajin belajar untuk lulus. Kedua, kita dihadapkan pada posisi dimana kita harus menetapkan pilihan mau dikemanakan arah hidup kita setelah nantinya Insya Allah lulus SMA.

Mari kita fokus ke perihal kedua, akan coba saya gambarkan bagaimana kondisi seorang siswa kelas 3 SMA dalam posisi tersebut (silakan bagi yang ingin menambahkan karena merasa yang dialaminya lebih tragis lagi, tuliskan di bagian komentar). Diawali dari menetapkan pilihan, masalah pertama, seorang anak SMA yang sudah harus memilih “jalan” yang menuntun arah hidup mereka nantinya bisa dibilang kebanyakan masih dalam masa labil-labilnya (maaf ya buat yang masih SMA, no offense, saya juga pernah mengalami masa-masa seperti itu). Dalam kondisi tersebut banyak faktor yang menjadi pertimbangan dalam memilih, yang pertama tentu saja minat. Muncul lah masalah kedua, semasa SMA kita terbiasa mengerjakan berbagai bidang sekaligus, syukur-syukur jika diantara banyak bidang tersebut kita berhasil menemukan minat kita dimana, tapi ada juga yang mungkin menyukai banyak bidang, atau mungkin malah tidak menyukai semua bidang yang berujung pada susahnya menentukan pilihan. Masalah berikutnya, dalam kondisi harus menentukan pilihan, teman bisa menjadi masalah dalam kondisi seperti ini, walau mungkin mereka tidak melakukan satu hal jahat pun pada kita. Dalam kondisi mental yang kalut, ketika teman-teman yang lain sudah menentukan pilihan yang mereka bangga-banggakan tanpa sadar muncul perasaan untuk tidak mau kalah dengan mereka sehingga tidak sedikit yang akhirnya memilih karena ikut-ikutan atau memilih karena gengsi pada teman-temannya. Masalah besar lagi tentu saja soal restu orang tua, yang kemudian bisa merembet ke masalah biaya. Banyak kasus juga ketika seorang anak mempunyai pilihan ingin melanjutkan pendidikannya ke universitas atau jurusan tertentu terkendala karena tidak adanya ijin dari orang tua. Banyak alasan yang mendasari “ketakutan” para orang tua itu ketika tidak mengijinkan anaknya mengambil pilihan tertentu, misalnya universitas yang dipilih anaknya terlalu jauh atau jurusan yang dipilih anaknya terlihat kurang populer sehingga dianggap tidak berprospek, atau bisa jadi sampai ke masalah biaya sehingga anaknya terpaksa tidak bisa melanjutkan ke universitas atau jurusan yang diinginkannya atau bahkan bisa jadi tidak bisa melanjutkan ke bangku kuliah sama sekali.

Tapi tentunya walaupun ada sekian banyak masalah, yang saya yakin masih banyak lagi masalah yang belum disebutkan, kita harus yakin bahwa Allah SWT menciptakan masalah untuk kita mencari solusinya. Soal pilihan ini memang urusan yang sangat berat, tetapi bagi saya, ketika harus memutuskan atau menjatuhkan pilihan yang nantinya akan menentukan jalan hidup kita, sebagai manusia yang mulai dewasa harus mampu menentukan pilihan sendiri, memang sangat perlu ada saran dan nasihat dari orang tua, teman-teman, saudara, atau pihak-pihak lain, tapi tetap saja kita sendiri lah yang harus mengambil keputusan atas arah hidup kita. Coba bayangkan ketika pilihan yang kita jatuhkan didasari ikut-ikutan teman, apakah ketika kita gagal mereka yang akan bertanggung jawab? Tentu tidak, karena itulah kita harus mampu menentukan pilihan-pilihan sendiri dalam hidup dan tentunya bertanggung jawab atas pilihan yang diambil. Ketika misalnya apa yang kita inginkan itu tampak susah dicapai, ingatlah bahwa impian memang harus setinggi langit, dan langit itu yang tinggi itu bisa dicapai. Ketika kita sudah menetapkan sebuah tujuan yang tinggi, kita harus bertanggung jawab atas pilihan tersebut dengan rela jatuh bangun dan dengan ikhlas berjuang lebih keras dari orang lain. Mari mencoba untuk live our life dengan impian dan harapan-harapan yang tinggi dalam hidup kita. Jauh??Biaya?? Sudah banyak pihak-pihak yang menyediakan beasiswa disana-sini, mau dari pihak kampus ataupun pihak swasta yang saya tahu itu cukup melimpah, tapi tetap berlaku yang berusaha yang menuai hasilnya, jika kita mau sedikit saja menyempatkan waktu mencari informasi, banyak beasiswa yang bahkan setahu saya sampai banyak yang masih sisa dari yang dialokasikan diawal.

Seringkali memang kita harus mengambil sebuah pilihan yang “berani” dalam hidup kita demi sesuatu yang lebih baik tentunya, demi impian dan visi hidup kita. Untuk adik-adikku SMAN 3 Malng, sesuai dengan slogan kami pada gambar di atas “Jangan Takut Memeluk Gajah”, memilih lah dengan hati, mau setinggi apapun impian itu, mau ITB atau universitas manapun yang sesuai impian kalian masing-masing, perjuangkan sampai titik darah penghabisan. Impian itu terlalu berharga untuk dikorbankan.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk teman-teman, feel free to leave a comment, saya tidak keberatan jika memang ada kritik dan saran dari teman-teman semua.


Millenium Development Goals,Sasaran atau Sekedar Wacana?


Halo teman-temanku yang baik hatinya,

pernahkah kalian mendengar istilah Millenium Development Goals atau biasanya disingkat MDGs ?

Saya ceritakan dulu kronologisnya secara singkat.

Pada September 2000, perwakilan dari sekitar 190 negara di dunia, termasuk Indonesia, berkumpul untuk menghadiri Millenium Summit. Pertemuan tersebut menghasilkan sebuah United Nations Millenium Declaration yang diadopsi oleh 189 negara dan ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara. Deklarasi tersebut berisi komitmen yang dituangkan dalam delapan poin yang kemudian disebut Millenium Development Goals.

Berikut delapan sasaran yang merupakan MDGs :

Goal 1 : Eradicate Extreme Poverty and Hungers (Mengentaskan Kemiskinan dan Kelaparan yang Ekstrem)

Goal 2 : Achieve Universal Primary Education (Pemerataan Pendidikan Dasar)

Goal 3 : Promote Gender Equality and Empower Woman (Mendukung Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan)

Goal 4 : Reduce Child Mortality Rate (Mengurangi Angka Kematian Anak)

Goal 5 : Improve Maternal Health (Meningkatkan Kesehatan Ibu)

Goal 6 : Combat HIV/AIDS, Malaria, and Other Diseases (Melawan HIV/AIDS, Malaria, dan Penyakit Lain)

Goal 7 : Ensure Environmental Sustainability (Menjamin Keberlangsungan Lingkungan Hidup)

Goal 8 : Develop A Global Partnership for Development (Mengembangkan Kemitraan Global untuk Pembangunan)

Mungkin saya tidak akan membahas satu persatu mengenai setiap goal dalam MDGs tersebut, tetapi yang ingin saya bahas adalah sudah sejauh mana Indonesia, yang juga termasuk salah satu negara yang ikut membuat komitmen tersebut, sudah menjalankan sasaran bersama ini.

Kembali ke pertanyaan saya yang paling awal, mungkin tidak sedikit juga teman-teman yang belum tahu benar apa itu MDGs, atau mungkin belum pernah mendengar sama sekali bahkan. Jawaban yang sama juga banyak saya peroleh ketika saya menanyakan ke beberapa teman soal ini. Kalau dipikir-pikir, MDGs adalah sebuah tujuan besar yang juga diadopsi oleh negara kita tercinta yang seharusnya sudah tercapai lima tahun lagi, tetapi mengapa banyak yang belum tahu soal isu ini, bahkan dari kalangan mahasiswa saja yang seharusnya cukup up to date dengan isu-isu terbaru juga banyak yang tidak tahu soal ini. Menurut saya ini bukan sepenuhnya salah mereka yang wawasannya kurang atau bagaimana, akan tetapi juga disebabkan kurangnya sosialisasi mengenai program ini, sehingga mungkin hanya kalangan tertentu saja yang mengetahui isu ini. Bukan tanpa usaha memang, tapi usaha yang dilakukan kurang melibatkan masyarakat secara umum sebagai subjeknya. Hal-hal tersebut membuat pemerintah Indonesia terkesan tidak sungguh-sungguh menjalankannya sehingga banyak pihak yang meragukan ketercapaiannya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa MDGs ini adalah sebuah tujuan besar yang sudah diadopsi hampir semua negara dunia yang tentunya menuntut kesungguhan dari semua pihak, termasuk pemerintah Indonesia. Untuk mencapai delapan tujuan tersebut menurut saya mutlak diperlukan kontribusi dari seluruh elemen masyarakat Indonesia, bukan hanya kalangan tertentu di pemerintahan. Belum terlambat menurut saya jika mulai sekarang kita mulai menanggapi hal ini dengan sungguh-sungguh, harapan saya pemerintah mulai mensosialisasikan hal ini dengan lebih gencar, tidak hanya itu, kita sebagai generasi muda, calon-calon pemimpin bangsa dimasa depan, juga harus mulai berusaha mendukung tercapainya tujuan-tujuan mulia yang tertuang dalam MDGs ini, demi generasi muda yang lebih baik, untuk bangsa Indonesia yang lebih baik.

Siapa yang Sebenarnya Cupu?


Cupu, kependekan dari culun punya, merupakan sebuah bahasa gaul yang entah kapan petama kali saya dengar karena seingat saya tidak ada kata semacam itu ketika saya masih kecil.

Tapi apa yang disebut cupu itu sebenarnya?

Apakah yang seperti ini?

atau yang seperti ini?

Pada awalnya cupu merupakan sebutan untuk orang-orang yang berpenampilan “konservatif” atau jadul alias lawas dsb. Misalnya ketika sesorang memakai kacamata tebal, berkawat gigi, tidak ahli berdandan akan otomatis menjadi bahan olokan bagi teman-temannya yang lain. Lama kelamaan kata cupu mulai “berkembang” dalam artian mulai banyak definisi-definisi lain yang menuju pada kata tersebut. Saya cukup sering mendengar istilah itu dimana-mana, terkadang saya risih juga mendengarnya.

Beberapa contoh antara lain, dalam dunia gamers, orang yang belum mahir disebut cupu, di dunia kemahasiswaan, orang-orang yang pandai berorasi dan aktif di kampus dianggap hebat, sementara mereka yang kebanyakan berkutat dengan buku atau komputer dianggap cupu, dan di dunia orang-orang hedonis, mereka yang masih memegang teguh prinsipnya dianggap cupu. Dari dua contoh terakhir bisa kita lihat bahwa orang-orang yang memiliki cara pandang seperti itu hanyalah orang-orang yang merasa dirinya hebat dan merendahkan orang yang tidak memiliki kebiasaan sama dengannya. Padahal dibalik semua anggapan itu, justru kebanyakan dari mereka sebenarnya tidak lebih baik dari orang yang sering mereka olok-olok.

Tidakkah kita malu mengata-ngatai seorang mahasiswa yang kelihatannya kebanyakan waktunya dihabiskan bersama buku pelajaran atau komputer ketika akhirnya kita mengetahui bahwa mereka bisa menghasilkan banyak hal dengan aktifitasnya itu, ketika seorang “kutu buku” bisa menghasilkan penemuan-penemuan baru yang berguna untuk masyarakat, atau ketika si “computer freak” itu banyak menciptakan teknologi-teknologi yang memberi banyak manfaat untuk kehidupan banyak orang. Bukankah seharusnya kita mengolok-olok diri sendiri ketika kita tahu bahwa orang yang kita kata-katai itu jauh lebih baik dari kita.

Karena itu kawan-kawan, tidak seharusnya kita menganggap remeh apalagi merendahkan orang-orang yang mungkin sedikit berbeda dengan kita. Tidak sepantasnya kita mengolok-olok orang lain karena penampilan fisik, atau sikap dan perbuatannya yang tidak seperti kebanyakan orang, karena kebaikan seseorang tidak dinilai dari sifat-sifat semacam itu, tetapi dilihat dari seberapa besar dia mampu membawa manfaat untuk lingkungan sekitarnya.

The Essence of Friendship


Abraham Lincoln
Am I not destroying my enemies when I make friends of them?

Aristotle
What is a friend? A single soul dwelling in two bodies.

Ben Jonson

True friendship consists not in the multitude of friends, but in their worth and value.

Blaise Pascal
Few friendships would survive if each one knew what his friend says of him behind his back.

C. S. Lewis
Friendship is born at that moment when one person says to another: “What! You, too? Thought I was the only one.”

Elbert Hubbard
A friend is one who knows you and loves you just the same.

Ralph Waldo Emerson
A man’s growth is seen in the successive choirs of his friends.

Leo Buscaglia
A single rose can be my garden… a single friend, my world.

Thomas Jefferson
But friendship is precious, not only in the shade, but in the sunshine of life, and thanks to a benevolent arrangement the greater part of life is sunshine.

C. S. Lewis
Friendship is unnecessary, like philosophy, like art… It has no survival value; rather it is one of those things that give value to survival.

Muhammad Ali
Friendship… is not something you learn in school. But if you haven’t learned the meaning of friendship, you really haven’t learned anything.

Albert Camus
Don’t walk in front of me, I may not follow; Don’t walk behind me, I may not lead; Walk beside me, and just be my friend.

Ludwig van Beethoven
Never shall I forget the times I spent with you; continue to be my friend, as you will always find me yours.

Bob Marley
Your worst enemy could be your best friend, and your best friend your worst enemy.

Yassir Arafat
Choose your friends carefully. Your enemies will choose you.

Oscar Wilde
True friends stab you in the front.

Bernard Meltzer
A true friend is someone who thinks that you are a good egg even though he knows that you are slightly cracked.

Tennessee Williams
Life is partly what we make it, and partly what it is made by the friends we choose.

Clifton Fadiman
One measure of friendship consists not in the number of things friends can discuss, but in the number of things they need no longer mention.

David Tyson Gentry
True friendship comes when the silence between two people is comfortable.

Yudha Okky Pratama
Salah satu hadiah terbaik yang bisa didapatkan di dunia adalah teman-teman yang menyayangi kita.

 

sumber : About.com

BIRTHDAY PRESENT :)


Ulang tahun kali ini benar-benar terasa spesial.

Ceritanya begini, tahun ini saya yang sudah genap berusia 20 tahun (udah tua T.T) tidak terlalu excited ketika menghadapi datangnya ulang tahun, mungkin karena padatnya kegiatan, tugas, kuliah, dll jadinya pikiran tersita, atau mungkin juga karena merasa sudah terlalu tua untuk memikirkan hal begituan.

Tapi pagi ini 17.10.10, saya bangun dengan perasaan biasa saja. Saya bangun kemudian sholat sebentar, begitu selesai sholat, karena masih mengantuk akhirnya saya memilih untuk tiduran lagi, saya nyalakan laptop kemudian membaca komik online sambil tiduran. Tiba-tiba saja, teman saya yang bernama Isro membuka pintu sambil tersenyum aneh. Awalnya saya tidak merasa aneh, karena memang dia sudah biasa bertingkah seperti itu, tapi saya baru terkejut(really surprised!!!) ketika dia masuk ke kamar saya dengan diikuti teman saya yang lain,Shani,Ai, dan Fajar sambil membawa cake dengan lilin menyala diatasnya. Saya sempat freezing dan salting waktu melihat mereka datang sampai akhirnya mereka menyuruh saya untuk segera meniup lilinnya. Lilin pun ditiup dengan sepenuh hati :)(yeeayy!!),prosesi tiup lilin pun selesai dan saya langsung menyuapkan potongan cake ke keempat sahabat saya itu. Kami pun menghabiskan cake itu berlima setelah ditambah sahabat saya lainnya, Arif, yang datang belakangan.

Susah dideskripsikan bagaimana perasaan saya saat itu, pokoknya benar-benar “A Moment to Remember”

Oh iya, saya juga mendapatkan hadiah ulang tahun sebuah kartu ucapan yang ditulis oleh keempat sahabat saya itu, berikut saya cantumkan gambarnya (biar ga hoax karena no picture.hehe).

Benar2 ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam samudra, setinggi langit, seluas jagat raya kepada Nadhilah Shani, Awalia Indah Saputri, Nur Fajar Trihantoro, Muhammad Isyraq Ulhaq.

It was GREAT GIFT, but YOU yourselves’ my BEST PRESENT:)

SUDAH JAMANNYA TEPAT WAKTU


Budaya “ngaret” seolah sudah mendarah daging di masyarakat Indonesia.

Pernyataan di atas pasti sudah banyak teman-teman dengar atau bahkan mengatakannya sendiri. Memang sepertinya susah sekali menghilangkan “si ngaret” itu dari peredaran, padahal menurut pendapat saya sendiri justru “si ngaret” inilah yang menjadi salah satu faktor terbesar mengapa bangsa kita ini samapai sekarang masih tertinggal. Seperti kita semua tahu, di banyak negara-negara besar dan maju salah satu penyebabnya karena sangat menjunjung tinggi budaya tepat waktu.

Alhamdulillah walaupun belum bisa menjadi orang yang selalu tepat waktu, tapi saya termasuk orang yang sangat menghargai ketepatan waktu itu. Saya juga beruntung karena saat ini saya menjadi anggota HMIF (Himpunan Mahasiswa Informatika) ITB yang sangat menjunjung tinggi ketepatan waktu. Tahukah teman-teman bahwa ketepatan waktu sebenarnya merupakan salah satu bentuk komitmen, yang saya yakin teman-teman semua sudah tahu apa arti komitmen (kalau ga tau silakan googling).

Contohnya ketika kita membuat janji dengan seseorang, mau tidak mau kita juga melibatkan kepentingan orang lain di situ. Ketika kita terlambat, bayangkan berapa waktu orang tersebut yang terbuang hanya karena menunggu kedatangan kita yang tidak sesuai kesepakatan, coba kita pikirkan berapa urusan mereka yang terbengkalai karena keterlambatan kita, karena bagi orang yang produktif setiap detik yang ia miliki menjadi sangat berharga. Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, menurut saya tidak sepantasnya kita dengan seenaknya tidak merasa bersalah ketika kita datang terlambat. Mungkin ketika kita selalu tepat waktu dalam banyak hal, tidak banyak pujian ataupun penghargaan yang orang lain berikan, tapi ketika kita melanggarnya bisa berdampak buruk sekali bahkan sangat mungkin kita akan kehilangan kepercayaan dari orang lain.

Memang ada kondisi-kondisi tertentu yang sangat darurat sehingga mengharuskan kita untuk datang terlambat, tapi ada baiknya kita beri pemberitahuan terlebih dahulu agar orang tersebut tidak menunggu tanpa kejelasan dan akirnya malah bisa menimbulkan kesalahpahaman. Saya rasa kalau memang alasan kita masuk akal, orang tersebut pasti bisa menerimanya, juga kalau kita memberitahu sebelumnya soal keterlambatan kita, orang  tersebut bisa mengatur ulang jadwalnya sehingga urusan-urusan yang lain tidak terbengkalai.

Seandainya masyarakat Indonesia sudah bisa menghargai komitmen, khususnya ketepatan waktu ini, saya harap akan terbentuk masyarakat yang produktif dan akan tercapai kesuksesan bersama karena masing-masing dari kita mampu menghargai kepentingan orang lain selain kepentingan diri pribadinya. Semua hal besar itu bisa dimulai dari hal kecil, TEPAT WAKTU.

Mari teman-teman, dengan dimulai dari diri sendiri kita nyatakan perang pada “keterlambatan”, Insya Allah perlahan tapi pasti, ketika kita berhasil mengatasi ini, kita bisa menciptakan Indonesia yang tidak kalah dari bangsa manapun. Percayalah bahwa excellence dibentuk dari kebiasaan, bukan hanya satu perbuatan.

Tetap semangat ya teman-teman 🙂

Jendela hati


Hai teman-teman, bagaimana perasaan kamu waktu pertama membaca judul artikel ini? mellow sekali ya?hehehe

Sebenarnya cerita dalam artikel ini bukan tulisan saya sendiri, saya mengambilnya dari website dosen Struktur Diskrit saya, Pak Rinaldi Munir, berikut linknya http://www.informatika.org/~rinaldi/ . Karena saya cukup terinspirasi membaca cerita ini, jadi saya ingin membaginya pada teman-teman yang lain, siapa tahu dengan membaca cerita ini bisa membuka “Jendela Hati’ kita semua.

Berikut ceritanya :

Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang diantaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu. Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.

Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.

Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.

“Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah.”

Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu. Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah.

Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meski pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah. Begitulah seterusnya, dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlalu. Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.

Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!

Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun. “Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup,” kata perawat itu.

Sumber: Unknown Copyright � 2004 SUARA MERDEKA

Duduk Diam atau Berlari Mengejar Impian?? ( Impianmu Penuntun Jalanmu )


Impian adalah sesuatu yang wajib bagiku dan menurutku seharusnya itu adalah wajib juga untuk setiap orang bagaimanapun kondisinya. Kalau perjalanan hidup ini diumpamakan seperti mendaki gunung, yang diawali dengan jalan yang landai-landai saja dan semakin lama tanjakan semakin terjal dan curam. Gunung menggambarkan setiap sisi kehidupan kita,entah itu kehidupan spiritual, akademik, sosial, dsb.. Awal kita mendaki, kita hanyalah anak kecil tanpa dosa dengan kecerdasan dan semangat luar biasa dimana kita masih memiliki banyak khayalan atau impian, ketika kehidupan dijalani dengan canda tawa dan tanpa beban. Tetapi, semakin lama tantangan hidup semakin berat dan jalan yang akan kita tempuh semakin berliku dengan rintangan di sana-sini, dan hanya impian dan semangat lah yang menjadi energi bagi kita.

Dalam mendaki gunung kehidupan ini, ada kalanya kita lelah, ketika kita sedang terpuruk dan kehilangan harapan. Sebagian orang memilih untuk duduk diam di tempat, ketika mereka merasa sudah nyaman di situ, ketika mereka merasa jalan di depan akan semakin terjal dan tidak mungkin dilalui, dan tidak ada keinginan sedikitpun untuk menuju atau setidaknya mengetahui apa yang ada di ‘puncak’. Saat itu terjadi, kita hanya akan menjadi ‘the loser’, yang ketika semakin banyak jumlahnya hanya akan menghalangi dan menghambat jalan bagi mereka yang masih ingin terus menuju puncak.

Ketika seseorang semakin bertambah usia, ketika orang bilang mereka sudah bukan anak kecil lagi, mereka merasa harus meninggalkan dunia fantasi masa kecilnya. Kita semua memang akan tumbuh dewasa secara fisik, tapi bukan berarti ketika tubuh mungil kita perlahan  tumbuh dan ciri fisik kita sebagai anak kecil perlahan menghilang maka semua semangat dan kebiasaan untuk hidup dari impian dan harapan itu ikut kita hilangkan.  Dulu memang aku pernah menjadi seorang yang ‘sekedar’ menjalani hidup, tanpa tujuan, dengan ambisi ala kadarnya untuk diakui orang lain, dengan cara apapun. Alhamdulillah, memang segala puji hanya untukmu Ya Allah, terima kasih karena atas petunjuk-Mu lah sekarang aku mulai menemukan tujuan hidupku, aku mulai sedikit menemukan kembali kebahagiaan dan mimpi masa kecilku. Aku sangat bersyukur saat ini aku masih hidup dengan semua harapan dan impian yang kumiliki. Percaya atau tidak, impian, harapan dan cita-cita itulah sumber semangatku, hal itulah yang memberiku kekuatan walau dalam keterpurukan sekalipun. Aku merasa impian itulah yang menunjukkan jalanku, terima kasih Ya Allah karena walaupun sedikit, aku mulai merasa bisa memaknai setiap momen dalam hidup, aku mulai belajar menemukan ‘semangat’ pada setiap yang aku lakukan, aku mulai sebisa mungkin untuk memberikan yang terbaik pada setiap usahaku, aku mulai mencoba untuk berlari mengejar impian,walaupun mungkin aku masih jauh di bawah, kini aku mulai berusaha berlari menuju puncak gunung kehidupanku.

Segitu pentingnya lah sebuah ‘impian’ bagiku. Aku berharap semakin banyak orang-orang, terutama para pemuda, yang sudah tahu pasti apa yang menjadi tujuan mereka dan kemana mereka harus melangkah. Karena itulah, aku ingin suatu saat bisa membagi apa yang kurasakan, aku ingin bisa membantu seseorang untuk menemukan impian dan semangatnya, aku ingin menjadi seorang yang bermanfaat dalam keikhlasan dan kerendahan hati. Semoga semakin banyak orang yang terus berusaha sekuat tenaga, dengan penuh semangat berlari menuju puncak tanpa takut terjatuh, karena ketika kita terjatuh, yang perlu kita lakukan hanyalah bangkit dan kembali berlari. Bangkitlah kawan!!Mari kita berlari bersama mengejar impian. e(^o^)9