Tag Archives: indonesia

Perang Saudara Terus, Gimana Mau Maju?


okkypratama-indonesiaSiapa sih diantara kita orang Indonesia yang tidak pernah mengkritik atau mengeluhkan kondisi negerinya sendiri? Tingkat korupsi tinggi, kemiskinan dimana-mana, pendidikan kurang maju, dll. Jadi sebenarnya sudah jelas apa yang kita semua inginkan. Kita ingin Indonesia menjadi negara terpandang di mata Internasional dengan segala kelebihan dan prestasi yang kita miliki. Tapi coba perhatikan dulu beberapa quotes yang menurut saya menarik:

  • Gimana Indonesia mau maju, di dalam negeri sendiri saja sudah saling sikut. – lupa siapa
  • Satu lagi yang bikin gemeez, #Kita (orang Indonesia) rada ga suka dengan perbedaan pendapat. Helloo..beda pendapat biasa aja kali.. jangan jadi musuhan! – Handry Satriago
  • Negara kita ini lagi berkembang lho, kita jangan terkotak-kotak, mana karya yg lebih bagus ato gimana, kita masih berkembang, kita harus saling support – Herjunot Ali

Sampai sini saja, lanjutannya sudah saatnya kita pikirkan masing-masing…

*gambar diambil dari: http://www.patchdepot.co.uk/

Advertisements

Smart City, Munginkah Ada di Indonesia?


Jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan akan terus mengalami peningkatan dalam 25 tahun ke depan. Akibatnya bisa kita bayangkan, jumlah orang semakin banyak, sementara jumlah sumberdaya seperti ketersediaan lahan, hasil alam, fasilitas umum malah cenderung berkurang, kalau dihitung secara kasar maka setiap individu di Indonesia ini semakin lama akan mendapat “jatah” sumberdaya yang semakin sedikit. Masalah tersebut sebenarnya dialami oleh negara manapun di dunia terutama yang angka pertumbuhan penduduknya positif.

okkypratama-smart-city-1Ketika sumber daya yang sifatnya material semakin terbatas, justru ini lah saatnya membuktikan pernyataan “aset paling berharga dari sebuah organisasi, perusahaan, atau negara adalah sumber daya manusianya”. Saatnya bagi kita, dengan segala upaya dengan kecerdasan, kreativitas, kerja keras, dan kerja sama untuk mengelola sumber daya yang ada sehingga keterbatasan itu bukan menjadi masalah. Dengan solusi yang tepat, dalam keterbatasan pun kehidupan kita masih bisa lebih baik daripada sebelumnya. Usaha yang mulai berkembang saat ini adalah konsep yang disebut dengan smart city. Mengapa kota? tentu saja karena kota merupakan pusat kehidupan di suatu negara, selain itu permasalahan masyarakat pun banyak berpusat di kota.

Smart city dapat diidentifikasi dari enam aspek, yaitu:

  • smart economy
  • smart mobility
  • smart environment
  • smart people
  • smart living
  • smart governance

Salah satu contoh konkret mengenai smart city adalah konsep yang diteliti dan dikembangkan oleh sebuah tim di MIT yang dipimpin oleh Kent Larson. Konsep tersebut dapat dilihat di video berikut.  

Informasi yang lebih lengkap mengenai contoh-contoh kota yang memiliki konsep smart city dapat dilihat di situs http://www.smart-cities.eu/.

Smart city, mungkinkah ada di Indonesia?

Tulisan ini memang tidak menjawab pertanyaan tersebut, justru ini menjadi tantangan bagi kita. Pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab dengan kata-kata, cukup lah dijawab dengan aksi yang membuktikan kemana anak muda yang menjadi generasi penerus ini membawa Indonesia di masa depan.

gambar diambil dari: http://www.dailydealmedia.com/

[Djavanesia] Wayang


*Tulisan bertajuk “Djavanesia” ini akan banyak mengangkat wayang Jawa karena memang saya orang Jawa dan cuma itu yang saya tahu, tanpa bermaksud mengecilkan suku lain di Indonesia, kita tetap Bhineka Tunggal Ika. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengetahuan dan kesukaan saya pada cerita wayang di masa SD dan SMP, yang kemudian kembali mendapat inspirasi ketika mengikuti PIMNAS 25 di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Walaupun pengetahuan saya sedikit sekali, tetapi semoga tetap bermanfaat. 

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang memiliki sejarah kebudayaan yang kuat, masih banyak dari kebudayaan tersebut yang diwariskan secara turun temurun sampai sekarang, termasuk juga budaya Jawa. Hanya saja sayangnya kita sebagai orang Indonesia harus mengakui bahwa kita sendiri kurang menjaga budaya tersebut sampai-sampai ada bangsa lain yang berani mengklaim budaya bangsa kita sebagai miliknya. Oke, tapi inti tulisan ini bukan untuk mengkritik bangsa sendiri.

Kembali ke kebudayaan Jawa, menurut Benedict R. O’G. Anderson, satu hal yang menjadi kehebatan yang membedakan masyarakat Jawa dengan Barat adalah keberadaan mitologi yang menjadi simbol dari budaya tersebut, yang ternyata tidak cukup kuat pengaruhnya pada budaya Barat. Mitologi itu lah yang sekarang kita kenal dengan sebutan Wayang. Melalui wayang ini lah masyarakat Jawa berusaha mewariskan dan melestarikan nilai-nilai budaya atau prinsip hidupnya kepada anak cucunya, salah satu contohnya adalah Sunan Kalijaga yang mencoba menyebarkan Islam melalui cerita wayang.

Keragaman dan perbedaan yang sangat kentara pada tokoh-tokoh dalam wayang Jawa menunjukkan adanya keragaman “rona kehidupan”  yang terus mengalir dalam kehidupan kita semua. Salah satu lakon(cerita) pewayangan yang kita kenal adalah Ramayana dengan tokoh-tokohnya yaitu Rama, Sinta, Rahwana, dan Anoman.  Kemudian ada juga kisah Mahabharata yang menceritakan konflik antara Pandhawa dengan Kurawa yang sebenarnya masih ada hubungan kerabat dan puncaknya pada perang Bharatayudha.

Sekian dulu tulisan pertama untuk mengawali seri “Djavanesia” ini. Tapi tenang saja, karena ini baru prolog lho! :D, berikutnya akan ada beberapa tulisan berikutnya yang mengangkat tokoh-tokoh dalam pewayangan seperti Yudhistira, Bima, Arjuna, Gatotkaca dan banyak tokoh lainnya, tentu saja dibumbui sedikit cerita tentang kehidupan mereka yang banyak mengandung keteladanan. Karena itu, nantikan tulisan selanjutnya 🙂

*karena keterbatasan pengetahuan saya, mohon pembaca yang mengetahui adanya kesalahan pada tulisan saya untuk dengan ikhlas menyampaikan kritik dan masukan 🙂

next >> Puntadewa

Ungkapan Syukur Alm. Bu Menteri


Ibu Endang Rahayu Sedianingsih, mantan Menteri Kesehatan RI yang sekarang sudah almarhumah disebut-sebut sebagai salah satu srikandi terbaik yang dimiliki oleh negeri kita. Sebenarnya saya tidak terlalu tahu bagaimana sosok, kepribadian, keseharian, atau prestasi apa yang pernah beliau raih, sejujurnya nama beliau pun belum terlalu familiar bagi saya. Tetapi saya tidak bisa menahan kekaguman saya pada beliau ketika secara tidak sengaja saya membaca sambutan yang Ibu Endang tulis pada 13 April 2011 untuk buku Berdamai dengan Kanker: Kiat Hidup Sehat para Survivor Kanker yang dimuat pada koran Pikiran Rakyat edisi hari ini. Secuplik sambutan yang mengungkapkan betapa beliau adalah seorang yang sangat memaknai hidup dengan selalu bersyukur.

Saya sendiri belum bisa disebut sebagai survivor (penyintas) kanker. Diagnose kanker paru stadium 4 baru ditegakkan 5 bulan yang lalu. Dan sampai kata sambutan ini saya tulis, saya masih berjuang untuk mengatasinya. Tetapi saya tidak bertanya, “Why me?” Saya menganggap ini adalah salah satu anugerah dari Allah SWT.

Sudah begitu banyak anugerah yang saya terima dalam hidup ini: hidup di negara yang indah, tidak dalam peperangan, diberi keluarga besar yang pandai-pandai, dengan sosial ekonomi lumayan, dianugerahi suami yang sangat sabar dan baik hati, dengan 2 putra dan 1 putri yang Alhamdulillah sehat, cerdas, dan berbakti kepada orang tua.

Hidup saya penuh dengan kebahagiaan. “So… Why not?” Mengapa tidak Tuhan menganugerahi saya kanker paru? Tuhan pasti mempunyai rencana-Nya yang belum saya ketahui, tetapi saya merasa SIAP untuk menjalankannya. Insya Allah. Setidaknya saya menjalani sendiri penderitaan yang dialami pasien kanker sehingga bisa memperjuangkan program pengendalian kanker dengan lebih baik.

Bagi rekan-rekanku sesama penderita kanker dan para survivor, mari kita berbaik sangka kepada Allah. Kita terima semua anugerah-Nya dengan bersyukur. Sungguh, lamanya hidup tidaklah sepenting kualitas hidup itu sendiri. Mari lekukan sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan hari ini. Kita lakukan dengan sepenuh hati. Dan… jangan lupa, nyatakan perasaan kita kepada orang-orang yang kita sayangi. Bersyukurlah, kita masih diberi kesempatan untuk itu.

sumber : Pikiran Rakyat, edisi 3 Mei 2012