Monthly Archives: March 2012

Kelinci



Halo teman-teman! 😀

Mungkin kalian ada yang mengira judul yang saya tulis ini adalah sebuah kiasan, analogi, dan sejenisnya. Sesungguhnya itu tidak benar, karena disini memang saya akan sedikit bercerita pengalaman saya dengan kelinci (ada foto-fotonya juga lho, lucu-lucu lagi kelincinya, tapi maaf agak berat fotonya)

Kalau tidak salah ini sudah hampir setahun yang lalu. Saat itu kebetulan saya sedang sibuk-sibuknya dengan banyak hal, mulai dari tugas kuliah, organisasi, bisnis, sampai persiapan ikut lomba yang akhirnya batal. Di tengah kesibukan itu,akhirnya saya sempat punya waktu pulang ke kosan santai-santai (seringnya di kosan cuma numpang tidur+mandi). Baru masuk kamar kosan, entah tiba-tiba muncul ide darimana, tiba-tiba saya terpikirkan untuk main-main ke Lembang, naik motor, sendirian. Kenapa Lembang? suasananya enak, hawanya asik. Kenapa naik motor? ya karena yang ada itu. Kenapa sendirian? karena idenya muncul tiba-tiba jadi mikirnya kalo ngajak temen pasti ribet (jadi bukan karena galau.hehehe). Jadi lah siang itu saya langsung berangkat.

Selama di perjalanan, di kanan kiri jalan saya melihat ada penjual kelinci yang cukup menyita perhatian saya, apalagi kalau tidak salah tidak sampai sebulan sebelumnya saya baru saja membeli buku tentang beternak kelinci. Lagi-lagi ada ide yang entah muncul darimana, saya pun coba mendatangi beberapa penjual kelinci dan coba sedikit bertanya tentang bagaimana merawat kelinci, bagaimana pasarnya, bagaimana kalau kelinci sakit. Untungnya bapak/ibu penjualnya mau meladeni saya dengan ramah dan antusias, padahal saya tidak membeli kelincinya, sampai-sampai saya ditunjukkan bagaimana cara mengawinkan kelinci, padahal saya tidak menanyakan soal itu, tapi ya sudahlah, Alhamdulillah bonus. Ini sebagian foto-foto kelinci yang saya ambil.

Selain itu, saya juga sempat mengunjungi peternakan kelinci milik Pak Asep, salah satu peternakan kelinci yang cukup populer di kalangan para peternak kelinci di Lembang. Berikut ini beberapa fotonya.
Setelah cukup melakukan ekspedisi kelinci, di perjalanan pulang saya sempat mampir ke Rumah Susu untuk membeli seplastik susu untuk teman-teman sekosan dan mencoba puding yoghurt, selain itu biar lebih menjiwai, saya juga mampir di sebuah warung sate kelinci. Alhamdulillah semuanya enak, apalagi sate kelincinya. Yaah, kelinci lucu kok disate? Ini paradigma yang kurang pas. Perlu teman-teman ketahui, sate kelinci ini termasuk daging yang paling menyehatkan lho, berprotein tinggi tapi rendah lemak dan kolesterol, lebih baik dari daging ayam, kambing, atau sapi. Lagian kelinci gampang beranaknya kok, jadi jangan takut mereka akan punah kalau disate.hehehe
Ya itu lah sedikit pengalaman saya bersama kelinci. Walaupun saya sekarang kuliah di jurusan teknik Informatika, siapa tahu (cuma Allah yang tahu) nantinya saya malah jadi pengusaha peternak kelinci yang sukses dan terbesar se-Indonesia.
Advertisements

[Kecerdasan Emosi] 1. Kenapa Penting?


Halo teman-teman semua 😀

Tulisan ini akan mengawali seri [Kecerdasan Emosi] yang saya tulis di blog ini, artinya Insya Allah akan ada tulisan-tulisan berikutnya dari seri ini. Tentunya ini adalah pendapat saya sendiri, hasil renungan dari beberapa pengalaman dan pengamatan yang saya lakukan. Semoga bermanfaat 🙂

Zaman semakin maju, ilmu semakin berkembang, manusia jadi semakin pintar, sampai-sampai “orang pintar” ini lah yang menjadi role-model yang dicapai oleh sebagian besar orang (ini tidak ada datanya, pendapat saya saja.hehe). Salah ngga sih? ya, jelas saya tidak punya hak untuk menghakimi mana yang benar mana yang salah. Saya pun dulu sempat merasakan hal yang sama, ketika “orang pintar” lah yang saya jadikan role-model. Saya ingat sekali doa dan nasihat nenek pada saya, “ojo dadi wong pinter, mengko minteri wong, dadio wong sing ngerti” (ini dalam bahasa Jawa, begini kira-kira terjemahannya, “Jangan jadi orang yang pintar, nanti malah mengakali orang lain, lebih baik jadilah orang yang mengerti). Nasihat ini masih saya ingat terus karena sejujurnya saya sendiri masih belum tahu apa maksudnya dan sampai sekarang pun masih coba merenungi sebenarnya apa maksud doa tersebut.

Saya memang baru memikirkan hal ini semenjak masuk bangku kuliah, tapi cukup untuk sedikit membuka mata saya pada suatu kesimpulan yaitu, “bukan tingkat kepintaran yang paling mempengaruhi hidup seseorang, tapi emosi dan perasaan”. Dalam kesimpulan tersebut saya tidak mengungkapkan mana yang lebih penting dan mana yang tidak penting, soal itu silakan berpendapat masing-masing, tapi saya menekankan soal mana yang lebih mempengaruhi. Perlu dipahami juga, emosi tidak terbatas pada kemarahan, atau ketidaksukaan, tapi ada juga emosi yang positif seperti semangat dan kasih sayang.

Begini kira-kira..

Kita semua pasti setuju kalau hidup adalah pilihan, tapi sadarkah kita kalau seencer apapun otak seseorang, setinggi apapun IQ nya, sekuat apapun logikanya, dan seluas apapun wawasan dia, tetap saja yang paling mempengaruhi pilihan mana yang kita ambil adalah emosi? Disadari atau tidak, ya begitulah yang terjadi menurut saya. Bagi teman-teman yang terlanjur mendewakan kepintarannya mungkin tidak setuju.

Coba kita perhatikan..

Banyak kejadian menunjukkan bahwa seseorang lebih mempercayai orang yang sudah dikenalnya untuk mengisi suatu posisi daripada orang yang kurang dikenal, walaupun mungkin orang yang kurang ia kenal ini punya kemampuan yang sama atau bahkan lebih baik sebenarnya. Banyak contoh menunjukkan ketika seseorang menyukai apa yang ia kerjakan maka ia akan mengerjakannya dengan lebih bersemangat dan hasilnya pun akan lebih maksimal. Ada juga kasus ketika seseorang sedang not in the mood, sikapnya cenderung negatif dan jika dia sedang mengerjakan sesuatu, maka hasilnya cenderung tidak maksimal.

Fenomena-fenomena di atas, walaupun mungkin banyak dikeluhkan oleh orang-orang pintar (atau merasa pintar), tapi tetap saja terjadi dan menurut saya akan terus berlanjut dan hal itu menunjukkan bahwa emosi lah yang paling mempengaruhi pilihan yang kita ambil. Benar sekali, emosi dan perasaan, bukan logika. Itu menurut saya. Dan bukankah banyak hal-hal terpenting dalam hidup kita, seperti menentukan cita-cita, memilih jalan karir, memilih sahabat, sampai memilih pendamping hidup, kita pilih dengan perasaan?

Hal itu juga lah yang menjelaskan kenapa masih banyak diantara kita yang “termakan iklan”. Secara logika memang kita seharusnya membeli atau memilih sesuatu karena kualitasnya, tapi dengan hebatnya ada pihak pembuat iklan mampu “menyentuh” sisi emosional kita sehingga kita bisa memutuskan untuk membeli produk yang ditawarkan. Beberapa pihak yang menyadari pengaruh emosional ini, dengan cerdas mampu mempengaruhi kita tanpa kita sadari, mungkin banyak juga kasus yang serupa selain kasus iklan produk ini. Jadi masih beranggapan logika mengalahkan segalanya?

Terlepas dari mana yang lebih penting, jelas sekali kalau kecerdasan emosi ini sangat penting. Kalau kita tidak mau “dikendalikan” dengan seenaknya oleh orang lain, ayo kita mulai belajar meningkatkan kecerdasan emosional kita 🙂

*nantikan kelanjutan dari seri ini…