Category Archives: Intrapersonal

Perang Saudara Terus, Gimana Mau Maju?


okkypratama-indonesiaSiapa sih diantara kita orang Indonesia yang tidak pernah mengkritik atau mengeluhkan kondisi negerinya sendiri? Tingkat korupsi tinggi, kemiskinan dimana-mana, pendidikan kurang maju, dll. Jadi sebenarnya sudah jelas apa yang kita semua inginkan. Kita ingin Indonesia menjadi negara terpandang di mata Internasional dengan segala kelebihan dan prestasi yang kita miliki. Tapi coba perhatikan dulu beberapa quotes yang menurut saya menarik:

  • Gimana Indonesia mau maju, di dalam negeri sendiri saja sudah saling sikut. – lupa siapa
  • Satu lagi yang bikin gemeez, #Kita (orang Indonesia) rada ga suka dengan perbedaan pendapat. Helloo..beda pendapat biasa aja kali.. jangan jadi musuhan! – Handry Satriago
  • Negara kita ini lagi berkembang lho, kita jangan terkotak-kotak, mana karya yg lebih bagus ato gimana, kita masih berkembang, kita harus saling support – Herjunot Ali

Sampai sini saja, lanjutannya sudah saatnya kita pikirkan masing-masing…

*gambar diambil dari: http://www.patchdepot.co.uk/

Level Belajar


okkypratama-learngambar diambil dari: http://www.bbhc.org/

“Manusia itu harus terus belajar sejak nafas pertamanya dan baru berhenti pada nafas terakhir”

“Stay foolish, stay hungry” – Steve Jobs

Ada sekian banyak quotes atau perintah yang menganjurkan bahkan mengharuskan kita untuk belajar. Tetapi mengapa kita harus belajar? Apa sebenarnya yang dimaksud dengan belajar? Bagaimana cara belajar? Saya sendiri belum bisa menjawab semua pertanyaan itu dan sampai sekarang masih belajar untuk menemukan jawabannya.

Belajar bisa tentang apapun dan dimanapun, belajar matematika di sekolah, belajar memasak di tempat kursus, belajar menendang bola di lapangan, dst. Terlepas dari tentang apa dan dimana, belajar sendiri memiliki beberapa tingkatan berdasarkan kedalamannya (pendapat pribadi).

  • okkypratama-studyLevel 1. Belajar yang dalam Bahasa Inggris disebut study, yang secara umum berarti mendedikasikan waktu untuk usaha memperoleh ilmu atau pengetahuan. Belajar jenis ini lah yang sering kita lakukan semasa di bangku sekolah dengan cara membaca buku dan latihan soal.
  • Level 2. Belajar yang disebut juga dengan istilah learn yang maknanya proses memperoleh ilmu pengetahuan, bisa dilakukan melalui banyak cara, belajar (study), praktek, melihat, dll. Berbeda dengan level 1 yang menekankan pada proses, level 2 ini berfokus pada hasil yang didapatkan, yaitu berupa ilmu pengetahuan. Kalau study adalah mengenai dedikasi waktu, learn adalah soal memperoleh ilmu pengetahuan. Contoh kalimat berikut mungkin sedikit menggambarkan perbedaannya: “I’ve been studying all day but I don’t think I’ve learned anything”.
  • Level 3. Belajar yang mengubah sikap. Menurut saya ini level tertinggi dari pencapaian belajar, dimana seseorang tidak hanya sekedar mengetahui tetapi juga bisa menentukan sikap atas pengetahuannya yang baru. Contohnya, orang yang mengetahui bahwa olahraga penting untuk kesehatan memutuskan untuk berolahraga secara rutin tiap minggu. Tentu saja ketika mendapatkan ilmu baru tidak semua harus kita setujui, dipikirkan terlebih dahulu kebenaran dan manfaat dari ilmu tersebut. Contohnya, jika ada yang bilang bahwa untuk menjadi orang yang sukses, biasakan membuat jadwal yang rinci setiap harinya, kita mungkin mengetahui hal tersebut tetapi boleh saja jika mengambil sikap untuk tidak melakukannya karena tidak sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut.

Perenungan mengenai level belajar ini terinspirasi dari obrolan saya dengan teman se-rumah kontrakan ketika menonton sekilas kongres partai Nasdem. Pada acara tersebut Pak Surya Paloh sebagai ketua umum sedang menyampaikan pidatonya yang bertemakan kebangsaan.

O: Wah, Surya Paloh ini jago juga ya pidatonya, setidaknya lebih bagus dari Pak SBY

F: Iya

O: Gimana ya latihannya sebelum pidato?

F: Kalo itu udah karakter, bukan cuma hasil latihan.

Dari obrolan itu, saya baru menyadari bahwa sebenarnya tingkatan tertinggi seseorang yang berilmu adalah ketika ilmunya tergambar dari sikap dan perilakunya. Pada kasus Pak Surya Paloh, ilmu dan pemahaman beliau mengenai kebangsaan benar-benar sudah mendarah daging karena itu lah beliau dapat berpidato dengan lancar dan berapi-api (perlu dicatat, saya bukan fans beliau, hehe). Mungkin itu juga yang berlaku pada Pak Soekarno dulu yang dijuluki orator ulung. Sebenarnya bukan semata-mata karena beliau pandai berbicara, tetapi juga karena memang apa yang beliau bicarakan benar-benar dijiwai.

Kalau tingkatan tertinggi orang yang belajar adalah perubahan sikap, maka berbahagia lah jika ada yang bilang, “kamu berubah, sudah bukan kamu yang dulu”. Jawab saja, “iya lah, aku kan belajar” ;p

 *referensi : http://english.stackexchange.com/questions/19533/is-there-any-subtle-difference-between-to-study-and-to-learn

Sistem Pendidikan FInlandia Nomor Satu di Dunia


okkypratama-finland-educationgambar diambil dari: http://edudemic.com/

Banyak pihak mengganggap belum mampunya Indonesia menjadi salah satu negara yang menjadi leader di dunia global dikarenakan masih buruknya sistem pendidikan di negeri ini. Kalau memang sistem pendidikan di Indonesia buruk, lalu seperti apa yang dianggap baik?

Kita bisa mengambil contoh dari negara Finlandia yang mendapat predikat Best Education In The World menurut global report dari Pearson, sebuah education firm ternama di dunia. Berikut fakta-fakta sistem pendidikan di Finlandia yang menjadikannya nomor satu se-dunia:

  1. Anak-anak belum boleh sekolah sebelum berumur 7 tahun. Hal ini dikarenakan sebelum usia tersebut masih waktunya anak-anak bermain dan mengasah kreativitas. Selain itu, hal tersebut juga untuk memastikan bahwa anak-anak sudah siap menerima pengajaran.
  2. Anak-anak tidak diberikan penilaian atau diukur pada 6 tahun awal pendidikannya.
  3. Hanya ada satu ujian standarisasi yang diambil pada usia 16 tahun.
  4. Tidak ada pemisahan antara kelas unggulan dan bukan unggulan.
  5. 66 persen siswa berhasil melanjutkan ke jenjang perkuliahan.
  6. 93 persen orang Finlandia minimal lulusan high school (setara SMA).
  7. Guru di Finlandia minimal bergelar Master.
  8. Guru hanya dipilih dari 10 persen lulusan tertinggi.
  9. Guru merupakan pekerjaan terhormat (setara dokter dan lawyer).
  10. Guru merancang sendiri kurikulum yang akan diajarkan
  11. Tidak membebani siswa dengan jam sekolah yang tinggi dan pekerjaan rumah yang banyak.
  12. Satu kelas berisi maksimal 20 sisswa yang dilayani 3 orang guru.
  13. Pendidikan gratis 100 persen, termasuk di sekolah swasta.

Bagaimana dengan Indonesia? Silakan lihat sendiri di lingkungan sekitar 🙂

Sumber:

http://www.businessinsider.com/finlands-education-system-best-in-world-2012-11?op=1

http://www.huffingtonpost.com/2012/11/27/best-education-in-the-wor_n_2199795.html

http://metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/04/16/149252/Finlandia-Punya-Cara-Bikin-Siswa-Cerdas/7

Komik “Sports”


Komik merupakan salah satu bentuk hiburan yang paling disukai, tidak hanya oleh anak-anak, saya pun yang sudah bukan anak-anak juga masih suka. Saking sukanya, mungkin ada banyak diantara kita yang membaca sebuah judul komik berulang-ulang. Ada komik yang pernah ditamatkan waktu kecil, sekarang dibaca lagi, yah, bisa jadi sebuah bentuk nostalgia. Komik yang saya baca kebanyakan seputar silat, komedi, dan sports. Komik sebenarnya bukan hanya sebuah bentuk hiburan karena gambarnya bagus atau ceritanya menarik, tetapi selain itu biasanya ada nilai-nilai(value) tertentu dalam cerita komik yang ternyata tidak kita sadari ketika membacanya waktu kecil dulu.

Khusus untuk komik ber-genre sports, ada tiga komik yang menarik buat saya. Selain karena ceritanya, menurut saya ketiganya membawa nilai-nilai yang sama yaitu mental “hate to lose”.

  1. okkypratama-slamdunkSlam Dunk. Mengisahkan seorang berandalan bernama Hanamichi Sakuragi yang tiba-tiba “terjerumus” ke tim basket di sekolahnya, padahal sebelumnya dia tidak pernah bermain basket sama sekali. Dengan modal sifat tidak mau kalahnya terutama pada teman satu tim sekaligus pesaingnya, si jenius Rukawa, Sakuragi tidak menyerah untuk belajar dan bermain basket, selanjutnya silakan baca sendiri.
  2. okkypratama-whistleWhistle!. Tokoh utama dalam komik ini bernama Sho Kazamatsuri, seorang anak SMP yang menyukai sepak bola namun gagal masuk ke tim sepak bola di sekolah unggulan karena skill-nya yang kurang. Meskipun demikian, dengan sifatnya yang mau belajar (benar-benar super mau belajar) dan dukungan teman-teman se-timnya, Sho pun berkembang, dan selebihnya silakan baca.
  3. Hungry Heart-Wild Striker. Komik yang satu ini sebenarnya tidak sebagus dua komik diatas menurut saya, tetapi nilai yang dibawa yaitu pantang menyerah dan tidak mau kalah juga tergambar dari tokoh utamanya, Kanou Kyosuke. Dalam sepak bola, Kyosuke banyak mendapat tekanan karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Seisuke yang dalam komik ini bisa bermain untuk AC Milan.

Saya sepakat dengan nilai yang diangkat, bahwa sesungguhnya kesuksesan hanya lah perkara mental. Memang saya belum melakukan atau mencari hasil riset soal ini, tapi dari fenomena lingkungan sekitar yang saya amati tampaknya berkata demikian. Seorang anak yang berhasil meraih ranking  satu misalnya, terlepas dari anak itu jenius atau tidak, semuanya berawal dari drive yang cukup kuat dari dalam dirinya untuk mendapat nilai sebaik-baiknya. Mulai dari kemauan belajar sebagai persiapan, kesiapan untuk berpikir keras selama ujian, dan tentunya berdoa tidak akan dilakukan kalau dia tidak benar-benar punya semangat.

Mungkin ada juga contoh di sekitar kita orang-orang yang dianggap jenius. Contoh nyata terjadi semasa sekolah, ketika ada orang yang tampaknya malas, di kelas sering tidur, tetapi tiba-tiba nilanya tertinggi di kelas. Kita sebagai temannya hanya bisa memaklumi dan berkata “yah, dia kan memang gifted”. Tapi kok secara pribadi saya tidak percaya kalau mereka bisa seperti itu tanpa belajar, pasti dalam kesuksesannya ada peran dari perasaan tidak mau kalah yang berlanjut pada usaha.

I hate to lose more than I love to win. (Jimmy Connors, American Tennis Player)

Ide/Ilham


plainpapergambar diambil dari: http://wallpoper.com/

Bagaikan pesawat kertas yang terbang tidak beraturan kesana kemari, kemudian secara kebetulan menabrak kening. Seperti itu lah kira-kira bagaimana sebuah Aha! moment terjadi, ketika benda “gaib” yang kita kenal dengan nama ide, ilham, atau pencerahan.

Berawal dari perenungan pribadi saya sebelum khutbah shalat Jumat kemarin(25/1/13). Waktu saya berangkat lebih awal jadi masih ada beberapa lama sebelum adzan. Setelah shalat tahiyyatul masjid sebentar, saya pun langsung melanjutkan dengan duduk di masjid sambil merenung. Di tengah renungan saya itu tiba-tiba saja muncul ide tentang sebuah acara yang sedang saya persiapkan. Ritual “merenung” sebelum shalat jumat ini lumayan sering saya lakukan karena saat itu lah hampir selalu saja ada ide yang muncul. Berhubung momennya menjelang shalat jumat, iman lagi meninggi, saya baru sadar bahwa rasanya belum pernah mengucap syukur Alhamdulillah setiap kali saya mendapat ide baru. Padahal apa pun yang terjadi pada kita itu terjadi atas seizin Yang Maha Kuasa, termasuk juga ketika sebuah inspirasi terlintas di kepala out of nowhere.

Berapa banyak diantara kita yang menganggap dirinya kreatif dan banyak ide? Pernah kah bersyukur atas ide itu?

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

 

Membelanjakan atau Menabung?


*tulisan ini murni pendapat pribadi saja, tanpa dasar dan belum dibuktikan kebenarannya, hehe

gambar diambil dari : http://wikinut.com

“Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan dengan pertengahan dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga pada hari ia miskin dan membutuhkannya.” (HR. Ahmad dan Muslim)

Semakin lama gejala hedonisme semakin terlihat di masyarakat. Kebiasaan membelanjakan uang dengan seenaknya sedang mewabah, terutama di kalangan anak-anak muda, mungkin saja kita pun sudah menjadi korban gaya hidup yang sedang nge-tren ini. Tanpa disadari sering sekali kita membelanjakan uang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu. Seperti kata Ibu Tri Mumpuni pada acara TEDx Bandung, “Kita sering sekali melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu(termasuk membelanjakan uang), hanya untuk memberi impresi pada orang-orang yang sebenarnya tidak penting, yang kita sendiri pun sebenarnya tidak peduli dengan mereka”.

Kalau generasi penerus kita seperti ini, lalu siapakah yang harus bertanggung jawab? Generasi orang tua kah yang salah mendidik?

Bicara soal pendidikan, saya yakin banyak sekali keluarga-keluarga yang mendidik anak untuk menabung sejak dini. Pendidikan menabung mulai dari yang sederhana seperti menabung sisa uang saku di celengan, di bank, sampai menabung dalam bentuk dinar dan dirham. Di sekolah pun anak sudah dibiasakan untuk menabung melalui tabungan rutin yang biasanya disisipkan bersama pembayaran SPP-nya.

Lalu bagaimana hasilnya? Begini-begini saja. Salah kah pendidikannya?

Tidak ada yang salah dengan menabung. Banyak juga anak-anak muda yang ahli dalam menabung, terutama ketika sedang menginginkan sesuatu untuk dibeli. Saking ahlinya banyak juga yang sampai mengurangi makan yang tadinya 3 kali menjadi 2 kali sehari, sering-sering makan mi instan, bahkan kalau perlu mencari-cari event yang ada makanan gratisnya, hehe. Sama diri sendiri saja pelit, apalagi sama orang lain. Sayangnya ketika uang terkumpul, ternyata uang tersebut tidak jarang dibelanjakan lagi-lagi untuk sesuatu yang tidak perlu.

Jadi bagaimana dong?

Mari kita lihat kembali hadist yang tertulis diawal, yang disebut diawal adalah membelanjakan, sedangkan menabung(menyisihkan) baru disebut kemudian, itu pun ketika ada kelebihan. Pantas dicoba oleh orang tua dan sekolah-sekolah di masa sekarang untuk mengubah cara pendidikan soal uang. Ajarkan bagaimana membelanjakan uang dengan bijak daripada bagaimana cara menabungkan uang yang dimiliki. Bukan berarti menabung salah, bukan berarti melarang untuk menabung, tapi jika pendidikan dilakukan dengan benar, bukankah menabung hanya salah satu bagian dari kebijaksanaan dalam membelanjakan uang?

Some People Live


Some people live for the fortune

Some people live just for the fame

Some people live for the power, yeah

Some people live just to play the game

 
Some people think

That the physical things

Define what’s within

And I’ve been there before

That life’s a bore

So full of the superficial

Mungkin kalau teman-teman sudah tahu, kata-kata di atas ini bukan buatan saya, hehe. Kata-kata diatas berasal dari lirik lagu yang dinyanyikan oleh Alicia Keys berjudul “If I Ain’t Got You”. Ya memang lirik diatas tidak lengkap, tapi yang saya cantumkan diatas ini adalah bagian yang menarik untuk saya pribadi. Soal maknanya? Rasanya kali ini saya tidak akan membahasnya karena lebih baik kita renungkan masing-masing 🙂